Bersaing Ketat Kejar Pertumbuhan Laba Di Akhir Tahun

Kinerja Telekomunikasi

Rabu, 24/10/2012

NERACA

Jakarta - Derasnya arus informasi dan teknologi mendukung pertumbuhan kinerja yang cukup positif dari sektor telekomunikasi sekaligus menopang pergerakan indeks yang sempat terguncang oleh melemahnya sektor pertambangan.

Pada kuartal III-2012, emiten telekomunikasi saling mengejar pertumbuhan laba cukup tinggi, diantaranya PT Indosat Tbk (ISAT) mencatatkan laba tahun berjalan hingga kuartal III-2012 sebesar Rp 1,628 triliun atau naik 55,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 1,047 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin. Disebutkan, kenaikan laba Indosat ditopang oleh kenaikan pelanggan dan pendapatan perseroan. Selain itu, membukukan pendapatan usahanya naik 7,6% dari Rp 15,34 triliun menjadi Rp 16,5 triliun.

Sementara pendapatan dari seluler naik 8,5% dari Rp 12,5 triliun menjadi Rp 13,6 triliun. Adapun pendapatan non seluler naik 3,1% dari Rp 2,77 triliun menjadi Rp 2,85 triliun. Sementara kenaikan pelanggan seluler tumbuh 7,8% dari 51,5 juta pelanggan menjadi 55,5 juta pelanggan.

Dari sisi EBITDA, perseroan mencatat kenaikan 5,5% dari Rp 7,24 triliun menjadi Rp 7,64 triliun. Namun, marjin EBITDA perseroan turun tipis dari 47,2% menjadi 46,3%. Sedangkan utang perseroan masih naik 0,9% dari Rp 21,64 triliun menjadi Rp 21,84 triliun.

Laba Telkom

Tidak mau kalah, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) juga memperoleh laba dikuartal III-2012 sebesar Rp 14,13 triliun atau naik 20,60% dibanding periode yang sama pada tahun sebesar Rp11,70 triliun. Kenaikan laba tersebut, kata Direktur Utama PT Telkom Tbk Arief Yahya didorong dari kenaikan pendapatan sebesar 7,6% menjadi Rp56,86 triliun hingga kuartal ketiga 2012 dari kuartal ketiga 2011 sebesar Rp52,83 triliun.

Selain itu, aset perseroan pun juga mengalami peningkatan menjadi Rp105,40 triliun pada 30 September 2012 dari posisi 31 Desember 2011 sebesar Rp103,05 triliun. Sementara untuk jumlah total pelanggan, Arief mengemukakan, sampai dengan kuartal ketiga 2012, telah mencapai 147 juta pelanggan. Komposisi pelanggan tersebut antara lain jumlah pelanggan seluler meningkat sebesar 16,6% dibandingkan periode tahun lalu menjadi 121,5 juta pelanggan.

Menurutnya, meningkatnya pengguna layanan berbasis internet dan mobile application untuk seluler mendukung peningkatan pendapatan dan laba perseroan, “Layanan data, internet, dan IT mencatatkan rekor, ini menjadi pendorong pertumbuhan penting bagi perseroan. Pertumbuhan juga didukung oleh adanya penambahan jumlah pelanggan seluler yang signifikan di tengah kondisi persaingan pasar keras,”jelasnya.

Arief menambahkan, laba bersih per saham dasar juga mengalami peningkatan menjadi Rp520,34 pada kuartal ketiga 2012 dari kuartal ketiga 2011 sebesar Rp427,03. Liabilitas perseroan naik menjadi Rp42,63 triliun pada 30 September 2012 dari posisi 31 Desember 2011 sebesar Rp42,07 triliun. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp62,76 triliun pada 30 September 2012 dari posisi 31 Desember 2011 sebesar Rp60,98 triliun.

Potensi Harga Saham

Sementara untuk jumlah total pelanggan, Arief mengemukakan, sampai dengan kuartal ketiga 2012 telah mencapai 147 juta pelanggan. Komposisi pelanggan tersebut antara lain jumlah pelanggan seluler meningkat sebesar 16,6% dibandingkan periode tahun lalu menjadi 121,5 juta pelanggan.

Kata analis Analis PT Equator Securities Gina Novrina Nasution, saham TLKM menarik untuk diperhatikan hingga akhir tahun karena nilai kapitalisasi yang relatif besar dan cukup likuid ditransaksikan. “Saham tersebut juga menjadi salah satu penggerkan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan.” ujarnya.

Pengamat pasar modal John Veter sebelumnya juga mengatakan, investor bisa mengoleksi saham di sektor telekomunikasi, khususnya TLKM. Dia menargetkan harga TLKM di kisaran Rp10.000 untuk target Oktober ini. “Di level support Rp9.250 sangat layak dikoleksi. Saya rekomendasikan buy untuk TLKM,” tandas John Veter.

Sejauh ini dia menilai, saham TLKM masih menjadi panduan utama karena secara fundamental, emiten ini bisa melakukan efisiensi yang lebih baik dibandingkan yang lain dan memiliki teknologi yang cukup berkembang.

Dari sisi kapitalisasinya pun kata dia cukup besar, rasio likuiditasnya sangat besar terhadap IHSG sehingga memperkokoh perseroan yang berhasil melakukan efisiensi. Karena itu, lanjut dia tidak heran jika banyak menajer investasi yang masuk ke TLKM sehingga menjadi katalis positif bagi pergerakan harga sahamnya.

Sementara untuk ISAT, John mengatakan tampaknya masih terganggu dari sisi kesehatan finansialnya. Selain itu dari sisi produk dan core business-nya, ISAT juga tidak memiliki cukup positioning yang jelas, apakah ingin bermain di 3G-nya atau beradu dari sisi kejernihan suara. Karena itu, menurut John, saham ISAT masih sideways pada kisaran Rp6.000-an dengan support Rp5.800 dan resistance Rp6.500 dalam bulan ini. “Saya rekomendasikan sell untuk ISAT,”tandasnya. (lia)