Hingga September, Kinerja BTPN Tumbuh 50%

NERACA

Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp1,4 triliun pada triwulan III 2012, tumbuh 50% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Raihan laba tersebut utamanya disokong oleh kinerja penyaluran kredit yang tumbuh 30% menjadi Rp37,1 triliun pada triwulan ketiga tahun ini, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) nett sebesar 0,39%.

“Ke depan, dengan dukungan para stakeholders, BTPN akan terus melakukan pemberdayaan mass market sekaligus menjaga pertumbuhan dan kualitas kinerja,” kata Wakil Direktur BTPN, Ongki W Dana, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (17/10).

Dana pihak ketiga (DPK) BTPN mencatat terjadi pertumbuhan 30% menjadi Rp42,6 triliun pada akhir September 2012. Demikian aset perseroan mencapai Rp56,5 triliun, juga naik 30%, sementara rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 21,6%.

Menurut Ongki, saat ini BTPN telah melayani lebih dari 1,5 juta nasabah, tumbuh pesat dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, melalui lebih dari 1.200 jaringan kantor yang telah beroperasi secara online realtime, yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Sebelumnya, BTPN mendapatkan pinjaman dari The International Finance Corporation (IFC), anggota dari kelompok Bank Dunia, sebesar US$100 juta equivalen dalam mata uang rupiah. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk memberikan akses pelayanan keuangan yang lebih luas kepada segmen mass market, yaitu pensiunan, pengusaha mikro dan kecil, serta komunitas prasejahtera produktif.

Investasi IFC tersebut akan mendukung BTPN dalam memberikan pinjaman dan melakukan program-program pemberdayaan bagi masyarakat berpendapatan rendah dan wirausaha kecil sehingga mereka dapat menumbuhkan usahanya dan sekaligus tetap menyokong keluarganya.

“Kami gembira dengan kemitraan strategis antara IFC dengan BTPN karena ini akan mendukung kami dalam mewujudkan visi sebagai bank mass market terbaik, mengubah hidup berjuta rakyat Indonesia” ujar Direktur Utama BTPN, Jerry Ng, beberapa waktu lalu.

Ini merupakan investasi IFC yang kedua bagi BTPN. Pada 2009, IFC menyediakan pinjaman senilai US$ 15,7 juta atau equivalen dalam rupiah dan senior loan senilai US$54,1 juta atau equivalen dalam rupiah. Pendanaan mikro merupakan hal penting dalam upaya memerangi kemiskinan.

Akses kepada berbagai jasa pendanaan mikro seperti tabungan, pinjaman dan pemindahan uang memberikan kesempatan bagi keluarga miskin untuk berinvestasi kedalam badan usaha dan nutrisi yang lebih baik, memperbaiki kondisi kehidupan, dan kesehatan serta pendidikan bagi anak-anak mereka.

IFC memberikan masukan dan investasi kepada sektor pendanaan mikro pada negara-negara berkembang dengan memfokuskan diri kepada institusi-institusi pendanaan mikro yang kuat yang dapat berkembang dan memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi. [ardi]

BERITA TERKAIT

PTBA Bidik Pendapatan Tumbuh 20% di 2018 - Garap Proyek PLTU Mulut Tambang

NERACA Jakarta – Optimisme membaiknya harga tambang batu bara di tahun depan, menjadi sentimen positif bagi emiten tambang untuk memacu…

Pasar Apartemen Tetap Tumbuh di Tahun Politik

NERACA Jakarta –Meskipun tahun depan dihantui sentimen politik, para pelaku properti menyakini industri properti masih tetap positif. Apalagi, properti masih…

Mandiri Investasi Bakal Rilis Tiga KIK EBA - Targetkan Dana Kelola Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Tahun depan, PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) menargetkan pertumbuhan total dana kelolaan atau asset under management…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps

      NERACA   Washington - Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya…

Amartha Salurkan Pembiayaan Rp200 miliar

      NERACA   Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) telah menyalurkan pembiayaan dengan model financial technology (fintech)…

Mahasiswa GenBI Diharapkan jadi Garda Terdepan

      NERACA   Bogor - Bank Indonesia (BI) meminta kepada seluruh mahasiswa penerima beasiswa BI dapat mendedikasikan ilmu…