Nilai IPO Tahun Ini Cuma Rp 6,9 Triliun

Dampak Krisis Global

Rabu, 31/10/2012

NERACA

Jakarta – Ditahun naga air ini, pertumbuhan industri pasar modal tidak sekencang tahun lalu. Pasalnya, selain transaksi harian di pasar modal menurun dari target awal Rp 5,8 triliun menjadi Rp 4,8 triliun juga nilai penawaran saham perdana yang hanya mencapai Rp 6,9 triliun.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengakui, nilai penawaran saham perdana yang hanya mencapai Rp6,9 triliun sepanjang 2012 ini dikarenakan krisis ekonomi global yang masih berlangsung, “Ada krisis. Selain itu, beberapa calon emiten mundur melakukan penawaran saham perdana karena tidak bertemu dengan price-nya. Investor ingin harga lebih rendah sementara calon emiten ingin lebih tinggi,”katanya di Jakarta, Selasa (30/10).

Menurut Hoesen, ekspektasi harga saham perdana lebih rendah oleh investor itu mendorong nilai penawaran saham perdana menjadi lebih kecil. Manajemen BEI memperkirakan nilai penawaran saham perdana sekitar Rp10 triliun pada 2012.

Sebelumnya, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 29 Oktober 2012, nilai penawaran saham perdana mencapai Rp6,9 triliun. Padahal nilai penawaran saham perdana sepanjang 2011 mencapai Rp19,59 triliun dan tahun 2010 sekitar Rp29,68 triliun. Meski begitu, penawaran obligasi masih mencatatkan nilai tertinggi dengan pencapaian sekitar Rp47,05 triliun sepanjang 2012. Nilai rights issue sekitar Rp13,06 triliun.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pihaknya menargetkan 30 perusahaan dapat mencatatkan sahamnya di pasar modal di tahun 2013. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2012 yang hanya menargetkan sebanyak 25 emiten. “Sudah dua tahun terakhir kita mematok 25 perusahaan bisa masuk pasar modal, sudah saatnya kita naikkan. Ini dimaksudkan agar bursa efek bisa bekerja lebih keras lagi.”ujarnya.

Ito mengakui, hal tersebut bukan perkara mudah karena masih banyak tantangan ataupun hambatan yang akan dihadapi BEI untuk bisa menjaring perusahaan-perusahaan untuk melakukan IPO. Salah satunya yaitu hambatan kultural di mana para pemilik perusahaan swasta masih berat mencatatkan perusahaannya di BEI sebagai perusahaan terbuka. “Terlalu berat bagi mereka, baik mengenai adanya aturan keterbukaan maupun dari sisi perpajakan.” ujarnya.

Karena itu, kata Ito perlu upaya keras untuk terus melakukan sosialisasi dan meyakinkan investor dan perusahaan mengenai besarnya manfaat pencatatan saham di pasar modal. Meskipun demikian, Ito optimistis di tahun 2013 bursa Indonesia bisa menunjukkan kinerja yang optimal untuk mendorong pertumbuhan pasar modal. Pasalnya, pada tahun 2012, BEI mencatat telah menyelesaikan beberapa proyek infrastruktur perkantoran. Selain itu BEI juga akan melakukan pengembangan sistem perdagangan serta menggenjot emiten yang berkualitas. (bani)