Kalah Daya Saing, Investasi Saham Tidak Lagi Menarik

TARGET TRANSAKSI BEI TIDAK TERCAPAI

Kamis, 25/10/2012

Jakarta – Meski realisasi transaksi harian di pasar saham hanya mencapai Rp 4,8 triliun dari target yang ditetapkan Rp 5,8 triliun pada tahun ini, tampaknya tidak membuat ciut nyali PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang kembali mematok target lebih besar lagi jumlah calon emiten pada 2013. Pasalnya, bursa efek menargetkan 30 perusahaan siap IPO tahun depan.

NERACA

Menurut Dirut BEI Ito Warsito, melesetnya target nilai transaksi perdagangan tersebut terjadi karena kegiatan transaksi mengalami penurunan yang disebabkan faktor global, “Uangnya ada, tapi kegiatannya yang berkurang,” ujarnya di Jakarta, Rabu (24/10).

Ito mengakui, pihak bursa masih perlu melakukan upaya keras untuk mendorong peningkatan transaksi. Upaya tersebut antara lain dengan melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para investor dan calon investor mengenai pasar modal, mendorong investor yang telah terdaftar agar lebih aktif melakukan transaksi, sekaligus melakukan roadshow ke pasar modal.

Sejauh ini, menurut dia, para investor baik dalam negeri maupun asing memberikan tanggapan yang cukup positif terhadap bursa Indonesia. Meski demikian, Ito tidak menampik bahwa masih ada beberapa hambatan yang mengganjal untuk bisa meningkatkan investor ataupun mendorong perusahaan-perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di bursa. Salah satu hambatan tersebut, lanjut dia adalah masalah kultural. “Para pemilik perusahaan swasta enggan mencatatkan perusahaannya di BEI, karena merasa terlalu berat dengan aturan keterbukaan,”ungkapnya.

Selain hambatan kultural, Ito menambahkan, nilai pajak yang harus ditanggung perusahaan juga menghambat pertumbuhan emiten di pasar modal. Padahal, dengan perusahaan mencatatkan sebagai perusahaan terbukan (go public) akan mampu mendatangkan banyak manfaat bagi perkembangan perusahaan, yaitu mendapatkan tambahan dana sekaligus dikenal secara luas.

Tidak Menarik

Secara terpisah, pengamat pasar modal Univ. Pancasila Agus Irfani mengatakan, tidak tercapainya target transaksi harian BEI dan jumlah IPO dikarenakan industri pasar modal dalam negeri tidak lagi menarik, “Lesunya pasar saham Indonesia karena faktor pendorong dan faktor penarik tidak berjalan,”katanya kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, faktor pendorongnya saat ini memang lemah. Sebut saja kondisi Eropa seperti Spanyol masih ada krisis dan kerusuhan. Sedangkan, faktor penarik dari pasar saham Indonesia juga saat ini sangat lemah. Tetapi, menurutnya, yang paling mempengaruhi adalah kondisi pasar saham yang memang sedang mengalami penurunan.

Hal senada juga disampaikan, pengamat pasar modal dari FEUI Budi Frensidy, tidak tercapainya transaksi harian pasar modal adalah kegagalan BEI dalam menambah investor baru di pasar bursa, sehingga target yang ingin dicapai tidak terpenuhi.

Dia menambahkan bahwa tidak banyaknya investasi dalam pasar saham bisa dikarenakan investor kecewa dengan harga saham komoditas yang menurun padahal hampir 20% di pasar saham dikuasai oleh saham komoditas. Padahal sebelumnya saham komoditas merupakan saham favorit bagi para emiten dan sekarang kurang diminati oleh investor.”Sekarang banyak investor yang beralih ke sektor properti dibandingkan sektor yang lain,”jelasnya.

Oleh karena itu, Budi meminta BEI harus perbanyak investor base atau investor langsung sehingga mereka dapat banyak diserap oleh bursa. Kemudian diperlukan perlindungan terhadap nasabah kecil terhadap pelanggaran yang terjadi di lantai bursa.”Pengawasan yang ketat terhadap emiten nakal dalam pasar bursa merupakan sesuatu yang bisa menarik investasi di pasar modal,” tambahnya.

Sebaliknya, Direktur PT Capital Bridge Indonesia Aji Martono menegaskan, tidak tercapainya transaksi harian dan target IPO bukan suatu indikator bursa saham Indonesia tidak menarik bagi investor.

Hal ini memang terkait dengan adanya keenganan calon investor yang masih awam untuk memasuki bursa saham, “Masih banyak masyarakat kita belum mengerti bagaimana bertransaksi di pasar bursa. Sehingga diperlukannya edukasi personal,” ujarnya.

Aji mengatakan, sebenarnya kurang lebih terdapat 20 juta masyarakat Indonesia yang berpenghasilan di atas Rp50 juta, yang bisa menjadi potensial investor baru. Hanya saja, banyak pandangan masyarakat bahwa produk-produk investasi berbau saham akan tidak menguntungkan, atau selalu beralasan kondisi pasar yang tidak bagus.

Diapun tidak mengakui, citra bursa saham selalu dipandang negatif oleh masyarakat dengan dipermainkan dengan analis atau trader sehingga dana investor menjadi tidak aman. Oleh karena itu, hal ini yang harus dirubah. Karena berinvestasi di pasar bursa tidak boleh melakukan spekulasi dalam bertransaksi. “Calon investor harus diinformasikan, bahwa ada hukum high risk, high gain. Artinya, ada resiko tinggi apabila tidak didukung dengan analisa pasar yang tidak tepat dan tidak bisa juga melakukan transaksi pagi beli, jual sore. Ini lah yang berpotensi berspekulasi,” ujarnya.

Sementara pengamat pasar modal Edwin Sinaga menilai, target BEI 30 calon emiten baru hanya bicara kuantitatif dan bukan kualitatif. Karena guna meningkatkan pasar modal lebih baik lagi diperlukan kualitas calon emiten dan bukan bicara kuantitas, “Saat ini pasar modal Indonesia cukup baik, namun hal yang terpenting adalah kualitasnya,”tegasnya.

Menurut dia, peningkatan di pasar modal Indonesia tersebut bukan hanya bicara mengenai jumlah emiten baru yang masuk, tetapi juga mengenai kualitas emiten di BEI, “Kita harus lebih meningkatkan peraturan dan keterbukaan emiten. Bagaimana menertibkan dan meningkatkan emiten berkualitas dengan keterbukaan emiten, “ujarnya.

Sedangkan Yanuar Rizki menilai, target BEI tahun depan dinilai cukup berani padahal kinerja BEI belum berhasil dengan capaian target IPO yang belum tercapai, transaksi harian hingga penurunan dana investasi di saham, “BEI harus membangun infrastruktur baik dan harus dibuat nyaman dan aman dalam berinvestasi,”katanya.

Meski demikian, dirinya menilai pasar modal dalam negeri lebih menarik dan seharusnya BEI dapat lebih fokus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada calon investor. Pasalnya, selama ini investor lokal masih bersikap pragmatis kebanyakan mereka hanya mementingkan spekulasi dan bukan fundamental yang kuat

Baik Yanuar Rizki dan Budi, kedua menekankan BEI harus memperhatikan perlindungan bagi investor agar membuat nyaman para investor dan memberikan efisienis, “Maka dengan begitu, kondisi pasar modal akan menjadi semakin menarik sebagai tempat berinvestasi dan sumber pembiayaan,”kata Yanuar.

Selain itu, lanjut Yanuar, BEI juga diminta untuk meningkatkan daya saingnya baik itu untuk emiten, perusahaan efek hingga regulatornya. Karena salah satu menarik minat investasi asing ke pasar modal diperlukan dukungan likuiditas transaksi, “Sebenarnya ini opportunity bagi Indonesia untuk meningkatkan likuiditas di masa depan. Pada saat investor kembali, kita punya likuiditas yang cukup,”paparnya.

Dia menambahkan, langkah-langkah membuat pasar lebih likuid bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain memperbanyak penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO), placement, dan right issue perusahaan besar. Selain right issue, menyebut aksi korporasi dengan membagi saham ke pecahan lebih kecil (stock split) sebagai salah satu jalan membuat pasar lebih likuid. iwan/mohar/lia/novi/ ahmad/bani