Pasar Modal Perlu Kualitas dan Bukan Kuantitas

Target 30 Emiten Tahun Depan

Kamis, 25/10/2012

NERACA

Jakarta – Target PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 30 perusahaan bisa mencatatkan sahamnya di pasar modal tahun depan, disambut positif pelaku pasar karena ada peningkatan dibandingkan dua tahun sebelumnya hanya 25 perusahaan. Hanya saja, target tersebut diminta memperhatikan kualitas dan keterbukaan calon emiten.

Pengamat pasar modal Edwin Sinaga mengatakan, BEI diminta untuk memperhatikan secara serius soal kualitas calon emiten guna meningkatkan pasar modal menjadi lebih baik lagi, “Saat ini pasar modal Indonesia cukup baik, namun hal yang terpenting adalah kualitasnya,”katanya di Jakarta, Rabu (24/10).

Menurutnya, peningkatan di pasar modal Indonesia tersebut bukan hanya bicara mengenai jumlah emiten baru yang masuk, tetapi juga mengenai kualitas emiten di BEI, “Kita harus lebih meningkatkan peraturan dan keterbukaan emiten. Bagaimana menertibkan dan meningkatkan emiten berkualitas dengan keterbukaan emiten, “ujarnya.

Kata Edwin, BEI tidak hanya memenuhi target kuantatif tetapi juga kualitatif. Lebih lanjut dia menuturkan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mencatatkan saham perdana di BEI, juga dapat memberikan sentimen positif untuk pasar modal Indonesia. Meskipun diakui, proses BUMN mencatatkan saham perdana di BEI cukup rumit dan membutuhkan waktu lama.

Sementara Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, pihaknya menargetkan 30 perusahaan dapat mencatatkan sahamnya di pasar modal di tahun 2013. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2012 yang hanya menargetkan sebanyak 25 emiten. “Sudah dua tahun terakhir kita mematok 25 perusahaan bisa masuk pasar modal, sudah saatnya kita naikkan. Ini dimaksudkan agar bursa efek bisa bekerja lebih keras lagi.” katanya

Ito mengakui, hal tersebut bukan perkara mudah karena masih banyak tantangan ataupun hambatan yang akan dihadapi BEI untuk bisa menjaring perusahaan-perusahaan untuk melakukan IPO. Salah satunya yaitu hambatan kultural di mana para pemilik perusahaan swasta masih berat mencatatkan perusahaannya di BEI sebagai perusahaan terbuka. “Terlalu berat bagi mereka, baik mengenai adanya aturan keterbukaan maupun dari sisi perpajakan.” ujarnya.

Karena itu, kata Ito perlu upaya keras untuk terus melakukan sosialisasi dan meyakinkan investor dan perusahaan mengenai besarnya manfaat pencatatan saham di pasar modal. Di samping itu, untuk bisa meningkatkan pertumbuhan pasar modal sendiri, Ito pun menyarankan agar perusahaan BUMN melakukan IPO di tahun depan.

Meskipun demikian, Ito optimistis di tahun 2013 bursa Indonesia bisa menunjukkan kinerja yang optimal untuk mendorong pertumbuhan pasar modal. Pasalnya, pada tahun 2012, BEI mencatat telah menyelesaikan beberapa proyek infrastruktur perkantoran. Selain itu BEI juga akan melakukan pengembangan sistem perdagangan serta menggenjot emiten yang berkualitas.

Target Kinerja

Ito menambahkan, untuk perolehan laba usaha di tahun 2013 diproyeksikan bisa mencapai sebesar Rp94,91 miliar yang berasal dari pendapatan usaha bersih sebesar Rp526,15 miliar dikurangi biaya usaha sebesar Rp431,24 miliar. Pendapatan usaha bersih berasal dari pendapatan usaha dikurangi setoran kas atas penerimaan negara bukan pajak.

Di sisi lain, investasi yang akan dilakukan BEI diproyeksikan bisa mencapai Rp58,91 miliar atau meningkat sebesar 23,66%. Kenaikan ini disebabkan pada tahun 2013 BEI berencana melakukan inisiatif investasi strategis di bidang teknologi informasi pada sistem perdagangan, portal media sosial untuk pengembangan pasar, dan sistem untuk pengembangan emiten dan anggota bursa.

Terkait investasi teknologi informasi yang akan dilakukan BEI, di antaranya investasi pada JATS/JATS-RT sebesar Rp1,86 miliar, yaitu untuk melakukan pengembangan dari sisi performance dan distribusi, sekaligus menjadikan informasi agar lebih cepat dan tepat. Datafeed Fixed Income sebesar Rp3,41 miliar, aplikasi kegiatan pendukung sistem perdagangan sebesar Rp1,41 miliar, dan sistem fixed income sebesar Rp12,60 miliar atau mengalami peningkatan secara signifikan sebesar 669,87%.

Selain itu, pos yang juga dominan dan merupakan kelanjutan dari investasi tahun sebelumnya antara lain investasi back up sistem perdagangan sebesar RP 10 miliar. Sistem pengawasan yang mengalami peningkatan sebesar 4,43% menjadi Rp3,67 miliar. Adapun saldo akhir kas dan setara kas yang termasuk investasi jangka pendek di tahun 2013 diproyeksikan mencapai Rp1,15 triliun. (lia)