BEI Diminta Cermati Dampak Asean Linkage

Dinilai Belum Siap

Rabu, 17/10/2012

NERACA

Jakarta- Rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk bergabung dengan bursa negara Asia lainnya dalam ASEAN Linkage pada 2015, menimbulkan banyak pertanyaan soal kesiapan dan termasuk infrastruktur. Meskipun dengan terintegrasinya bursa di negara-negara Asia tersebut dimaksudkan untuk lebih mempermudah akses investasi bagi para investor.

Pengamat pasar modal, Yanuar Rizki menilai, hal tersebut bukan merupakan langkah yang mendesak untuk dilakukan saat ini. Bahkan, kata Yanuar, dengan terjadinya penyatuan Bank Kustodian dalam ASEAN linkage bisa jadi merugikan pasar modal dalam negeri. “Dengan penyatuan kustodian, bursa Indonesia bisa keteteran.” Katanya di Jakarta, Selasa (16/10).

Yanuar mengatakan, otoritas bursa Indonesia harus banyak melakukan pembenahan sebelum memutuskan untuk bergabung dengan ASEAN Linkage. Kesiapan dari sisi infrastruktur dan subtsansial harus lebih dulu di persiapkan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam sistem perdagangan. “Dengan bergabung dalam ASEAN linkage memang bisa membuat bursa go public, tapi yang lebih penting sekarang adalah melakukan pembenahan infrastruktur lebih dahulu.” tandasnya.

Jika ASEAN Linkage, tentunya untuk meningkatkan jumlah investasi seiring bertambahnya pilihan investasi bagi investor. Namun, lanjut Yanuar kondisi ini akan merepotkan pencatatan lantaran infratruktur pasar modal Indonesia belum siap.

Picu Saham Tidur

Oleh karena itu, dirinya menyakini dengan bergabungnya bursa dalam ASEAN linkage bisa menjadi kunci untuk membuka akses investasi. Namun hal itu lebih lanjut juga bisa menjadikan semakin banyaknya saham-saham tidur di bursa Indonesia. “Pelaku asing akan lebih diuntungkan karena mereka lebih aktif, dan akan semakin menambah saham-saham tidur dari emiten yang sudah ada.” jelasnya.

Direktur PT MNC Securities, Budi Ruseno, konsekuensi dengan bergabungnya Indonesia ke dalam ASEAN Linkage adalah harus adanya regulasi yang mengatur besaran transaksi. “Transaksi harus dibatasi dengan tujuan agar menyelamatkan saham tidak diborong investor asing. Atau sebaliknya dana investor lokal banyak yang lari ke bursa negara regional karena membeli dengan intensif saham-saham di luar negeri.” jelasnya.

Menurut Budi, otoritas bursa Indonesia harus meningkatkan keterbukaan emiten kepada publik atau investor. Karena dengan semakin terbuka pasar saham maka akan menjadi pintu asing untuk menerobos dan mengincar saham-saham likuid di dalam negeri.

Meskipun demikian, Budi mengakui, dengan bergabungnya Indonesia dengan negara-negara Asia tenggara lainnya akan membawa dampak positif pada bursa domestik. Banyaknya keuntungan bagi investor domestik maupun asing dengan adanya pilihan lebih banyak untuk berinvestasi pada saham-saham lain baik di bursa domestik maupun luar negeri.

Kata Budi, dengan terintegrasinya bursa ASEAN, emiten tidak perlu khawatir saham yang dilepas pada IPO akan sepi peminat. Karena hal tersebut merupakan kesempatan bagi perusahaan yang belum mencatatkan sahamnya. “Yang jelas, ASEAN Linkage meerupakan tantangan bagi manajemen bursa seberapa besar kesiapan sistem perdagangan di bursa untuk bersaing di pasar regional.”ungkapnya.

Sebagai informasi, pasar modal Indonesia berencana bergabung dengan Asean Linkage 2015 dan hal tersebut diaminan Direktur Utama BEI Ito Warsito yang pernah bilang, pihaknya bersedia bersama ketujuh negara lainnya ikut dalam pertemuan di Taipei. Indonesia dan Vietnam akan mengikuti mekanisme perdagangan saham Asean yang akan menarik banyak investor dan para investor lokal dapat mengakses langsung saham di negara anggota lainnya. Sebelumnya hanya tiga negara yang menyatakan diri siap untuk menggabungkan diri dalam Asean Linkage yakni Kuala Lumpur, Singapur, dan Thailand. (lia)