Garap TV Berbayar, VIVA Investasikan US$ 150 Juta

Tayangkan Piala Dunia

Rabu, 31/10/2012

NERACA

Jakarta- Bisnis TV berbayar di Indonesia mempunyai peluang pasar besar seiring dengan meningkatnya daya beli masyarakat. Terlebih saat ini pasar industri TV berbayar dalam negeri baru mengalami pertumbuhan sedikit, namun lambat tapi pasti tingkat pertumbuhannya di ramalkan mencapai 7% pada 2014.

Melihat potensi tersebut, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) melebarkan sayap bisnisnya dengan meluncurkan televise berbayar pada tahun depan. Dimana untuk bisnis tersebut, perseroan mengalokasikan dana sebesar US$ 150 juta, “Pada semester pertama 2013, Pay TV akan kami luncurkan,”kata Direktur Utama PT Visi Media Asia Tbk di Jakarta, Selasa (30/10).

Erick mengatakan, sebesar 50% nilai investasi tersebut berasal dari kas internal perseroan sedang sisanya digali dari pendanaan lain seperti obligasi (bond) ataupun pinjaman (loan). Erick menegaskan, peluncuran televisi berbayar ini tidak semata mengikuti tren banyaknya Pay TV, namun lebih kepada peluang pasar yang besar dari industri pay TV.

Program yang nantinya akan ditayangkan dalam saluran televisi tersebut, lanjut Erick mengarah pada tayangan eksklusif olaharaga, seperti Indonesia Super League (ISL) dan piala dunia (world cup) pada 2014 mendatang. Pihaknya menilai, sejauh ini tayangan tersebut mampu menarik penonton yang cukup banyak sehingga dapat menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan kinerja perseroan.“Terutama untuk program World Cup yang diharapkan nanti jadi pengikat masyarakat untuk loyal berlangganan,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Viva Otis Hahijary. Dia mengatakan, program piala dunia yang akan tayang pada 2014 diperkirakan mampu menjaring penonton hingga delapan kali lipat. “Tanpaworld cup ratingbisa naik 480%. Jadi dengan world cup kami kira bisa sampai 700-800%,” ujarnya.

Otis menilai, potensi pertumbuhan pelanggan televisi berbayar masih cukup tinggi dengan pertumbuhan ekonomi dan banyaknya masyarakat kelas menengah di Indonesia. Penikmat televisi berbayar di Indonesia, menurut dia, masih sebanyak 3 juta pelanggan. Sementara jumlah kelas menengah diperkirakan mencapai 45 juta jiwa.

Pihaknya mencatat, di Malaysia yang jumlah penduduknya tidak lebih tinggi dari Indonesia, pelanggan televisi berbayar sudah mencapai 10 juta. Karena itu, pihaknya optimistis rencana perseroan untuk masuk sebagai televisi berbayar ini akan dapat memacu kinerja perseroan.

Kinerja Keuangan

Menurut Erick, kinerja perusahaan sampai kuartal ketiga 2012 di luar ekspektasi mengingat ketatnya persaingan industri media saat ini. Pihaknya mencatat, pada kuartal ketiga 2012 perseroan berhasil mencapai pendapatan sebesar Rp916,53 miliar atau meningkat 25% dibandingkan periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp733,33 miliar.

Peningkatan pendapatan tersebut, kata Erick juga diikuti dengan efisiensi dari sisi operasional. Hal tersebut dilihat dari beban biaya umum dan administrasi yang hanya mengalami peningkatan sebesar 3,53% dari Rp378,12 miliar di kuartal ketiga 2011 menjadi Rp391,50 miliar di periode yang sama tahun ini.

Sementara untuk laba sebelum pajak, bunga, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) mengalami peningkatan sebesar 47,4% menjadi Rp271,55 miliar. Adapun EBITDA margin sampai kuartal ketiga 2012 mencapai 29,6%, atau mengalami pertumbuhan yang signifikan dibandingkan kuartal ketiga tahun lalu sebesar 25,1%. Dari perolehan tersebut, pihaknya mencatat, laba bersih perusahaan melonjak 289,5% menjadi Rp85,3 miliar. (lia)