Produksi Alat Berat "Tergilas" Penurunan Sektor Tambang

Harga Komoditas Terus Bergejolak

Senin, 22/10/2012

NERACA

Jakarta - Hingga akhir tahun ini produksi alat berat nasional diperkirakan mencapai 8.000 unit atau 75% dari target awal tahun akibat menurunnya permintaan dari sektor pertambangan dan harga komoditas yang terus bergejolak.

“Tahun ini, permintaan alat berat di pasar dalam negeri semakin menurun. Imbasnya, produksi alat berat hanya menyentuh 8.000 unit dan tidak sesuai proyeksi awal tahun yang mencapai 10.000 unit,” kata Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi) Pratjojo Dewo di Jakarta, Jumat (19/10).

Harga komoditas global, menurut Dewo, sering mengalami penurunan dan melemahkan permintaan alat berat. “Penurunan harga komoditas membuat daya beli konsumen di dalam negeri semakin menurun sehingga kami harus merevisi target produksi tahun ini,” ujarnya.

Pihaknya berharap perekonomian global bisa membaik sehingga sebelum tutup tahun, produksi alat berat bisa digenjot untuk mencapai target tahunan. “Pelaku usaha berharap kondisi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa terus meningkat sehingga daya beli konsumen juga semakin besar. Hal ini berpengaruh terhadap investasi di sektor alat berat,” paparnya.

Selain harga komoditas, penurunan permintaan alat berat di sektor pertambangan akibat dari pemberlakuan bea keluar ekspor barang mineral non olahan sesuai Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara. Aturan tersebut melarang ekspor barang mineral non olahan pada 2014 sehingga mempengaruhi industri alat berat nasional.

Di tempat berbeda, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengakui, saat ini kebutuhan alat berat memang sangat penting, terlebih lagi untuk sektor tambang dan pertanian.

Menurut Budi, pertumbuhan kebutuhan kendaraan angkut untuk industri alat berat nasional akan terus mengalami peningkatan, terutama untuk sektor pertambangan, pertanian dan konstruksi. “Seperti di alat angkut konsumsi untuk kebutuhan ekonomi pengakutan gabah, bahan bangunan, ini akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi,” kata Budi.

Budi mengaku telah meminta kepada pelaku industri alat berat di negara berkembang lainnya untuk memindahkan industrinya ke Indonesia. Pasalnya, untuk pembangunan industri alat berat dibutuhkan beberapa syarat, yaitu adanya industri pertambangan dan pertumbuhan pembangunan baik kontruksi maupun pertanian.

“Ini dua syaratnya, ada negara yang memang sedang berkembang tapi tidak punya pertambangan atau sebaliknya seperti Afrika punya pertambangan tapi tidak ada pertumbuhan ekonomi yang bagus, nah kita punya kedua-duanya,” ujar Budi.

Dia menyebut, sudah ada beberapa investor yang berminat untuk mengembangkan industri alat berat di dalam negeri. Investor tersebut, imbuh Budi, melihat kebutuhan dan pertumbuhan alat berat yang cukup menjanjikan di Indonesia. “Semua merek produsen alat berat yang ada di sini sudah menyatakan minatnya untuk membangun basis produksi di Indonesia,” terangnya.

Budi mengatatakan, untuk 2011, penjualan alat berat diprediksikan akan mengalami penigkatan sebesar 25% dari tahun 2010 yang sebesar 8.000 unit menjadi 10 ribu unit. Budi menuturkan, pertumbuhan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang masih prospektif, terutama pertumbuhan pada harga jual komoditas. Ditambah lagi, pertumbuhan kontruksi dan perhutanan.

Investor AS

Beberapa perusahaan-perusahaan dari Negeri Paman Sam (Amerika Serikat) berminat untuk mengembangkan industri di Indonesia, antara lain industri energi terbarukan. Presiden Dewan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN, Alexander Feldman mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak peluang investasi yang bisa ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat (AS).

“Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk menarik perusahaan-perusahaan yang belum melakukan investasi di sini, karena masih banyak peluang bisnis yang bisa dikembangkan dan menjadi bagian untuk mendorong perekonomian Indonesia,” kata Feldman.

Feldman menuturkan, ada beberapa perusahaan AS yang melakukan investasi di Indonesia, namun masih banyak perusahaan dari AS yang terus mencari peluang investasi di sini khususnya di luar pulau Jawa.

Feldman menambahkan, banyak perusahaan yang menyatakan tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia, namun perwakilan perusahaan itu belum secara spesifik mengatakan tentang di sektor mana akan melakukan investasinya.

“Dengan naiknya peringkat Indonesia menjadi layak investasi seperti yang telah dikeluarkan Moody`s dan Fitch, memang Indonesia menjadi sangat menarik dan membuat kami yakin banyak investor internasional yang akan melakukan investasi di sini,” jelas Feldman.

Namun, kunci untuk menarik investor adalah infrastruktur yang baik, dan perusahaan Amerika seperti Caterpillar mempunyai peluang untuk menawarkan kepada indonesia guna mengembangkan infrastruktur dan pertambangan di seluruh Indonesia.

Hal senada juga dikatakan Direktur Korporasi Hubungan Pemerintahan Caterpillar, Clay Thompson. Menurutnya, perekonomian Indonesia sedang tumbuh, dan pihaknya sangat bersemangat untuk menopang pertumbuhan ekonomi tersebut dan juga mempercepat.