Divestasi Aset Perseroan, Bakrie Brother Jajaki Calon Investor Baru - Kurangi Beban Utang

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melakukan divestasi terhadap aset-aset perseroan belum bisa dilakukan. Pasalnya, perseroan belum mencapai kesepakatan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra usaha dalam investasi.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (24/10). Kata Direktur & Corporate Secretary BNBR, RA Sri Dharmayanti, saat ini perseroan masih dalam tahap penjajakan dengan sejumlah calon pembeli atau mitra, “Informasi detail mengenai divestasi asetakan kami samaikan setelah negosiasi selesai. Saat ini proses tersebut masih berlangsung dan perseoran terikat dengan perjanjian kerahasiaan antar pihak,"ujarnya.

Menurutnya, sebagai perusahaan investasi, perseroan mempertimbangkan setiap peluang yang ada baik dalam investasi maupun divestasi aset-aset perseroan. Perseroan telah beberapa kali melakukan pertemuan dengna para calon pembeli atau mitra usaha yang berminat mengadakan kerja sama. Beberapa diantaranya para calon pembeli atau mitra usaha dari investor dalam dan luar negeri.

Namun perseroan memastikan rencana divestasi terebut tidak termasuk dalam transaksi material. Belum lama ini, Grup Bakrie mengajukan proposal untuk melakukan tukar guling sahamnya di Bumi Plc dengan 29% saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Grup Bakrie kini menguasai 23,8% saham Bumi Plc akan menukarnya dengan sekitar 10,3% saham BUMI. Selanjutnya sisa saham BUMI yaitu sekitar 18,7% akan dilunasi grup Bakrie dengan pembayaran tunai.

Sebelumnya, PT Bakrie Land Development juga menyampaikan rencana melepas kepemilikan saham sebagian atau seluruhnya di perusahaan pengelola jalan tol PT Bakrie Toll Road (BTR). Direktur Utama ELTY, Ambono Janurianto pernah bilang, hasil divestasi saham BTR digunakan untuk mengurangi utang perseroan. Pasalnya, pengurangan utang menjadi target manajemen agar tidak membebani kinerja keuangan. "Kami divestasi BTR untuk kurangi utang,"katanya.

Dia menambahkan, manajemen terus bernegosiasi dengan beberapa investor yang meminati saham BTR. Besaran pelepasan saham pengelola Kanci-Pejagan milik ELTY juga masih dibicarakan oleh kedua belah pihak.

Manajemen ELTY dapat menjual seluruh kepemilikan tidak langsung atau melepas sebagian dengan tetap mempertahankan sebagian kepemilikannya."Kita belum tahu berapa yang dilepas, karena diskusinya masih berlangsung," paparnya.

Di ELTY, kepemilikan grup Bakrie sudah tidak mayoritas paska masuknya Limitless Limitless World International Services Ltd. Kini, saham Bakrie di perusahaan properti itu hanya tersisa 8%. ELTY yang merupakan salah satu anak usaha group Bakrie bidang properti dan infrastruktur ini, menguasai 69,99% saham di BTR melalui anak usahanya yaitu PT Bakrie Infrastructure. Sementara PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai tulang punggung bisnis Bakrie di sektor tambang mencatatkan rugi bersih US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 Triliun sepanjang semester I-2012. Penyebab utamanya, karena dua hal yakni rugi kurs dan transaksi derivatif.

Mengutip lapora keuangan BUMI 2011, perseroan mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo sebesar US$3 miliar (Rp30 triliun). Bani

Related posts