Haji Menipu Calon Haji

Kamis, 25/10/2012

Kita tentu sedih mendengar kabar ribuan calon haji gagal berangkat tahun ini. Hal ini akibat ulah biro perjalanan yang mengurus keberangkatan mereka tidak profesional, dan ada yang menilai beberapa biro perjalanan sebagai “penipu” calon haji dari berbagai daerah tersebut. Padahal mereka sudah siap menjalankan ibadah ke Tanah Suci dengan bersusah payah mengumpulkan dana maupun persiapan lainnya.

Yang mengejutkan lagi, diantara pengurus biro perjalanan tersebut sudah menyandang predikat haji. Bayangkan, betapa sedihnya ribuan calon haji itu saat mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, lalu mendengar kabar tidak jadi berangkat. Mereka sudah pasti telantar beberapa jam di bandara gara-gara biro perjalanan yang tidak becus mengurusnya. Bahkan ada diantara calon haji yang stres, karena uang mereka dibawa kabur oleh pengurus biro. Tragis memang!

Meski sebab kegagalan keberangkatan para calon haji ke Tanah Suci itu masih simpang siur tapi faktanya mereka ternyata telah tertipu oleh “saudara” sendiri. Sejumlah alasan dikemukakan. versi Kementerian Agama menyatakan kalau kegagalan keberangkatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kementerian, karena mereka tidak mendaftar melalui mekanisme yang sudah ditetapkan Kemenag. Sementara kalangan travel biro berdalih semua prosedur yang berlaku sudah dijalankan. Birokrat dan pengusaha saling lempar tanggung jawab, namun yang pasti calon haji sudah menjadi korbannya.

Kasus kegagalan berangkat haji sebenarnya bukan yang pertama kali. Hampir setiap musim haji kejadian seperti ini selalu terulang kembali. Kejadian serupa pernah ada walau jumlahnya relatif kecil. Ada calon haji yang dijanjikan berangkat sejak 1-2 tahun lalu, namun sampai tahun ini gagal berangkat. Mereka tentu sangat kecewa karena sudah merasa membayar lebih, namun kenyataan pahit tidak terelakkan lagi.

Peristiwa ini setidaknya mencoreng reputasi pemerintah sebagai penyelenggara haji. Apalagi panjangnya daftar antrean porsi haji Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini telah membuat sebagian umat Islam yang awam, akhirnya menjadi objek penipuan untuk sekedar mencari keuntungan pribadi. Yang kita sesalkan, adalah penipunya juga “saudara” sendiri yang justeru sudah bertitel haji. Melalui tameng sebagai travel biro yang mereka kelola, para haji penipu ini begitu teganya menipu saudara seiman. Ini sudah keterlaluan dan pantas dihukum setimpal dengan perbuatannya.

Jika pemerintah lebih tanggap dan mampu mendeteksi lebih dini terhadap kasus kegagalan berangkat haji di saat akhir menjelang wukuf seperti saat ini, seharusnya tidak perlu terjadi. Jangan sampai minat kaum muslim yang begitu tinggi menunaikan ibadah haji, disalahgunakan oleh sesama muslim hanya sekedar untuk mengeruk keuntungan materi sesaat.

Idealnya, Kementerian Agama membuat aturan tegas terhadap proses perjalanan haji plus. Artinya, rombongan haji plus tidak dapat langsung berangkat pada tahun yang sama pada saat mendaftar. Tetap harus ada aturan antre walau panjang antreannya tidak sama seperti haji reguler yang mencapai 5-10 tahun ke depan.

Bagi calon haji yang sudah sampai di Tanah Suci, dan sekarang menuju persiapan ke Padang Arafah, tempat berlangsung ritual prosesi wukuf sebagai puncak haji, kita doakan mereka semoga menjadi haji mabrur saat kembali lagi ke Indonesia. Aamiin!