Merancang Bisnis Energi Arus Laut

Sabtu, 27/10/2012

NERACA

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL), sepatutnya menjadi prioritas Pemerintah dalam menekan subsidi BBM, sekaligus menghasilkan energi yang ramah lingkungan.

PLTAL memang sumber energi yang tidak menghasilkan karbon, karena tidak mengalami proses pembakaran seperti pada fosil (minyak bumi). Selain itu, potensi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, dan ratusan selat menjadi sebuah harapan terjaminnya ketersediaan listrik sekaligus terwujudnya ketahanan energi nasional.

Pengembangan teknologi energi arus laut sebenarnya mengadopsi prinsip teknologi energi angin yang telah lebih dulu dikembangkan, yaitu dengan mengubah energi kinetik arus laut menjadi energi rotasi dan energi listrik. Daya yang dihasilkan pun jauh lebih besar dari pada daya yang dihasilkan oleh turbin angin, karena rapatnya massa air laut hampir 800 kali rapat massa udara.

Secara global laut mempunyai sumber energi yang sangat besar yaitu mencapai 280 Trilyun Watt-jam, jumlah yang fantastis. Selain itu, arus laut ini juga menarik untuk dikembangkan sebagai pembangkit listrik karena sifatnya yang relatif stabil dan dapat diprediksi karakteristiknya.

Pada penelitian karakteristik arus laut, sebenarnya telah dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL) dan Program Studi Oceanografi ITB tahun 2005, dengan pengukuran arus laut menggunakan ADCP (Accoustic Doppler Current Profiler) di Selat Lombok dan Selat Alas, mereka membangun instalasi dan mempersiapkan Turbin Kobold buatan Italia berkapasitas 300 kW dibawah koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi.

Dan prototype skala besar (> 80 kW), direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2012-2014 oleh institusi terkait lainnya yang berkewenangan (Ditjen Energi Baru Terbarukan, Puslitbangtek Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan) untuk mengembangkan dan meningkatkan status skala prototipe menjadi skala pilot dan skala komersial.

Diharapkan pada tahun 2025 energi listrik tenaga arus laut yang dihasilkan dari berbagai PLTAL akan mencapai 5% dari sasaran kebijakan energi 25% bauran energi Indonesia.