Optimisme Menggapai Harapan

SENIOR BRAND MANAGER BANGO PT UNILEVER INDONESIA TBK: AGUS NUGRAHA

Sabtu, 27/10/2012

NERACA

Benar apa yang dikatakan Mahatma Gandhi, simbol pejuang tanpa kekerasan dari negeri India. Ia berkata, “He future depends on what we do in the present.” (Masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini), begitupun dengan perjalanan hidup pria kelahiran Bali, 8 September 1979. Dialah Agus Nugraha, Senior Brand Manager Kecap Bango. Sosok yang sejak kanak sudah ditempa realitas hidup untuk tetap semangat dan terus bergerak maju menggapai harapan.

Karir Agus akrab ia disapa diawali setelah ia merampungkan kuliah di Jurusan Ekonomi Universitas Indonesia tahun 2003, dan bergabung dengan PT Unilever Indonesia Tbk tahun 2004 sebagai marketing.

Kerja keras dan semangat berusaha yang ia buktikan, nyatanya membuahkan hasil. Tahap demi tahap jenjang kepercayaan dan tanggungjawab mulai ia rasakan. “Saya nothing to lose,” ungkapnya. Ia hanya berpijak pada pandangan bila semua kepercayaan dan tanggungjawab harus dilakukan dengan segenap kemampuan terbaik yang ia miliki.

Rangkaian posisi strategis mulai menyambangi dirinya. Sejumlah brand ternama ia geluti. Tengok saja pengalamannya sebagai Assistant Brand Manager Pepsodent, CLEAR shampoo, Grooming Deo, Blue Band, hingga meraih posisi Senior Brand Manager Bango sejak November 2010 lalu.

Pria sulung dari tiga bersaudara, masing-masing; Agus Wisnu Wardana dan Agus Widya Putra memang terbilang sosok yang pantang menyerah menghadapi keadaan, termasuk ketika kesulitan keuangan menyelimuti keluarga semasa ia kecil.

Agus berkisah. Saat ia beserta keluarganya hendak hijrah ke Jakarta tahun 1985. Setibanya di Jakarta, mereka tinggal di Bilangan Grogol Jakarta Barat. Kondisi yang kurang nyaman, memaksa sang ayah, Widiarta, memutuskan pindah ke Daerah Ciputat, "Ayah sudah bekerja sebagai agen asuransi," terang Agus, yang hidup dengan apa adanya.

Bahkan tatkala sang Bunda, Mayuni, memintanya membeli minyak tanah ke warung dekat rumah dimalam hari. Tak disangka, uang sebesar Rp 3.000 dari kembalian membeli minyak hilang entah kemana. Rasa takut dimarahi cepat menyergap Agus kecil. Sampai dirumah, tak ada umpat amarah menyambar dari kedua orangtuanya.

Dengan lembut, sang Ayah hanya mengajaknya mencari uang yang hilang terjatuh. Dengan penerangan seadanya, Agus dan Ayahnya terus mencari, menyusuri kembali langkah kecil yang sebelumnya ia lalui. Meski hanya tangan hampa, peristiwa itu kadang membuat Agus sumringah tersenyum. Ada segunung cinta di dadanya.

Terbetik pelajaran berharga. Bahwa sekecil apapun nilai dan harganya, akan masih berharga dibanding tidak memiliki. Sikap menghargai dan pantang menyerah pun mulai tumbuh dan bersemi dalam dirinya.

Kebijakan uang ketat ditahun 80’ membuat sang Ayah kehilangan pekerjaan. “Kami sempat makan dengan nasi dan garam,” ungkap mengenang Agus. Bahkan ketika ia duduk dibangku SD, kenaikan biaya sekolah dari Rp 1.500 menjadi Rp 1.750, tak sanggup mereka membayar, “Sungguh pengalaman yang sulit dilupakan,” ujar tersenyum lebar.

Dengan kondisi keuangan sangat terbatas, kekuatan cinta dan kasih sayang orangtua begitu lembut membasuh sukma dan raga mereka. Setiap hari, kata Agus, orangtuanya kerap meluangkan waktu memahami pelajaran sekolah, "Saya tahu Ibu letih, tapi dia tetap memiliki waktu bagi kami bertiga,” tutur Agus, suaranya berat menahan haru.

Kepandaian sang Bunda menjahit membuka celah perubahan, "Ibu membuka usaha menjahit pakaian dari bahan khas Bali," ujar Agus, lalu dipasarkan ke sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta, termasuk Sarinah. Usaha pun beranjak berkembang. Atmosfir optimisme keluarga asal Bali ini, mulai mengkristal.

Kini pria yang akan melepas masa lajang ini, telah tampil prima. menahkodai brand yang memiliki pangsa pasar hingga Rp 4 trilyun seantero negeri. Masa depan memang tergantung pada apa yang kita lakukan saat ini, layaknya pesan Mahatma Gandhi.