Pengembangan Shale Gas Tidak Mudah - Potensi Cadangan Besar

NERACA

Jakarta - Potensi shale gas Indonesia sangat tinggi, diperkirakan mencapai 574 triliun kaki kubik atau TSCF. Lebih besar jika dibandingkan gas metana batu bara (Coal Bed Methane) yang hanya 453,3 TSCF dan gas bumi 334,5 TSCF. Cekungan terbanyak berada di Sumatera, yaitu berjumlah tiga cekungan, seperti Baong Shale, Telisa Shale, dan Gumai Shale.

Sementara itu, di Pulau Jawa dan Kalimantan, shale gas masing-masing berada di dua cekungan. Selanjutnya, di Papua, berbentuk klasafet formation. Shale gas bisa menjadi salah satu sumber energi yang paling penting di tahun-tahun mendatang, dan sebagaimana dengan sumber energi lainnya shale gas memiliki keunggulan dan kelemahan.

Pengamat energi dari ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, mengenai potensi shale gas, Indonesia tak diragukan lagi. Namun, untuk mengeksploitasi masih butuh waktu. Sebab, tingkat kerumitan eksploitasi shale gas masih jauh lebih sulit dibandingkan pada gas konvensional dan CBM. "Padahal, gas konvensional dan CBM di Indonesia masih melimpah," katanya pada acara Seminar Penguatan Industri Gas untuk Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional, Rabu (31/10).

Shale gas juga dapat menurunkan biaya energi karena produksi shale gas kemungkinan akan menyebabkan penurunan harga gas alam secara signifikan. Produksi shale gas yang besar juga akan membantu meningkatkan keamanan energi, dan membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil asing yang mahal. Shale gas juga bisa menjadi pilihan energi yang lebih bersih bagi negara-negara berkembang yang saat ini sangat bergantung pada batubara, sumber energi yang paling kotor.

Peluang Investasi

Pemerintah siap melakukan tender terhadap sejumlah blok shale gas pada November ini. Sekitar 60 perusahaan telah menyatakan minatnya untuk menangkap peluang investasi shale gas itu. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Evita Herawati Legowo mengemukakan pemerintah kini sedang memproses perangkat pendukung bagi tender shale gas itu.

“Kami ingin secepatnya melakukan lelang shale gas itu. Bagi Indonesia, shale gas merupakan sesuatu hal yang baru. Namun, kami harus menangkap peluang itu di tengah-tengah besarnya minat investor untuk melakukan investasi di sektor itu,” ujarnya.

Pemerintah pun telah mengembangkan 4 joint study shale gas, yaitu PT Pertamina di Sumatra bagian Utara, Konsorsium Pogi-Bukit Energy juga di Sumatra bagian Utara, Konsorsium Central Sumatra Energy & Indrillco Bakti di Sumatra Tengah, dan PT MIT Ivel Geoscience-Central Sumatera Energy di Sumatra Tengah.

Saat ini, biaya ekstraksi shale gas lebih tinggi dibandingkan dengan biaya untuk ekstraksi gas konvensional atau batubara, tetapi kemajuan lebih lanjut teknologi pengeboran dapat membantu mengurangi biaya ekstraksi shale gas. Sehingga, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa shale gas akan menjadi salah satu faktor penentu di pasar energi global, tetapi potensinya tidak bisa diragukan lagi.

BERITA TERKAIT

Mendes PDTT - Kesalahan Administrasi Dana Desa Tidak Didiskriminasi

Eko Putro Sandjojo Mendes PDTT Kesalahan Administrasi Dana Desa Tidak Didiskriminasi Banda Aceh - Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan…

Waspada Potensi Empat Bencana di Sulsel

"Peringatan waspada bencana", kalimat ini tentunya tidak asing bagi kita di Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Selatan setiap menjelang pergantian musim.…

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Himperra) Endang…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Indonesia Latih Petani Hortikultura Timor-Leste

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memberikan pelatihan teknis hortikultura kepada petani Timor Leste di desa Oesilo, Oecussi untuk membangun ekonomi…

Pungutan Ekspor Sawit Dihentikan, Program Jalan Terus

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tetap menjalankan programnya, meski pemerintah menghentikan sementara dana pungutan ekspor…

Menperin: IKM Makanan dan Tenun Kian Prospektif

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) di Provinsi Riau masih menjadi sektor andalan dalam menunjang roda perekonomian masyarakat…