Agresifitas Bank Saudara Lewat Akusisisi Bank Woori

Targetkan Tutas Akhir Tahun

Selasa, 30/10/2012

NERACA

Jakarta – Rencana Bank Indonesia (BI) menerbitkan aturan baru izin berjenjang atau multiple license (multi-license) memberikan dampak yang berarti bagi industri perbankan dan termasuk PT Bank Saudara Tbk (SDRA). Pasalnya, mengantisipasi aturan tersebut bank milik Arifin Panigoro telah membuka pintu lebar merger dengan PT Bank Woori Indonesia yang juga milik Bank Woori Korea.

Meskipun demikian, kondisi ini memberikan dampak posistif bagi perseroan untuk lebih agresif dalam ekspansi bisnisnya. Direktur Utama PT Bank Saudara Tbk Yanto M Purbo mengatakan, dengan masuknya Bank Woori Indonesia akan meningkatkan pertumbuhan kredit perseroan, “Dengan masuknya investor baru, maka pertumbuhan bank Saudara akan jauh lebih baik,”katanya di Jakarta, Senin (29/10).

Menurutnya, ketertarikan Bank Woori diakusisi bank Saudara lantan segmen bisnis retailnya yang tumbuh positif. Nantinya, dengan akuisisi tersebut segmen bisnis Bank Saudara di kredit pensiun tidak akan berubah dan sebaliknya bisa membidik segmen bisnis Bank Woori Indonesia.

Asal tahu saja, rencana akuisisi Bank Woori Indonesia tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Juli lalu. Disebutkan, dengan mengakuisisi Bank Woori Indonesia maka komposisi kepemilikan saham diantaranya, Arifin dan Medco sebesar 34%, 33% bank Woori Indonesia dan sisanya 33% publik.

Kata Yanto, saat ini izin akuisisi dengan Bank Woori Indonesia ada di Bank Indonesia untuk diproses dan rencananya akhir tahun ini sudah bisa keluar, “Rencana ini sudah diajukan ke BI dan tinggal menunggu hasilnya dan termasuk fit and proper tes,”ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk mengakusisi Bank Woori Indonesia PT Bank Saudara Tbk berencana menerbitkan rights issue sebanyak tahun depan sebanyak 764,4 juta lembar saham atau setara dengan 33%, “Akuisisi dilakukan secara langsung dengan pembelian saham milik Arifin Panigoro dan PT Medco Intidinamika masing-masing sebanyak 594,04 juta dan 170,358 juta saham," tuturnya.

Selain itu, perseroan menargetkan dapat menjaha kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) hingga akhir tahun 2012 di level 18-19%. Untuk menjaga posisi tersebut perseroan tengah berupaya menambah modal dengan menerbitkan obligasi subordinasi pertamanya sebesar Rp200 miliar, “Posisi CAR sampai Juni sudah mencapai 13%nan,”katanya.

Usaha tersebut dilakukan mengingat sepanjang tahun ini perseroan terlalu ekspansif dalam menyalurkan pembiayaan. Yanto mengaku, pihaknya berhasil menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loan) dengan sangat minim. Perseroan memproyeksikan di akhir 2012 dapat menjaga NPL maksimal 2% (gross) dan 1%-1,5% (net).

Terbitkan Obligasi

Disamping itu, perseroan menawarkan bunga obligasi sebesar 11%-12% dan Subordinasi 12%-13%. Perseroan menerbitkan penawaran obligasi II senilai Rp100 miliar dan Obligasi Subordinasi I senilai Rp200 miliar.

Obligasi II dan Subordinasi I berjangka waktu masing-masing lima dan tujuh tahun kedua-duanya dengan tingkat bunga tetap. Bunga keduanya akan dibayarkan setiap tiga bulan. Nantinya, dana obligasi II setelah dikurangi biaya-biaya emisi seluruhnya akan digunakan untuk meningkatkan pemberian kredit dan subordinasi I untuk memperkuat struktur permodalan.

Yanto juga menambahkan, penyaluran kredit akan difokuskan kepada kredit pensiunan, kredit pegawai, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah."Kami optimistos obligasi dan subordinasi ini akan sukses. Untuk periode bookbuilding obligasi dan subordinasi akan dilaksanakan mulai 29 Oktober sampai dengan 9 November," tambahnya.

Bank Saudara berencana mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam pada 23 November, dan melakukan penawaran umum pada 27, 28, dan 29 November. Sedangkan distribusi obligasi secara elektronik dilakukan 4 Desember dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 5 Desember. (bani)