Antara Angkutan Publik dan Infrastruktur Jalan

Oleh Bani Saksono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Dalam berbagai kesempatan saat berkampanye memperebutkan kursi DKI-1, Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi, menyatakan, untuk mengurai kemacetan di Jakarta, lebih baik membenahi sistem dan manajemen angkutan umum massal (public transportation) daripada membangun infrastruktur jalan untuk mengurangi rasio pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dan kapasitas jalan raya.

Itu sebabnya, kata dia, membenahi transportasi umum massal lebih mendesak dilakukan dibandingkan membangun enam ruas jalan tol dalam kota (JTDK), walaupun proyek itu sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Soal itu, Jokowi sependapat dengan sejumlah pakar dan pengamat masalah transportasi dan perkotaan.

Sebut saja di antaranya Nirwono Joga, pakar tata ruang yang juga konsultan di Kementerian PU serta Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas.

Keduanya sama-sama menyatakan, membangun jalan layang dan jalan tol di Jakarta tak akan menyelesaikan masalah kemacetan. Justru, akan makin banyak kendaraan bermotor pribadi melaju bebas hingga memicu kemacetan di ujung jalan tol tersebut.

Sebaliknya, kata keduanya, jika yang dibangun adalah infrastruktur dan jaringan transportasi umum massal yang manusiawi, nyaman, aman, terintegrasi, maupun harganya yang terjangkau, diyakini akan ada banyak orang yang memarkir mobilnya di sekitar halte atau stasiun, kereta. Selanjutnya mereka akan membeli tiket busway Transjakarta yang harganya hanya Rp 3.500.

Selain busway atau bus rapid transit (BRT), Pemprov DKI Jakarta juga sedang mengembangkan model lainnya, yaitu mass rapid transit (MRT), waterway, dan monorel. Semuanya terhimpun dalam Pola Transportasi Makro (PTM). Dua model yang terakhir, yaitu waterway dan monorel, mangkrak. Waterway gagal dioperasikan di Kanal Banjir Barat (KBB) karena debit airnya tak memadai.

Sedangkan tiang-tiang monorel mangkrak karena pengembangnya, yaitu PT Jakarta Monorail (JM) tak mampu menghimpun modal untuk menggarap proyek tersebut bernilai triliunan rupiah. Pihak PT Kereta Api Indonesia (PT KA) juga sudah merevitalisasi jaringan KRL-nya dengan model loop line dan commuter line (CL).

Agar tak mubazir, pemerintah pusat maupun Pemprov DKI berminat melanjutkan proyek monorel. MRT nasibnya tak separah waterway dan monorel. Sebab, proyek yang didanai oleh Japan International Corporation Agency (JICA) belasan triliun rupiah itu sudah mulai digarap sejak era Gubernur Fauzi Bowo. Namun, Gubernur Jokowi mencium aroma tak sedap dalam proyek itu karena harga proyeknya kemahalan. Karenanya, pihak komisaris dan direksi PT MRT Jakarta diminta menjelaskan kembali fisibilitas proyek itu.

Gubernur tak peduli dengan ancaman denda Rp 800 juta per hari jika proyek MRT molor dari jadwal. Dalam beberapa kali pertemuan, direksi dan komisaris PT MRT Jakarta tak mampu menjelaskan dan meyakinkan bahwa proyek peninggalan Gubernur Fauzi Bowo itu memang visibel.

BERITA TERKAIT

Pembangunan Infrastruktur untuk Indonesiasentris, Bukan Pencitraan

  Oleh: Winarto Ramadhan, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UIT Makassar   Pemerintahan Jokowi-JK sudah memasuki ambang masanya. Empat tahun pemerintahan sudah…

Presiden Serahkan SK Perhutanan Sosial di Jabar - Menteri LHK: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Mengurangi Angka Kemiskinan

Presiden Serahkan SK Perhutanan Sosial di Jabar Menteri LHK: Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi dan Mengurangi Angka Kemiskinan NERACA Jakarta…

Banyak Distempel dan Dicoret, BI Imbau Masyarakat Jaga Rupiah

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menghimbau masyarakat untuk senantiasa menjaga dan merawat uang rupiah dengan…

BERITA LAINNYA DI

Sepanjang Oktober, All New Honda Brio Terjual 6.703 Unit

Setelah memulai pengiriman perdananya pada tanggal 13 Oktober 2018, All New Honda Brio meraih penjualan sebanyak 6.703 unit sepanjang bulan…

Volkswagen-Ford Berunding Mobil Listrik dan Swakemudi

Volkswagen AG dan Ford Motor Co tengah melakukan pembicaraan terkait kemungkinan kerjasama untuk mengembangkan kendaraan swakemudi dan listrik dalam sebuah…

Pasar Mobil Premium RI Diyakini Bakal Berkembang

BMW Group Indonesia merasa optimistis pasar mobil kelas premium akan terus berkembang di Tanah Air. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi…