Sentimen Global Hambat Pertumbuhan Reksa Dana

Meleset dari Target 15%

Kamis, 18/10/2012

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) mencatat dana kelolaan reksa dana yang diproyeksikan pada awal tahun 2012, yaitu sebesar 15% diperkirakan akan meleset. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa hal yang mengganjal terpenuhinya target tersebut.

Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto mengatakan, tren suku bunga dan perekonomian global saat ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dana kelolaan reksa dana tersebut. Tren suku bunga, kondisi indeks saham dan perekonomian global berpengaruh terhadap persepsi investor,” kata Abiprayadi Jakarta, Rabu (17/10).

Menurutnya, kondisi tersebut secara tidak langsung berimbas pada kepercayaan investor untuk berinvestasi. Meskipun demikian, dia menuturkan hal yang perlu diperhatikan investor dalam berinvestasi di reksa dana tidak perlu tergantung pada waktu yang tepat atau mengacu kenaikan dan penurunan indeks karena underlying reksa dana bukan hanya di saham.

Kata Abipriyadi, pertumbuhan dana kelolaan reksa dana tetap akan tumbuh sekitar 7-8%. Dana kelolaan tersebut akan didukung dari dana kelolaan reksa dana saham, reksa dana terproteksi sebagai produk investasi yang tercatat menjadi primadona dibanding produk reksa dana lainnya. Lebih lanjut dia menambahkan, apabila tidak ada kejutan dari kondisi ekonomi Eropa dan Amerika Serikat, konsensus perkiraan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akan mencapai 4.400 pada akhir tahun ini juga dapat mendorong pertumbuhan reksa dana.

Sentimen Eropa

Dia menilai, untuk kondisi Amerika Serikat sejauh ini masih baik, tetapi untuk Eropa masih sulit diprediksikan dan akan memakan waktu yang lebih lama. “Konsensus IHSG di level 4.400 dengan catatan tidak ada surprises baru di Eropa dan Amerika Serikat bisa ikut mendukung pertumbuhan reksa dana. Amerika Serikat sejauh ini relatif baik, tapi untuk Eropa mungkin diprediksikan bisa mencapai 10 tahun,”ujarnya.

Beberapa kendala pertumbuhan reksa dana lainnya, kata Abipriyadi yaitu dikarenakan produk reksa dana yang jatuh tempo, seperti reksa dana terproteksi yang saat ini dinilai cukup banyak. Hal tersebut menurut dia secara signifikan menjadi faktor yang menurunkan jumlah total dana kelolaan. Pasalnya saat jatuh tempo, investor bisa saja mengalihkan dananya dan ditempatkan ke instrumen investasi lainnya, seperti emas atau properti. “Produk reksa dana terproteksi jatuh tempo juga tidak sebanding dengan banyaknya produk reksadana terproteksi baru yang diterbitkan manajer investasi, terlebih saat jatuh tempo itu investor bisa saja mengalihkan dananya dan ditempatkan ke instrumen lain seperti emas atau properti.,” paparnya.

Selain faktor kondisi global, Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Denny Thaher pada awal pekan ini mengatakan, e-chanelling juga menjadi salah satu factor yang dapat mendukung pertumbuhan reksa dana. Namun, hal tersebut tampaknya belum dapat direalisasikan saat ini. Salah satu alasannya yaitu terkait aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) tentang prinsip pengenalan nasabah yang harus dilakukan secara langsung. Karena itu, hingga saat ini pihak APRDI sedang berkonsultasi dengan regulator untuk menyempurnakan prosedur pendaftaran, pembelian dan penjualan reksa dana agar dapat dilakukan via online.

APRDI menargetkan, total dana kelolaan reksa dana hingga 5 tahun mendatang dapat mencapai 10% terhadap PDB Indonesia. Total dana kelolaan reksa dana sendiri diperkirakan dapat tumbuh menjadi Rp175 triliun pada 2012. Sementara itu, dari data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) tercatat, dana kelolaan dari Januari-September 2012 mencapai kenaikan sebesar 4,7%. (lia)