Saatnya Kolam Susu Menjadi Lautan Energi

Energi Arus Laut :

Sabtu, 27/10/2012

Bila dahulu Koes Plus mengibaratkan lautan Indonesia bak kolam susu, kini dengan teknologi arus bawah laut, hamparan perairan nan luas diyakini sebagai kolam energi. Mungkinkah?

NERACA

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang luar biasa. Dengan luas perairan seluas 3,1 juta km persegi, dan ratusan selat besar dan kecil yang tersebar seantero nusantara menjadikan Indonesia memiliki keuntungan dalam mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).

PLTAL dibuat dengan memanfaatkan selat atau teluk yang mengalami penyempitan ruang aliran arus laut. Pada daerah itu, arus laut akan mengalami percepatan dengan menghasilkan energi yang sangat besar. Inilah energi yang digunakan untuk menggerakkan turbin sebagai pembangkit tenaga listrik.

Sebenarnya ada empat macam energi terbarukan yang berasal dari laut, yaitu; tenaga gelombang laut, tenaga arus laut akibat pasang surut dan tenaga panas laut. Bahkan energi pasang surut yang dihasilkan akibat interaksi bumi-bulan, diperkirakan mampu menghasilkan daya hingga 3.17 TW setiap hari. Daya yang terbilang sangat besar dibanding seluruh kapasitas terpasang pembangkit listrik di dunia pada tahun 1995 silam, yakni hanya 2.92 TW.

Pada prinsipnya, teknologi pemanfaatan energi dari laut adalah melalui konversi tenaga kinetik masa air laut menjadi tenaga listrik. Beberapa negara bahkan telah berhasil melakukan instalasi pembangkit energi listrik dengan memanfaatkan energi arus dan pasang surut, mulai dari prototype turbin hingga mencapai turbin skala komersial dengan kapasitas 1,2 MW/turbin, seperti di Skotlandia, Swedia, Perancis, Norwegia, Inggris, Irlandia Utara, Australia, Italia, Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Tak Sederas Keinginan

Ditengah lonjakan subsidi BBM yang menggerus anggaran Pemerintah hingga Rp 200 Trilyun, pengembangan PLTAL memang menawarkan segudang keuntungan. Selain menjamin ketersediaan pasokan energi listrik yang ramah lingkungan dan pembangunan yang relative cepat, ketergantungan terhadap energi fosil pun dapat dilakukan.

Namun sayangnya kebijakan pemerintah belum sepenuhnya mendukung pengembangan energi terbarukan arus laut. Karena hingga kini, belum ada spesifik pengembangan energi terbarukan tenaga arus laut secara hukum.

Keputusan Presiden No 5/2006, tentang Kebijakan Energi Nasional dan UU No 30/2007 tentang Energi, memang secara spesifik belum mencakup soal pemanfaatan energi arus laut. Padahal pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut seharusnya menjadi prioritas pemerintah karena berbiaya murah dan ramah lingkungan.

Dalam Lokakarya Percepatan Pengembangan Energi Laut pada Juni 2012 lalu di Bandung, Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) sekaligus Anggota Dewan Energi Nasional Prof Dr Mukhtasor, mengatakan bahwa pengembangan energi laut memang belum akan menjadi solusi jangka pendek, satu atau dua tahun mendatang.

Sebenarnya strategi implementasi energi laut dapat menempuh double tracks. Pertama, mendorong pemanfaatan teknologi dalam negeri, yaitu pembangkit listrik skala kecil, untuk memperluas akses listrik di pedalaman dan/atau pulau-pulau terpencil. “Karena pembangkit listrik arus laut dan gelombang laut skala 20-100 KW dapat diproduksi oleh produsen nasional,” tegas Mukhtasor.

Strategi kedua adalah dengan menjalin kerja sama internasional dalam implementasi energi laut skala menengah dan besar agar energi laut dapat memperkecil ketergantungan bahan bakar minyak (BBM).

Karena itu, ASELI mengusulkan kepada Pemerintah agar dapat membuat program perintisan pembangkit listrik arus laut, dimulai dengan pembangunan pilot percontohan 1 MW lebih dulu, dan setelah sukses diamati dalam tiga tahun, kapasitas tersebut dapat ditingkatkan menjadi 20-50 MW per lokasi. “Setelah itu, dunia usaha akan ramai mengikuti jejak untuk berbisnis dalam industri yang baru ini,” ungkap dia.

ASELI pun meminta kepada Pemerintah agar tidak saling menunggu dalam pengembangan energi laut. “Pemerintah perlu mengeluarkan panduan yang jelas tentang kewenangan dan perizinan seputar bisnis energi laut, termasuk harga, selain mempercepat terwujudnya pilot percontohan,” ucapnya mengharapkan semangat Pemerintah sederas energi arus laut.