Pembangunan Infrastruktur Kurang Perhatian - Terlalu Fokus Jaga Stabilitas

Terlalu Fokus Jaga Stabilitas

Pembangunan Infrastruktur Kurang Perhatian

Jakarta---Realisasi pembangunan proyek infrastruktur di Indonesia terus terkendala. Alasannya pemerintah hanya fokus dan sibuk mengendalikan stabilitas sehingga pembangunan infrastruktur kurang diperhatikan. “Sejak orba jatuh, infrastruktur terkendal terus. Bahkan kita praktis bergulat pada mengendalikan stabilitas agar terjaga dengan baik. Sehingga infrastruktur tidak dibangun dengan baik," kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution ketika memberikan kuliah umum, di FE UI, Depok, Rabu (27/4/2011).

Lebih jauh Darmin menilai kebijakan pemerintah belum mampu memberi dukungan terhadap berbagai proyek infrastruktur. Sehingga tak sedikit pembangunan menjadi terhambat. Akibatnya, cost yang dikeluarkan justru lebih banyak ketimbang untuk membiayai pembangunan. "Misalnya listrik di luar Jawa, Sulawesi misalnya. Salah satu pulau yang lain, listrik akan mati lima sampai enam kali,”tambah Darmin.

Bahkan kata mantan Dirjen Pajak ini, kalau listrik mati 5-6 kali. Maka tak ada investor yang mau masuk. “Bagaimana mau bangun pabrik? Mereka harus beli genset, berarti tarif listrik bisa dua kali lipat, dibandingkan dengan PLN," jelasnya.

Di samping itu, lanjut Darmin, lambannya pembangunan infastruktur di Indonesia juga disebabkan oleh bermacam-macam factor dan keadaan. "Kelemahan di pemerintahan, macam-macam," imbuhnya.

Ditempat terpisah, rencana pembangunan infrastruktur kereta api yang menghubungkan wilayah metro Mamminasata (Makassar, Maros, Sunggimanasa, Takalar) di Sulawesi Selatan (Sulsel) baru bisa dilakukan mulai tahun 2015.

Kepala Satuan Kerja Kereta Api Mamminasata Kementerian Perhubungan, Jumardi, melalui telepon, Rabu, mengatakan, studi kelayakan yang memakan waktu empat tahun membuat realisasi pembangunan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. "Kajian yang kami lakukan harus mempertimbangkan banyak aspek, antara lain masalah lingkungan, potensi ekonomi hingga operasional. Kajian dimulai tahun ini, jadi 2015 nanti pembangunan baru bisa dimulai," ujarnya.

Dia menjelaskan, pada tahap awal ini dilakukan survei yang telah berjalan sekitar dua bulan. Keseluruhan survei akan berlangsung enam bulan, berakhir paling lambat Oktober.

PT Insan Mandiri, pemenang tender survei, sudah melakukan survei institusional dengan mengambil data di Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sulawesi Selatan, serta dinas-dinas perhubungan kabupaten/kota di kawasan Mamminasata. "Anggaran survei sebesar Rp500 juta diambil dari APBN," katanya.

Jumardi menambahkan, nilai investasi dan panjang jalur yang menghubungkan satu kota dan tiga kabupaten itu belum bisa ditentukan hingga seluruh tahapan survei diselesaikan.

Namun sebagai gambaran, biaya pembangunan infrastruktur KA yang melekat di tanah mencapai Rp20-Rp30 miliar per km. Sementara yang berjenis kereta melayang, seperti di Stasiun Gambir Jakarta, mencapai Rp50-Rp60 miliar per km. "Memang mahal, tapi itu bisa bertahan 20-30 tahun. Biaya perawatannya juga lebih murah dari perawatan jalan aspal," katanya.

Sementara itu, Kepala Dishubkominfo Sulsel, Masykur Sulthan mengatakan, rencananya jaringan KA di Mamminasata dibangun sepanjang 200 kilometer. Proyek itu maupun proyek pembangunan jaringan KA Makassar-Parepare sepanjang 150 kilometer diharapkan jadi cikal bakal perkerataapian di Pulau Sulawesi.

Sementara ini, kedua pembangunan jalur KA itu dalam tahapan studi rancang bangun (master plan). Hasil kajian itu nanti yang digunakan untuk memilih jalur yang menguntungkan secara ekonomi. "Yang jelas, jalur kereta itu akan menjadi solusi kecenderungan kemacetan yang mulai timbul di jalur lalu lintas di empat wilayah ini," ujarnya. **cahyo

Related posts