Nilai Transaksi TEI 2012 Bisa Lampaui US$ 2 Miliar - Bangun Gedung Parlemen Afrika

NERACA

Jakarta - Walau hasil transaksi diraih pameran bertaraf internasional terbesar di Indonesia, Trade Expo Indonesia (TEI) ke-27, terhitung hingga hari ketiga (19/10) masih jauh dari target US$2 miliar, yaitu US$641,05 juta atau 32,05% dari target. Ternyata, Kementerian Perdagangan miliki satu senjata pamungkas untuk menyentuh target tersebut. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami, mengatakan pencapaian tersebut belum termasuk hasil transaksi pada hari ke-4 dan ke-5.

Dia mengungkapkan, adanya potensi transaksi antara salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia untuk membangun gedung parlemen di Afrika senilai US$ 2 miliar. “Kami sangat optimis tahun ini dapat mencapai total transaksi sesuai dengan target, atau bahkan melampauinya. Rata-rata 1 gedung bernilai US$400 juta, ini masih dirundingkan,” katanya pada pertemuan pers TEI 2012 di Jakarta International Expo, Sabtu (20/10).

Dari total nilai transaksi tersebut, tercatat US$436,41 juta merupakan nilai transaksi produk, dengan pembeli terbesar dari Saudi Arabia US$200,17 juta (45,87%), diikuti Afrika Selatan US$150,78 juta (34,55%), Australia US$21,87 juta (5,01%), Nigeria US$15,03 juta (3,44%) dan India US$10,77 juta (2,47%).

Transaksi didominasi oleh otomotif dan komponennya sebesar 50,08%, diikuti produk elektronik dan kelistrikan 32,10%, produk kayu 9,68%, kertas dan produk kertas 3,65%, dan alas kaki 1,27%. Sedangkan dari sektor jasa meraih nilai transaksi US$204,64 juta yang sebagian besar disumbang dari permintaan jasa tenaga kerja di bidang hospitality, konstruksi dan jasa pertambangan.

“Kami berharap pelaksanaan TEI yang akan datang dapat semakin sukses, baik dari segi penyelenggaraan, jumlah peserta, jumlah pembeli, keberagaman produk, maupun nilai transaksinya. Untuk mencapai itu semua, tentunya diperlukan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun dunia usaha.” ujar Gusmardi.

Perluas Jaringan Bisnis

Selain itu, penyelenggaraan TEI tidak hanya menjadi sarana promosi dan perluasan jejaring bisnis bagi perusahaan-perusahaan besar, namun juga tentunya bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia. “Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk menerobos pasar luar negeri bagi pelaku usaha Indonesia termasuk UKM, yang sejalan dengan program pemerintah untuk meningkatkan jumlah pelaku ekspor baru yang mampu bersaing di pasar global,” papar Gusmardi.

Pada penyelenggaraan TEI tahun ini, salah satu UKM yang berhasil memperoleh transaksi cukup tinggi adalah rumah bambu dan interiornya yang dihasilkan oleh salah satu produsen dari Yogyakarta. Setelah sukses menembus pasar Australia, dengan keikutsertaannya dalam TEI 2012, perusahaan ini berencana untuk memperluas pasar ekspor ke wilayah Timur Tengah, Asia Pasifik dan Eropa. Selama tiga hari mengikuti TEI, perusahaan ini mendapatkan tawaran Business Project untuk pembangunan hotel, vila dan restoran dari pembeli Mesir, Dubai, Kuwait, Inggris, Amerika Serikat dan Jepang.

Selain itu, produk unggulan lain yang banyak menarik minat pembeli dari Afrika Selatan, Zimbabwe, Sudan dan Jepang yaitu medical cosmetic, kosmetik yang tidak hanya berfungsi untuk kecantikan namun juga untuk kesehatan kulit. Selain kualitas produk, yang menjadi nilai jual dari produk ini adalah kemasan yang elegan dan eksklusif sehingga mampu meningkatkan citra produk itu sendiri.

Gusmardi juga mengungkapkan, pengakuan dunia terhadap kualitas tenaga kerja dan kemajuan Indonesia di bidang informasi teknologi telah dibuktikan pada acara TEI. Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara National African Federated Chamber of Commercial Telecomunication of South Africa dengan PT Piramindo Group untuk proyek pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Afrika Selatan senilai US$142,4 juta.

Related posts