Giliran Kertas Diboikot Amerika Serikat

Setelah Minyak Kelapa Sawit

Kamis, 25/10/2012

NERACA

Jakarta - Belakangan ini kecenderungan proteksionisme di berbagai negara semakin meningkat. tidak hanya melalui hambatan tarif, terdapat beberapa negara melakukan aksi pemboikotan produk impor dengan alasan produk tidak ramah lingkungan. Baru-baru ini, Perusahaan animasi dan hiburan berbasis di Amerika Serikat, yaitu The Walt Disney Company telah memboikot kertas produksi Indonesia.

Keputusan itu dipertanyakan pemerintah karena tidak disertai alasan yang jelas dan tanpa data lapangan detail. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menyatakan publikasi boikot itu menimbulkan dampak buruk bagi ekspor kertas Indonesia. Sehingga, dia berharap pihak Walt Disney dapat memperjelas alasan penolakan tersebut.

"Sayangnya Disney tidak menjelaskan secara spesifik memboikot perusahaan (Indonesia) mana. Disney melalui film animasi dan taman hiburan di banyak negara, (boikot) ini memiliki dampak publikasi tinggi, yang membuat citra buruk produk kertas Indonesia," ujarnya di kantor Kementerian Perdagangan, Rabu (24/10).

Hancurkan Citra

Bayu mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait langkah Walt Disney menghentikan ekspor kertas Indonesia. Meskipun membeli dalam jumlah kecil, Pemerintah mengaku publikasinya tersebut menghancurkan citra kertas Indonesia. Menurut catatan Kementerian Perdagangan keseluruhan ekspor kertas pada 2011 ke seluruh dunia mencapai US$4,2 miliar. Sementara sepanjang tahun 2012, ekspor kertas diperkirakan akan tumbuh antara 5%-8%.

"Meski ada isu pemboikotan kertas oleh Walt Disney namun saya memperkirakan ekspor kertas kita sampai akhir 2012 masih bisa meningkat lima sampai delapan persen," tandasnya. Dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Wakil Presiden Direksi Disney Beth Stevens telah menyatakan, pihaknya menolak kertas asal Indonesia lantaran proses produksinya menyebabkan kerusakan hutan.

Sehingga pihaknya meminta bagian perizinan, vendor dan supplier untuk tidak menggunakan kertas maupun serat dari Indonesia hingga reformasi untuk menghentikan pembabatan hutan diterapkan. Bagi Bayu, alasan itu mengada-ada. Indonesia sejauh ini memiliki komitmen tinggi untuk mengekspor produk yang ramah lingkungan.

"Kita sudah mengesahkan Permendag No. 64/2012 yang memastikan kertas kita datang dari kayu legal dan menjaga prinsip kelestarian lingkungan," tuturnya. Kementerian Perdagangan mencatat kasus boikot serupa pernah menimpa minyak sawit produksi Sinarmas pada 2010. Saat itu perusahaan Unilever dari Amerika menilai produk olahan sawit Indonesia merusak lingkungan.

Pertemukan Walt Disney

Akibat pemboikotan yang dilakukan oleh konsumen, menyebabkan Indonesia tidak bisa melakukan mediasi melalui Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organizattion/WTO), saat itu pemerintah mempertemukan kedua pihak dan persoalan menjadi jelas. Lantaran Walt Disney mempermasalahkan kerusakan lingkungan yang diperkirakan akibat produksi kertas dari penebangan kayu ilegal. Pemerintah akan mengajak proses pembuatan kertas di Indonesia.

"Kalau konsen mereka adalah lingkungan, maka kita akan menunjukkan bahwa Indonesia akan mengikuti produksi kertas yang berdasarkan kaidah-kaidah produksi kertas. Ini hampir mirip dengan kasus minyak kelapa sawit Sinarmas diboikot oleh Unilever. Kita akan jelaskan pada Walt Disney, dan apa tujuan mereka. Kita lakukan pendekatan ke Walt Disney melalui perwakilan kita di Amerika," ungkap Bayu.

Untuk meyakinkan Walt Disney bahwa kertas yang diproduksi di Indonesia telah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku, maka Pemerintah Indonesia berniat mengajak pihak Walt Disney untuk melihat cara kerja produksi kertas di Indonesia.