Tiru Model HDFC India, BTN Efisienkan Cost Operasional

Pembiayaan Perumahan

Selasa, 30/10/2012

NERACA

Denpasar - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) terus berusaha menurunkan cost to income ratio (CIR) demi mengejar efisiensi agar pertumbuhan bisnis pembiayaan perumahannya bisa tumbuh lebih besar dan cepat.

“Kami memiliki keinginan untuk beroperasi secara lebih efisien, khususnya dalam kegiatan operasional. Benchmark ke HDFC India merupakan salah satu upaya yang kami tempuh. Mereka sangat berpengalaman. Loan origination system dan loan recovery yang sangat baik sehingga mampu memiliki kontribusi besar dalam efisiensi perusahan,” kata Evi Firmansyah, Wakil Direktur Utama Bank BTN, sebelum pembukaan International Seminar and Trainning Housing Finance 2012 di Denpasar, Bali, Senin (29/10).

HDFC yang berkiprah di India sejak berdiri tahun 1977, telah memberikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada lebih dari 3,5 juta nasabah. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan kreditnya rata-rata sekitar 25%. HDFC sangat efisien dalam menjalankan bisnisnya dengan cost to income ratio sebesar 7,9% dan NPL rata-rata sekitar 0,79%.

“Ini sangat luar biasa dan kami perlu tahu lebih jauh tentang bagaimana model pembiayaan perumahan itu dilakukan di India sehingga berhasil guna membawa perusahaan tumbuh dengan sangat efisien. Kami mengajak semua pihak terkait dengan pembiayaan perumahan ikut bergabung dalam seminar ini. Semoga ini menjadi jawaban atau paling tidak memberikan alternatif solusi dalam menentukan model pembiayaan KPR di Indonesia,” jelas Evi Firmansyah.

Menurut Evi, potensi pembiayaan perumahan di Indonesia sangat besar. Pembangunan perumahan terus tumbuh sejalan dengan bertambahnya populasi masyarakat. Backlog pembangunan perumahan menjadi peluang khususnya bagi perbankan Indonesia untuk mencari solusi dalam penerapan pola pembiayaan yang sesuai sebagai upaya untuk ikut ambil bagian dalam mengatasi backlog tersebut.

Hingga kini, ungkap Evi, kesenjangan antara kesiapan dana perbankan dengan kredit yang disalurkan bank dalam pembiayaan perumahan masih menjadi isu utama dalam pembiayaan perumahan di Indonesia. Itu sebabnya perlu ada solusi dalam mengatasi masalah tersebut.

“Pola pembiayaan perumahan yang ideal akan menghasilkan cost of fund yang murah sehingga berdampak pada suku bunga yang murah. Di lain pihak efisiensi usaha dapat diperoleh perbankan dalam pola pembiayaan perumahan. Bisnis efisiensi juga akan menjadi isu penting dalam pembiayaan perumahan tersebut,” terang Evi.

Dia menambahkan, sebagai upaya mencari solusi dalam menentukan pola pembiayaan perumahan khususnya di Indonesia, Bank BTN bersama HDFC menyelenggarakan International Seminar and Trainning Housing Finance Beyond 2012. Seminar dan training yang diikuti beberapa negara ini diharapkan dapat menjadi model dalam mencari solusi pembiayaan perumahan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing negara.

Dalam seminar dan training ini, Bank BTN mengajak HDFC sebagai salah satu lembaga keuangan di India yang berpengalaman dalam memberikan pembiayaan perumahan di India. Ini merupakan tindak lanjut dari MOU yang ditandatangani antara Bank BTN dengan HDFC.

Sebelumnya Bank BTN pernah melakukan studi banding ke HDFC India. Dalam studi banding tersebut disepakati untuk menjalin kerjasama timbal balik yang saling menguntungkan, sehingga ada sinergi bagi masing-masing pihak.

Dalam MOU tersebut disepakati tertuang beberapa aspek yang dimungkinkan untuk terjalinnya kerjasama, antara lain pelatihan bagi Bank BTN, pertukaran karyawan antara Bank BTN dan HDFC, technical advisory service bagi Bank BTN, dan kemungkinan untuk mendirikan mortgage learning center di Indonesia.

Berdasarkan kinerja Bank BTN per 30 September 2012 tercatat kredit yang diberikan tumbuh 29,10% dari Rp.59,31 Triliun pada posisi yang sama tahun 2011 menjadi Rp.76,57 triliun pada posisi yang sama tahun 2012. NPL (non performing loan) Bank BTN tercatat 2,51% pada tahun 2012 atau lebih baik dari NPL tahun 2011 yang sebesar 3,46%.

Sementara CIR tercatat sebesar 56,43% pada tahun 2012 atau lebih baik dari tahun 2011 yang sebesar 63,63%. Komposisi kredit Bank BTN pada posisi yang sama tahun 2012 masih didominasi oleh kredit perumahan dengan porsi 86,32% atau sebesar Rp.66,09 Triliun dan sisanya 13,68% atau sebesar Rp.10,48 Triliun disalurkan untuk kredit non perumahan. [kam]