Kelas Menengah, Daya Saing dan Impor

Senin, 29/10/2012

Oleh: Prof. Firmanzah Ph.D

Staf Ahli Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga di atas 6%, kelas menengah di Indonesia kini tumbuh semakin besar. MacKinsey memperkirakan tambahan 95 juta kelas menengah hingga 2030. Saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 45 juta kelas menengah yang memiliki pendpatan antara US$ 2-20/hari. Membesarnya kelompok kelas menengah menciptakan tantangan dari sisi produksi (supply-side) untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat kelas menengah di negeri ini.

Dalam sistem ekonomi yang semakin terintegrasi dan terkoneksi satu dengan yang lain, maka permintaan (demand) di suatu negara akan dengan mudah di-supplydari luar negeri. Begitu juga sebaliknya, perusahaan lokal Indonesia memiliki kesempatan untuk memperbesar pasar di luar negeri. Kondisi ini membuat kita semua untuk terus meningkatkan daya saing (competitiveness) di semua level baik di tingkat nasional, industri, perusahaan,produk, jasa bahkan sampai pada layanan. Daya saing dapat berarti produk dan jasa lebih berkualitas, lebih murah, lebih tahan lama, dan lebih inovatif relatif dibandingkan dengan pesaing. Begitu juga di tingkat industri lokal berskala nasional.

Dengan semakin meningkatnya kelas menengah tanpa diimbangi dengan peningkatan daya saing akan memperbesar porsi impor produk konsumsi Indonesia. Kita perlu bersyukur bahwa peningkatan impor yang terjadi selama kuartal I-2012 lebih disebabkan lonjakan impor bahan baku penolong dan barang modal untuk keperluan industri manufaktur.Supply-sidedi Indonesia bergerak untuk mengimbangi peningkatan kelas menengah. Produksi perusahaan yang berlokasi di Indonesia selain untuk memasok kebutuhan dalam negeri juga untuk ekspor. Sehingga porsi ekspor barang olahan yang memiliki nilai tambah akan semakin besar lagi di kemudian hari.

Pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan posisi daya saing nasional. Program MP3EI, reformasi birokrasi dan program pemberdayaan yang gencar dilakukan saat ini diarahkan untuk membangun basis daya saing nasional. Program hilirisasi dan industrialisasi terhadap hasil sumber daya alam juga sedang dilakukan untuk semakin meningkatkan nilai tambah (value-added) produk nasional. Data BKPM menunjukkan rasa optimisme dimana sampai akhir 2012, realisasi penanaman modal akan melampaui Rp. 320 triliun. Sementara pembangunan infrastruktur dan manufaktur terus dilakukan, usaha memperbaiki pola hubungan kerja pusat-daerah juga terus dibenahi.

Membesarnya kelas menengah Indonesia saat ini dan kemudian hari patut kita syukuri. Kerja keras untuk memperbaiki sisi produksi menjadi tantangan kita berikutnya. Upaya meningkatkan daya saing nasional merupakan pekejeraan kolektif kita semua. Dari mulai pemerintah, legislatif, dunia usaha, dunia pendidikan dan bahkan sampai pada kualitas penegakkan hukum untuk memberikan kepastian usaha bagi industri dan investasi di Indonesia. Kualitas dan produktivitas tenaga kerja nasional juga perlu terus kita tingkatkan.

Sementara itu, penguasaan dan pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi nasional juga perlu terus kita lakukan. Penataan perizinan satu atap (one stop service) untuk memudahkan melakukan usaha menjadi salah satu kunci memperkuat daya saing nasional. Akselerasi membangun daya saing merupakan gerakan nasional yang membutuhkan dukungan dan kontribusi dari semua elemen bangsa ini.