Produksi Biofuel Masih Jauh Dari Kebutuhan Domestik

NERACA

Jakarta – Seiring penggunaan energi fosil yang akan habis, pemerintah berusaha mengembangkan energi alternatif lainnya. Potensi pasar industri bahan bakar nabati (biofuel) nasional masih terbuka. Sebab, jumlah produksi biofuel nasional masih jauh dari kebutuhan pasar domestik.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wachyudi menilai besarnya potensi pasar tersebut membuat industri biofuel layak dikembangkan. "Masih feasible dikembangkan di sini walaupun sekarang masih ada subsidi," kata Benny saat dihubungi Neraca, Rabu (31/10).

Menurut dia, saat ini kapasitas produksi biofuel nasional mencapai 4,5 juta kiloliter per tahun. Dengan angka itu, produsen nasional hanya memenuhi 12 % dari total kebutuhan domestik. Meskipun kebutuhan ekspor tinggi, konsumsi biofuel dalam negeri bisa ditingkatkan melalui regulasi. "Sekarang tinggal diwajibkan saja bahan bakar nanti harus dicampur dengan biofuel," katanya.

Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan bahwa konsumsi biofuel nasional saat ini masih didominasi PT Pertamina. Perseroan membutuhkan biofuel guna dialirkan ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Menurut dia, tahun ini kandungan biofuel dalam solar terus meningkat menjadi 7,5 % dari 5 % pada 2011. Penyerapan biofuel untuk bahan bakar minyak ditargetkan naik dari 360 ribu kiloliter tahun lalu menjadi 700 ribu kiloliter pada 2012.

Hingga September 2012, realisasi penyerapan biofuel untuk bahan bakar minyak baru sebesar 480 ribu kiloliter. "Kami mengapresiasi rencana pemerintah yang meningkatkan penggunaan biosolar 2 persen, terutama untuk kendaraan batu bara di Kalimantan," ungkap dia.

Dia menjelaskan, akibat minimnya minat biofuel di dalam negeri, banyak pengusaha lebih memilih ekspor. Tercatat, ekspor biofuel tahun lalu sebesar 1,07 juta metrik ton, dari produksi nasional 4 juta kiloliter. "Produsen biofuel lebih memilih ekspor karena bisa mendapat harga lebih tinggi," jelasnya.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan bahwa optimalisasi konsumsi biofuel akan mendongkrak harga minyak kelapa sawit mentah (CPO). "Pemanfaatan biofuel dalam negeri akan mendorong naiknya harga CPO internasional juga," katanya.

Menurut dia, pemrosesan biofuel domestik masih sangat minim. Sebab, dengan kapasitas terpasang yang mencapai 4,5 juta kiloliter, yang terpakai baru 1,2 juta kiloliter. Minimnya pengolahan biofuel ini, kata dia, disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang mensubsidi bahan bakar minyak. Sehingga biofuel sulit bersaing dengan bahan bakar fosil. Akibatnya, konsumsi bahan bakar nabati nasional juga minim. "Kami mendesak pemerintah melalui kementerian terkait mendorong pemanfaatan biofuel melalui berbagai regulasi," paparnya.

Deputi Kepala BPPT BIdang Teknologi Informasi, Energi dan Material (TIEM), Dr Unggul Priyanto merekomendasikan skenario perkebunan energi yang diharapkan mampu menjamin ketersediaan bahan bakar nabati (biofuel) untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. "Kebun energi ini misalnya perkebunan sawit yang dikhususkan untuk bahan baku biodiesel, tidak boleh untuk keperluan lainnya seperti komoditas ekspor," kata Unggul.

Dia menyatakan prihatin, produksi biodiesel saat ini hanya sekitar 10 % saja dari kapasitas terpasang pabrik biodiesel yang mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun karena pengusaha CPO (minyak sawit mentah) lebih senang mengekspornya ke pasar internasional terkait harganya yang sedang bagus Rp8.500 per liter.

Kondisi yang lebih parah, lanjut dia, dialami oleh bioethanol yang hanya diproduksi 1 % dari kapasitas produksinya yang sekitar 300 ribu kiloliter per tahun, berhubung bahan bakunya berupa singkong, tebu dan sejenisnya lebih digunakan sebagai bahan pangan.

Menurut Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT Dr Adiarso, wilayah Indonesia sebenarnya sangat luas dan potensial dikembangkan menjadi area industri biodiesel yang berkelanjutan dan terintegrasi dari industri hulu sampai ke hilir.

Saat ini lahan sawit sudah mencapai 8,4 juta ha dari keseluruhan potensi seluas 45 juta ha, padahal produksi CPO saat ini sudah berlebih yaitu sekitar 25 juta ton per ha, ujarnya. "Seandainya 0,5% atau sekitar sejuta ha saja dijadikan perkebunan energi dengan menanam kelapa sawit, maka bisa diproduksi biodiesel sebanyak 75 ribu barrel per hari, suatu jumlah yang sangat besar, termasuk untuk kebutuhan B10 (campuran 10% biodiesel dan 90% solar) atau bahkan B20 sekalipun," katanya.

Melalui kebun energi, lanjut dia, juga dimungkinkan dikembangkan pula beberapa jenis tanaman lainnya untuk produksi bioethanol seperti singkong, tebu sorgum dan lainnya, tergantung dari kecocokan lahan. Pada prinsipnya, ujar dia, perkebunan energi ini merupakan sebuah entitas bisnis perkebunan milik pemerintah yang nantinya menjalankan usaha khusus dalam penyediaan energi bagi masyarakat.

Bila konsep ini berhasil, urainya, sangat dimungkinkan pasokan biofuel akan stabil termasuk harganya yang bisa menjadi cukup murah di bawah harga solar bersubsidi Rp4.500 per liter. "Brazil adalah contoh negara yang berhasil mengembangkan bioethanol dari tanaman tebu. Indonesia seharusnya juga bisa," katanya.

BERITA TERKAIT

Prima Cakrawala Hentikan Kegiatan Produksi - Izin Usaha Industri Ditolak

NERACA Jakarta – Lantaran pembangunan pabrik berada di kawasan pemukiman atau tidak memunuhi syarat yang diperuntukannya, akhirnya izin operasional pembangunan…

Ada Itikad Baik dari Bara Jaya Internasional - Sampaikan Rencana Bisnis

NERACA Jakarta – Tidak mau bernasib yang sama dengan PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB) yang efektif didelisting oleh…

Masalah Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Yang Dominan Pasangan Menikah Bercerai

Masalah Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Yang Dominan Pasangan Menikah Bercerai NERACA Jakarta - Mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…

Penanaman Modal - Industri Korea Selatan Kuatkan Komitmen Investasi US$ 446 Juta

NERACA Jakarta – Sejumlah industri manufaktur Korea Selatan dari berbagai sektor, menyatakan minatnya untuk segera menanamkan modalnya di Indonesia. Komitmen…