Industri Rumput Laut Perlu Pengembangan

Penghasil Terbesar Dunia

Selasa, 23/10/2012

NERACA

Jakarta – Berkembangnya industri pangan, industri kosmetik, industri pupuk, industri energi terbarukan berbasis rumput laut baik Nasional maupun Global sebenarnya sangat menguntungkan bagi posisi Indonesia sebagai Negara penghasil rumput laut terbesar di dunia. Prospek industri rumput laut sebagai wujud nyata dari gagasan Blue Economy memerlukan adanya platform sebagai landasan program dalam pengembangan dari sektor hulu sampai hilir di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis mengatakan, Blue Economy sebagai suatu landasan riil untuk mengembangkan perekonomian berbasis aquatic resources sudah saatnya menjadi back-bone perekonomian bangsa Indonesia yang hidup di Negara maritim. “Sebagai bahan baku, rumput laut memiliki lebih dari 500 end product. Artinya, rumput laut sebagai bahan baku penggunaannya luas dan banyak dibutuhkan oleh industri baik pangan maupun non pangan. Untuk industri, rumput laut bisa berperan sebagai pengenyal, pengemulsi, pengental, penjernih, dan sebagainya,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (22/10).

Ke depan, pihaknya berharap rumput laut sebagai bahan pencampur alami tidak hanya eksis dengan agar-agar dan carageenan saja, tetapi bisa lebih menampilkan produk-produk jadi yang berasal dari ekstraksi rumput laut. “Di pameran-pameran mendatang kita harus bisa menampilkan end product rumput laut, karena tidak hanya menguntungkan bagi perdagangannya saja tetapi juga untuk peluang investasi budidaya dan pengolahannya,” ujar Safari.

Rangsang Perekonomian

Secara alami, lanjut dia, pengembangan industri hilir yang berbasis community development seperti yang bisa diterapkan pada rumput laut berpeluang melibatkan masyarakat pantai sebagai aktor. Artinya, bahwa perekonomian masyarakat pantai dan kepulauan dapat dirangsang dari industri rumput laut. Namun, menurut dia kesinambungan antara industri hilir dan hulu yang belum terancang secara cermat seperti yang terjadi sekarang mengakibatkan terganggunya supply chain.

Melihat kondisi demikian, untuk memudahkan perencanaan industri rumput laut ARLI merekomendasikan agar pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan dan semua pemangku kepentingan dapat menciptakan road map industri rumput laut untuk mewujudkan optimalisasi rumput laut dalam Blue Economy.

“Kesinambungan antara industri hulu dan hilir dapat terjamin, sehingga masyarakat rumput laut secara terstruktur dan optimal dapat berperan. Selain itu, road map akan memudahkan dalam mengidentifikasi berbagai dimensi dari suatu kawasan yang dianggap prioritas untuk pembangunan industri rumput laut sehingga pola pengembangan industrinya pun akan jelas dan terarah,” papar Safari.

Pihaknya berharap, road map Industri rumput laut dapat menjadi platform pentingnya industrialisasi rumput laut sebagai unggulan komparatif di Indonesia, sehingga pada gilirannya road map dapat digunakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian lain yang terkait maupun oleh para pemangku kepentingan.