Pertamina Hulu Energi Targetkan Produksi Blok WMO 30 Ribu BPH

Anjungan Senilai US$19,2 Juta Selesai

Selasa, 30/10/2012

NERACA

Jakarta - Setelah berhasil mengoperasikan kembali anjungan PHE-40 yang pernah ditabrak kapal kargo pada bulan agustus tahun 2010, sehingga kehilangan produksi sekitar 1.600 barel per hari (bph) dan 15 juta kaki kubik per hari (MMscfd) saat ini menara pemboran Harvey Ward sudah di lokasi untuk memulai pemboran kembali 4 sumur dari anjungan tersebut. Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) kembali menuntaskan pembangunan satu anjungan lepas pantai baru yang diberi nama PHE-38B.

Anjungan PHE-38B ini adalah bagian dari tiga anjungan yang dibangun Pertamina di Bakrie Construction dengan nilai kontrak US$19,2 juta. Dua anjungan lainnya, yang diharapkan dapat dituntaskan paling lambat Desember 2012 adalah PHE-39 dan PHE-54. Tiga anjungan ini dikerjakan 100% oleh tenaga kerja Indonesia dengan kandungan lokal 65% jauh diatas target 35%.

"Anjungan PHE-38B ini dirancang dapat dipergunakan untuk mengebor antara 6 sampai 8 sumur dengan produksi sekitar 7.000 bph dan gas 35 MMscfd. Anjungan-anjungan ini sangat penting untuk menghentikan declining rate di Blok WMO yang rata-rata mencapai 50% per tahun," kata Direktur Hulu Pertamina Muhamad Husen melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (29/10).

Temukan Cadangan Baru

Husen menambahkan, anjungan PHE-38B diharapkan dapat mulai memproduksi minyak dan gas pertama pada 21 Desember mendatang di lokasi temuan minyak dan gas baru di wilayah Blok WMO sekitar bulan Juli lalu. "Tekat GM (General Manager) PHE WMO, Pak Imron Asjhari bisa memproduksi 21 Desember patut kita dukung. Artinya hanya 6 bulan setelah temuan cadangan minyak dan gas langsung bisa diproduksi. Itu kan luar biasa," tambah Husen.

Dia menjelaskan saat ini produksi minyak PHE WMO baru mencapai 12.000 bph dengan gas 160 MMscfd. Husen berharap penambahan fasilitas produksi dan fasilitas penunjangitu mampu meningkatkan produksi minyak dan gas di Blok WMO pada kisaran 30.000 barel per hari (bph). "Kita punya target 30 ribu bph akhir tahun 2013. Karena itu semua infrastruktur produksi dan penunjang harus disiapkan agar kegiatan eksplorasi dan eksploitasi berjalan lancar dan aman. Keberadaan anjungan PHE-38B ini adalah bagian dari penyiapan infstastruktur itu," jelasnya.

Khusus di tahun 2012 ini, PHE WMO merencanakan mengebor 21 sumur yang terdiri dari 9 sumur eksplorasi, 12 sumur pengembangan dan juga 15 sumur kerja ulang (work over). Sejak mendapat mandat mengelola Blok WMO, Husen mengatakan, PHE WMO sudah mengebor sepuluh sumur pengembangan. Selain itu, empat sumur eksplorasi sudah selesai dibor yang berhasil meningkatkan cadangan minyak dan gas PHE WMO lebih dari 230% rasio penggantian cadangan (cadangan baru yang ditemukan lebih dari 2,3 kali dari yang diproduksikan) dengan 100% rasio keberhasilan eksplorasi,

Namun kerja keras menambah atau penemuan sumur-sumur baru itu belum bisa langsung diikuti oleh meningkatnya produksi Blok WMO secara signifikan. Pasalnya, saat diserahkan Pemerintah pada PHE sebagai anak perusahaan Pertamina, sumur-sumur yang ada di Blok WMO sedang mengalami penurunan produksi yang tajam, sehingga temuan atau penambahan produksi digunakan untuk mengimbangi laju penurunan produksi sumur.

Senior Executive VP & GM PHE WMO Imron Asjhari menambahkan, PHE WMO juga memiliki target bisa memproduksi minyak 40,000 bph dan 210 MMscfd pada tahun 2016 atau setara 75,000 barel minyak ekuivalen barel per hari (boepd). Untuk mencapai target tersebut, kata Imron, PHE WMO akan melakukan pemboran lebih dari 25 sumur eksplorasi dan 75 sumur pengembangan, kerja ulang lebih dari 10 sumur, perawatan pada 37 sumur, serta pemasangan lebih dari 10 anjungan baru sampai tahun 2016.