Berkiprah Dari Pengalaman Wisata - Direktur PT Indo Travel Tamasya : Indira M Devhi

NERACA

Merancang program wisata yang unik dan menarik sesuai anggaran, waktu dan pilihan tujuan wisata menjadi harapan banyak wisatawan. Harapan inilah mengilhami sosok Indra M Devhi, perempuan kelahiran 15 Maret 1974, bersama kedua saudarinya, Dwi Anisa Prafitria dan Aurandhani Aritsa untuk mewujudkannya.

Dibawah bendera PT Indo Citra Tamasya (ICT) yang didirikan September 2009, harapan itu kini dapat mereka wujudkan. Caranya? Dengan mendesain perjalanan wisata sesuai kebutuhan para wisatawan, baik tujuan, anggaran, waktu, hingga menu yang akan Anda nikmati selama berlibur.

“Standar pelayanan kami sangat tinggi. Dengan demikian akan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi klien selama berwisata bersama kami,” ujar Indra yang akrab disapa Dira ini.

PT Indo Citra Tamasya adalah sebuah boutique travel yang berlokasi di Jakarta yang memfokuskan layanannya pada penyediaan perjalanan wisata muslim ke berbagai negara. “Kami mempunyai manajemen dan tim yang berpengalaman dalam menangani land arrangement untuk inbound dan outbound,” tegas Dira meyakinkan.

Begitu pun dalam melayani group tour incentive maupun travel agent, Ia mencontohkan beberapa perusahaan/korporasi yang sudah menjadi langganan ICT, seperti Telkom, HSBC, Departemen Perhubungan, Departemen Migas, Bank BNI, dan lainnya. “Kami mencoba mendeteksi dan menangkap apa keinginan para klien, karena kami pun senang melakukan trip dan berwisata,” ujar Dira.

Tiga bersaudari pasangan Tonny Djaya Laksana dan Ratna Irmawati memang sudah dikenalkan dunia wisata sejak kanak-kanak. Sejak kecil, kata Dira, ia bersama kedua saudarinya kerap diajak Papa mengunjungi berbagai tempat wisata di Indonesia, “Hingga menginjak remaja, baru Papa mengajak kita melancong ke luar negeri,” ujarnya.

Pengalaman demi pengalaman inilah yang membawa ketiga perempuan berdarah Sunda dan Jawa memutuskan mendirikan sebuah perusahaan bertitel boutique travel.

Karena pengalaman itu, ungkap Dira, kami memahami mana sisi lemah dan sisi positif yang harus ditingkatkan, sehingga para penggunan jasa travel memperoleh kepuasan selama menggunaka jasa travel.

Dan kata boutique sendiri dimaknai sebagai upaya mereka menangkap keinginan klien untuk berwisata sesuai kehendaknya, “Layaknya sebuah boutique, kita akan memberi perhatian khusus kepada klien, mulai dari waktu, tempat tujuan, anggaran bahkan menu selama bertamasya menggunakan jasa kami,” jelas Dira.

Menurut Aurandhani Aritsa yang akrab disapa Aura, keistimewaan ICT adalah tidak sekadar menawarkan paket wisata yang umumnya dilakukan banyak travel perjalanan, namun berupaya memahami keinginan klien untuk memperoleh kualitas berlibur yang optimal selama perjalanan.

“Bahkan sesampainya dikota tujuan, meraka akan menyediakan tour guide lokal berbahasa Indonesia, Melayu atau Inggris yang memahami kebutuhan klien termasuk wisatawan muslim selama di perjalanan,” jelas Aura. Selain halal rasanya pun lezat dengan harga terjangkau. “Kami sangat memperhatikan kualitas serta pelayanan yang diberikan,” ujar dia.

Indo Citra Tamasya memang lebih memfokuskan pada layanan penyediaan perjalanan wisata bagi kaum muslim ke berbagai negara. Hal ini dipandang sebagai upaya memenuhi banyak keinginan klien yang sangat besar.

Selama berwisata, jelas Dwi Anisa Prafitria yang akrab disapa Tria, kadang klien mereka merasakan kendala yang sama. Apakah makanannya halal? Bagaimana dengan tempat dan waktu ibadah shalat? Pertanyaan ini selalu mereka tanyakan bila menggunakan jasa travel agent, dan selama ini belum ada agent yang memberikan pelayanan traveling yang “halal” dan diakui oleh lembaga terkait.

Dan Alhamdulillah, ungkap Tria, kami sudah mendapatkan rekomendasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai travel perjalanan yang halal termasuk menyediakan menu makanan bagi para klien yang beragama Islam. “Kita sudah mempresentasikan dihadapan MUI, dan Alhamdulillah kami mendapat rekomendasi halal,” ujar Tria yang berencana akan kembali membuka cabangnya di Bilangan Jakarta Selatan dalam waktu dekat.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Indonesia Vs Freeport - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Negosiasi pemerintah Indonesia dengan Freeport masih terus berjalan sangat alot. Dalam hal ini pemerintah harus kuat dan jangan mengalah dengan…

Mengapa Penetapan Capres-Cawapres 2019 dari Kubu Oposisi Seret?

  Oleh: Muhammad AS Hikam, Pengamat Politik dan Dosen di President University                   Sampai tulisan ini diposting, parpol-parpol yang…

Pemerintah Dorong Industri Farmasi Manfaatkan Bahan Baku dari Alam

NERACA   Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong industri farmasi dalam negeri untuk menciptakan produk obat-obatan berbahan baku dari…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…