Perkembangan Jasa Penukaran Uang

Sabtu, 20/10/2012

NERACA

Money changer yang biasa disebut sebagai pedagang valuta asing adalah kegiatan jasa tukar-menukar mata uang. Pada kegiatan perdagangan internasional, pembeli dan penjual memiliki nominal uang dalam mata uang yang berbeda.

Oleh karena itu, si pembeli membutuhkan kepemilikan atas mata uang yang digunakan penjual agar bisa melakukan transaksi jual beli. Dalam hal ini, pedagang valuta asing bertugas sebagai perantara jua beli internasional dengan menyediakan jasa penukaran mata uang.

Pada awalnya, kegiatan jasa tukar-menukar uang yang disebut-sebut sebagai asal mula bank modern yang dikenal sekarang sudah ada di Eropa sejak abad pertengahan (Middle Age) sebelum abad ke 16. Ketika perdagangan antar-wilayah mulai terjadi yakni dengan munculnya pedagang-pedagang yang berkeliling di daratan Eropa, dan pertukaran mata uang mulai diperlukan, maka lahirlah yang namanya money changer.

Menurut Raymond De Roover (1948), pada saat itu berbagai kota di benua Eropa membuat uang dengan berbentuk koin dan bergambar penguasa wilayah (raja) dari mana uang tersebut berasal. Para pedagang datang ke suatu kota dengan tujuan berbelanja di pasar dan mereka harus menukarkan uang yang dimiliki kepada money changer setempat agar bisa mendapatkan mata uang lokal sehingga dapat bertransaksi di kota tersebut.

Nilai tukar mata uang yang satu dengan yang lain tidaklah harus setara. Hal ini tergantung pada mekanisme pasar perdagangan internasional. Nilai tukar tradisional zaman dahulu dinilai dengan cara yang sederhana, yakni dengan cara menilai uang asing berdasarkan jenis material yang digunakan. Setelah mempertimbangkannya, pedagang asing mulai menentukan nilai tukar mata uang asing tersebut kedalam mata uang lokal.

Sedangkan, pembayaran untuk transaksi besar tidak dilakukan secara tunai, namun menggunakan transfer dana berdasarkan pembukuan yang dibuat oleh money changer, yang secara tidak langsung money changer pada saat itu juga menciptakan sistem kliring. Setelah perdagangan selesai di akhir hari, para pedagang berkumpul di money changer untuk mengambil uang yang mereka simpan sebelumnya.

Pada masa itu, money changer juga menjadi sebuah lembaga yang menentukan apakah uang yang ditukar tersebut asli atau palsu. Jika uang tersebut asli, maka money changer dapat menerimanya sebagai simpanan setelah memperhitungkan nilai konversi dalam mata uang lokal.

Seiring dengan semakin maraknya perdagangan antar-wilayah, money changer pun semakin berkembang. Kini, jasa penukaran mata uang asing dapat dengan mudah ditemukan, terutama di daerah pariwisata, bandar udara internasional, dan area perbatasan dua negara.

Walaupun sifat asalnya seperti perusahaan dagang biasa namun ada karakter khusus sehingga perlu diberi rambu-rambu pengaturannya. Karena itulah Bank Indonesia sebagai lembaga yang mengeluarkan izin usaha money changer, mengeluarkan ketentuan terkait dengan money changer sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.9/11/PBI Tahun 2007 tentang Pedagang Valuta Asing.