Waspadai Minimnya Keluhan Akibat Penyakit Tiroid

Sabtu, 27/10/2012

NERACA

Pengobatan kelainan kelenjar tiroid terus mengalami kemajuan dan utamanya bertujuan untuk hasil yang lebih baik dan meminimalkan efek samping. Kemajuan terus diupayakan dimulai dari pendeteksi penyakit, pemeriksaan laboratorium, ultrasonografi (USG), laparoskopi, operasi, hingga pemberian obat-obatan.

Di lain pihak, masyarakat perlu mewaspadai minimnya keluhan akibat penyakit tiroid yang disebabkan autoimun (tiroid autoimun). Hal ini seringkali menyebabkan masyarakat datang ke dokter dalam keadaan lanjut.

Ketua Umum Asian Oceania Thyroid Association (AOTA) ke-10, Prof. Dr. Johan S. Masjhur, SpPD, KEMD mengatakan, sekitar 300 juta orang penduduk dunia menderita kelainan atau penyakit tiroid (gondok) seperti akibat kekurangan asupan iodium, gangguan fungsi (hipertiroid atau hipotiroid), dan kanker tiroid.

“Penderita dengan kelainan atau penyakit tiroid yang sama juga banyak ditemukan di Indonesia, yang bila ditangani dengan baik dapat mengakibatkan komplikasi yang membahayakan kehidupan dan penurunan kualitas hidup,” tuturnya.

Pada tindakan operasi tiroid yang luas, mengandung risiko yang dapat mengakibatkan metabolisme terganggu yang ditimbulkansetelah operasi. Oleh karena itu, pasca pembedahan pasien perlu melakukan kontrol secara rutin.

Metode lainnya, yaitu dengan melakukan teknik ablasi, yaitu suatu teknik dengan pemberian yodium radioaktif yang akan merusak sel pada kelenjar tiroid yang mengalami kelainan. Metode ini juga dipakai pada pascaoperasi dalam kasus kanker tiroid.

Berbicara mengenai tiroiditis autoimun, Dr. dr. Imam Subekti, SpPD, KEMD mengatakan, tiroiditis autoimun merupakan suatu proses akibat tubuh gagal mengenali bagian tubuhnya sendiri. Dengan kata lain, tubuh justru menyerang sel sendiri. Dalam hal ini kelenjar tiroid. Kelainan ini sering terjadi pada wanita dan dapat menyebabkan hipertiroid atau hipotiroidisme atau keduanya. Sehingga disebut penyakit autoimun.

Gejala Tiroiditis

Penyakit Tiroiditis Hashimoto merupakan jenis tiroiditis yang paling sering ditemukan dan paling sering terjadi pada wanita usia lanjut dan cenderung diturunkan. Penyakit ini sering dimulai dengan pembesaran kelenjar tiroid yang tidak menimbulkan nyeri atau rasa penuh di leher.

Sedangkan, jika diraba kelenjar terasa membesar, teksturnya seperti karet tetapi tidak lembut, kadang terasa berbenjol- benjol. Pada awalnya, pasien tidak merasakan keluhan nyata kecuali dengan adanya pembesaran kelenjar tiroid.

Apabila tidak terdeteksi, penyakit akan berjalan terus hingga keadaan hipotiroidisme menjadi nyata. Barulah muncul keluhan akibat kekurangan yodium dan membawa pasien mencari pertolongan.