Meraih Sukses Menggapai Bahagia - Manager House of Ristra Kelapa Gading : Dwisy Herowati

NERACA

Kebahagiaan itu ibarat kemilau pelangi. Dia akan selalu berada diatas kepala orang lain, dan bukan kepala kita sendiri untuk dapat menikmati keindahannya. Demikian ungkap Thomas Hardy, novelis kenamaan asal Inggris di era 1920-an. Prinsip yang dipegang teguh perempuan kelahiran Bandung, 8 Oktober 1975, dalam menjalani aktifitasnya.

Dia adalah Dwisy Herowati, Manager House of Ristra Kelapa Gading. Sosok yang memandang kebahagiaan harus dimulai dengan membahagiakan orang disekitar. Bila Anda tak mampu membuat seseorang tertawa, kata Dwisy akrab ia disapa, “Maka Anda cukup tidak membuatnya menangis,” ujarnya.

Prinsip inilah yang ampuh membawa dirinya menahkodai perusahaan yang kini beromset ratusan juta.

House of Ristra adalah klinik kecantikan yang memberikan layanan perawatan kecantikan dan kesehatan kulit, baik hair treatment, make-up, hingga skin care treatment dibawah pengawasan dan konsultasi medis para dokter yang ahli dibidangnya.

Menurut Dwisy, kebahagiaan para pelanggannya juga bagian dari kebahagiaan segenap awak yang dinahkodainya, “Pelayanan yang baik, hubungan yang harmonis dengan konsumen menjadi kunci keberhasilan kami,” ujarnya. Ia kerap mengingatkan bahwa tersenyum ramah pada para pelanggan adalah sebuah langkah kecil yang memiliki dampak yang luar biasa bagi eksistensi perusahaan yang dikelolanya.

Keramahan kata Dwisy, juga erat kaitnya dengan produk yang ditawarkan Ristra Group. Ia menjelaskan bila semua produk Ristra Group sudah melalui uji klinis, dengan rangkaian penelitian intensif yang canggih dan aman.

“Semua produk kami tidak bisa dipasarkan tanpa diuji klinis dengan standar baku dan tinggi,” ungkapnya, sehingga sangat cocok dengan karakteristik kulit orang Asia, “Bahkan untuk kulit bermasalah dan sensitif sekali pun,” ujarnya menjelaskan produk yang memberi keramahan bagi penggunanya.

Perempuan yang memiliki dua orang putra tercinta yaitu, Bimo Johan Baskara (8) dan Billi Khozin (1), buah pernikahannya dengan Ade Kurniawan ini, menuturkan bila kebahagiaan sebaiknya diawali dari rumah. “Rumah menjadi lingkungan yang ideal memupuk kebahagiaan,” ujarnya. Karena dari sanalah nilai-nilai hidup dibentuk dan diaktualisasikan dalam aktifitas sehari-hari.

Ia berkisah. Sejak berusia 8 tahun, ia sudah ditinggal sang Bunda tercinta. Rangkaian pengobatan yang dilakukan berbulan-bulan di RSPAD Jakarta tak mampu menyelamatkan sang Bunda. Bersama kakak dan dua adik lelakinya yang masih kecil, ia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu.

Sebagai satu-satunya anak perempuan, pekerjaan rumah hingga mengasuh kedua adiknya, beralih padanya. Bahkan pengetahuan seputar perempuan pun, hanya diperoleh dari buku dan majalah yang dibelikan sang Ayah, “A good book is great friend,” ungkapnya mengenang sosok Ayah yang juga telah wafat 3 tahun lalu.

Sikap tegar dan pantang menyerah memang telah membentuk kepribadiannya. Air mata yang tak terbendung bukan lambang kelemahan, kadang ia hadir untuk memurnikan masa lalu menuju kehidupan baru, “Kita tidak dapat pergi dan memperbaiki masa lalu, namun belajar darinya untuk memperbaiki masa depan,” ujarnya berpijak.

Kini melalui rumah tangga yang dibinanya, ia merasakan ketulusan sejati muncul mendukung dirinya agar terus melangkah maju meraih sukses dan kebahagiaan. “Keluarga adalah aset yang tak ternilai, kadang kita tidak menyadari cinta dan kasih sayang mereka demikian sangat besar dari apa yang Anda bayangkan,” ungkapnya tersenyum.

Menurutnya kerukunan dalam rumah tangga bukan sebuah keajaiban yang tiba-tiba muncul. Kerukunan terwujud sebagai hasil usaha dari masing-masing pasangan untuk mau memaklumi dan saling melengkapi kekurangan yang satu dengan yang lain.

“Kerukunan tercipta karena adanya ikatan hati yang saling membutuhkan dan kemauan untuk mengesampingkan emosi dan ego masing-masing,” jelasnya.

Rasa saling membutuhkan dan kemauan, sepatutnya juga membenam dalam rutinitas pekerjaan. Mencintai pekerjaan, jelas Dwisy, mutlak dimiliki semua awak yang dinahkodai, karena dengan kemauan yang kuat maka sekecil apapun kontribusi yang dilakukan akan lebih bernilai dibanding tanpa usaha, “Karena itu berkaryalah dengan cinta. Karena kebahagian ada diantara kita,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Survei: Irjen Fakhrizal Sukses Pimpin Polda Sumatera Barat

Survei: Irjen Fakhrizal Sukses Pimpin Polda Sumatera Barat NERACAJakarta – Tingkat keamanan dan ketertiban masyarakat  di Sumatera Barat menjadi salah…

Ini Alasan Kenapa Makan Cokelat Bikin Orang Bahagia

Di sore hari yang memusingkan, segelas cokelat panas bisa membantu melepaskan segala kepenatan yang mengganggu pikiran. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa…

China Tanda Tangani Pembelian Kelapa Sawit Indonesia

NERACA Jakarta – Beberapa pengusaha China menandatangani kontrak pembelian kelapa sawit dan produk turunannya dari Indonesia senilai 726 juta dolar…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…