Komoditas Anjlok, Laba BUMN Tambang Berguguran - Antam Raih Laba Rp 627,77 Miliar

NERACA

Jakarta – Prestasi BUMN pertambangan mencatakan penurunan kinerja pada kuartal III-2012. Hal ini bisa dilihat dari perolehan laba yang turun, mulai dari laba PT Timah Tbk (TINS) yang anjlok 57% dari Rp 860 miliar menjadi Rp 370 miliar dan laba PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga turun 5,33%. Kini menyusul Timah dan Bukit Asam, ada PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang juga mencatatkan perolehan laba bersih kuartal ketiga 2012 turun menjadi Rp627,77 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,55 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (31/10). Selain itu, perseroan juga mencatatkan laba bersih per saham dasar turun menjadi Rp65,88 dari periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp163,60.

Uuntuk penjualan bersih, pihak manajemen menyebutkan juga mengalami penurunan sebesar 8,74% menjadi Rp7,13 triliun sampai dengan kuartal ketiga 2012 dibandingkan periode sama sebelumnya Rp7,81 triliun. Sementara untuk beban pokok penjualan perseroan mengalami peningkatan menjadi Rp5,72 triliun dari periode sama sebelumnya Rp5,23 triliun.

Selain itu untuk laba kotor perseroan tercatat mengalami penurunan menjadi Rp1,41 triliun hingga kuartal ketiga 2012 dari periode sama sebelumnya Rp2,57 triliun. Beban usaha perseroan meningkat menjadi Rp785,67 miliar dari periode sama sebelumnya pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp646,77 miliar. Dengan begitu laba usaha perseroan pun juga mengalami penurunan menjadi Rp626,14 miliar hingga kuartal ketiga 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,93 triliun.

Target Akhir Tahun

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang Tedy Badrujaman mengatakan, pendapatan perseroan pada semester kedua 2012 akan lebih rendah dari realisasi pendapatan pada semester pertama yang sebesar Rp 4,49 triliun. Hal tersebut menurut dia dikarenakan turunnya harga nikel.

Pada semester pertama 2012, bijih nikel berkontribusi 27% atau setara Rp 1,3 triliun dari total penjualan Aneka Tambang Rp 4,49 triliun. Kontribusi bijih nikel, lanjut dia merupakan terbesar kedua setelah penjualan emas. “Dengan turunnya harga nikel, kami memprediksikan kinerja tahun ini akan lebih rendah dibandingkan tahun 2011.” ujarnya

Menurut Tedy, pada semester pertama perseroan melakukan langkah efisiensi operasional melalui program CRP (cost reduction program) dan berhasil mencatat efisiensi biaya operasional Rp 7,1 miliar dari total biaya operasional Rp 469 miliar.

Tren penurunan harga di sektor pertambangan yang berpengaruh terhadap kinerja emiten tambang hingga akhir 2012 juga diungkapkan Analis PT Trust Securities, Reza Priyambada. Dia mencontohkan, harga-harga komoditas yang mengalami kenaikan, tentu akan mempengaruhi kinerja emiten pertambangan, di mana nilai ekspornya pasti menurun.

Sementara untuk pergerakan saham-saham pertambangan pada kuartal ketiga 2012, menurut dia diprediksikan masih bergerak secara variatif. “Seandainya terdapat pergerakan naik, hal itu tidak terlalu signifikan.” ujarnya.

Menurut dia, faktor eksternal atau secara makro ekonomi, baik global maupun dalam negeri, jelas mempengaruhi pergerakan saham-saham batubara. “Kalau pengaruh dunia internasional, ya, krisis ekonomi Eropa akan mempengaruhi kinerja pertambangan, dan secara langsung atau tidak, akan mempengaruhi kinerja saham,” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Danai Ekspansi Bisnis Protelindo - TOWR Raih Pinjaman MUFG US$ 508,58 Miliar

NERACA Jakarta- Dalam mendukung pengembangan bisnisnya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) belum lama ini mendapatkan pinjaman dari MUFG Bank…

Diskominfo Depok Raih ISO 9001-2015

Diskominfo Depok Raih ISO 9001-2015 NERACA Depok - Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota…

Pacu Pertumbuhan Kinerja - Wismilak Raih Izin Kawasan Berikat Surabaya

NERACA Jakarta – Emiten produsen rokok, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menyambut baik ketetapan pemerintah yang memberikan izin atas…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pemda Kalsel Tertarik Untuk Obligasi Daerah

NERACA Banjarmasin -Wakil Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Rudy Resnawan menyatakan tertarik dengan potensi pengembangan obligasi daerah sebagai sumber pendanaan untuk…

URBN Bidik Rp 650,3 Miliar Private Placement

Danai pengembangan bisnisnya, PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) berencana menerbitkan 320,366 juta lembar saham baru atau 10% dari modal…

Aksi Ambil Untung Hambat Penguatan IHSG

NERACA Jakarta  -Mengakhiri perdagangan Selasa (19/2) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tipis dipicu…