Telkomsel Digugat Pailit, BCA Tidak Gentar Salurkan Kredit

Selasa, 30/10/2012

NERACA

Jakarta – Ancaman pailit Telkomsel tidak membuat goyah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk memberikan kucuran kredit, meskipun perseroan sudah menyalurkan kredit mencapai Rp 1,12 triliun sejak 2006.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, perseroan tidak khawatir dengan isu pailit anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), “Penyaluran kredit Telkomsel dipastikan tidak akan mengganggu proses pembayaran kredit, meskipun digugat pailit,”katanya di Jakarta, Senin (29/10).

Menurutnya, Telkomsel adalah perusahaan BUMN yang bagus dan kasus yang menimpa adalah masalah teknis. Sampai saat ini, lanjutnya, BCA belum mengambil tindakan apapun karena yakin masalah pailit ini tidak mengganggu perusahaan sebesar Telkomsel.

Seperti diketahui, pada Jumat, 14 September 2012, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dipimpin Hakim Ketua Agus Iskandar, memutuskan bahwa Telkomsel pailit atas permohonan oleh PT Prima Jaya Informatika, distributor voucher isi ulang Kartu Prima.

Telkomsel dan Prima Jaya memulai kerja sama pada 1 Juni 2011 sampai batas waktu Juni 2013 dengan komitmen awal Telkomsel menyediakan voucher isi ulang bertema khusus olahraga bersama dengan Yayasan Olahraga Indonesia (YOI). Namun, kemitraan ini menimbulkan kasus, sejak Juni 2012 Telkomsel setelah memutuskan kontrak karena menilai Prima Jaya tidak memenuhi aturan yang dipersyaratkan.

Laba Tumbuh 8,1%

Selain itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat perolehan laba bersih Rp8,27 triliun pada triwulan triwulan tiga 2012, naik 8,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp7,65 triliun, “Jadi suku bunga dari Bank Indonesia (BI), relatif sejak tahun lalu menurun. Menurunnya ini ditandai dengan suku bunga term deposit dan SBI (Sertifikat Bank Indonesia), sebagai secondary reserve dari BCA. Kita kan sangat likuid, kita tempatkan di BI sekitar Rp70 triliun. Tahun lalu yield (imbal hasil) sekitar 6%, sempat turun jadi 3,7%, sekarang turun jadi 4,2-4,3%. Ini yang buat pertumbuhan income kita agak menurun,” kata Jahja Setiaatmadja.

Pada September 2012, perolehan pendapatan bunga bersih perseroan sebesar Rp14,24 triliun, meningkat 15,1% dalam setahunan dibanding September 2011, sebesar Rp12,37 triliun. Sementara pendapatan non bunga tercatat sebesar Rp5,56 triliun, naik 8% dari Rp5,14 triliun.

Demikian, perolehan pendapatan operasional sebesar Rp19,80 triliun, naik 13% dalam setahunan dari Rp17,52 triliun. Sedangkan beban operasional tercatat sebesar Rp9,52 triliun, naik 19% dari Rp8 triliun,”Dengan MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) di 2015, kita berusaha tingkatkan networking cabang-cabang kita, ATM juga. Begitu cabang dan atm bertambah, maka operasional cost meningkat, tapi dalam jangka panjang bisa memberikan profitable di masa depan,”paparnya.

Dari sisi kucuran kredit, BCA mencatat sebesar Rp273,69 triliun, meningkat 34,8% dalam setahunan dari Rp176,32 triliun. Sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp357,81 triliun, naik 18,8% dari Rp301,25 triliun. Demikian total aset perseroan tercatat sebesar Rp427,01 triliun, naik 17,9% dari Rp362,31 triliun.

Sedangkan rasio-rasio keuangan lainnya tercatat, rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 14,8%, marjin bunga bersih (NIM) sebesar 5,4%, rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) 65,7%, beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 64,2%, return on asset (ROA) 3,4%, dan return on equity (ROE) 29,2%. (bani)

Topik Terkait

pailit kredit bca