Bangun Double Track, Pemerintah Terbitkan Sukuk

Rabu, 17/10/2012

NERACA

Jakarta - Pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur darat salah satunya adalah pembangunan double track, akan tetapi kecukupan anggaran untuk mendanai proyek-proyek tersebut masih belum memadai sehingga pemerintah merasa perlu menebitkan obligasi dalam hal ini adalah sukuk syariah untuk mendanai proyek tersebut.

“Untuk Tahun Anggaran 2013, pemerintah telah merencanakan penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk untuk pembiayaan proyek double track Cirebon-Kroya di Kementerian Perhubungan,” ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Utang Robert Pakpahan, di Jakarta, Selasa (16/10).

Dia menjelaskan bahwa nantinya penerbitan SBSN akan menggunakan Barang Milik Negara (BMN) baik yang teridentifikasi maupun yang belum teridentifikasi. “Penggunaan yang tidak teridentifikasi maksudnya adalah yang dimanfaatkan sebagai general financing sedangkan penggunaan SBSN yang teridentifikasi adalah yang langsung di-earmarked atau ditentukan dengan proyek,” tambahnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas, Dedy Supriadi menjelaskan bahwa untuk proyek kereta api setidaknya dibutuhkan pendanaan sebesar Rp9 triliun dari penerbitan SBSN. “Untuk pembiayaan kereta api dibutuhkan biaya sebesar Rp9 triliun dan itu akan dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Dedy menuturkan dari sejumlah proyek yang diusulkan, baru satu yang disetujui. Hal tersebut lantaran sukuk berbasis proyek merupakan penerbitan percobaan dulu. “Percobaan dulu, seperti apa. Kami mengusulkan banyak sekali proyek yang dibiayai sukuk, tapi untuk sementara ini 2013, yang disetujui hanya satu dulu Cirebon-Kroya untuk proyek kereta api,” ujarnya.

Proyek ini awalnya dibiayai oleh kontraktor asal China. Namun, saat tender, dana yang dibutuhkan melampaui estimasi pemerintah. Alhasil proyek ini diusulkan untuk didanai oleh rupiah dan pinjaman luar negeri.

Dedy mengungkapkan total dana yang dibutuhkan proyek ini mencapai Rp1,5 triliun. Adapun rinciannya, Rp1 triliun pada 2013 dan Rp0,5 triliun pada 2014. Inilah yang diajukan sebagai proyek yang akan didanai melalui penerbitan sukuk project financing.

“Yang oleh Rupiah ada sebagian yang belum bisa dikerjakan karena dananya kurang, jadi itu diusulkan akan didanai dari sukuk,” ujarnya. Proyek double track kereta api ini menghubungkan Cirebon, Jawa Barat dengan Kroya, Purwokerto, Jawa Tengah sepanjang 158 kilometer. Dengan pembangunan jalur ganda kereta api, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas lintasan dari 90 kereta menjadi 180 kereta per hari.

Adapun proyek ini mencakup pembangunan 206 jembatan beton, underpass, fly over, dan persinyalan elektrik di 5 stasiun, yaitu Stasiun Patuguran, Legok, Karangsari, Karanggandul, dan Purwokerto.

Sekedar informasi, berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Utang, selama periode 2008-2012, penggunaan BMN mencapai Rp74,47 triliun. Dari jumlah tersebut, BMN yang telah digunakan sebagai aset SBSN sebesar Rp60,59 triliun sementara yang belum dipakai sebesar Rp13,06 triliun.

Penggunaan BMN hingga akhir tahun diperkirakan mencapai Rp11 triliun sehingga saldo akhir tahun sebesar Rp2,06 triliun. Robert menjelaskan, sisa BMN yang belum digunakan sebagai aset SBSN pada 2013 bisa di-carry over atau dialihkan sebagai underlying asset pada penerbitan tahun-tahun berikutnya. [bari]