BPS Prediksi April Berpotensi Deflasi

BPS Prediksi April Berpotensi Deflasi

Jakarta ---Prakiraan sementara dari kajian Badan Pusat Statistik (BPS) kemungkinan pada April 2011 kembali terjadi deflasi. Alasannya terjadu penguatan tren penurunan harga pangan, terutama seperti cabai merah dan bawang merah. “"Potensi deflasi ada, produk pangan volatile seperti cabai merah, bawang merah masih mengalami penurunan harga yang cukup tajam,” kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,27/4.

Selain cabai dan bawang, kata Rusman, penurunan juga terjadi pada komoditas utama, seperti beras. Sehingga dorong deflasi makin kuat. “Beras sebagai kontributor inflasi. Terlihat ada penurunan harga, meski tidak setajam beberapa waktu lalu. Tapi tetap menunjukkan harga yang menurun. Hal ini memberikan sumbangan pada deflasi," tambahnya.

Lebih jauh kata Rusman, potensi kuat terjadinya deflasi pada April ini, juga disebabkan, pemerintah menunda pemberlakukan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi, dimana kebijakan tersebut, akan berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa. "Pemerintahan tidak melakukan suatu kebijakan yang berpotensi menaikkan harga, seperti pembatasan BBM, menaikkan harga premium, TDL (Tarif Dasar Listrik).

Diakui Rusman, penundaan pembatasan BBM bersubsidi bisa membebani APBN. Namun kebijakan itu justru berdampak positif pada inflasi. “Memang tidak baik pada APBN tapi tidak memicu kenaikan harga barang dan jasa. Dengan penjelasan tersebut maka potensi deflasi masih bisa. Kalau pun tidak terjadi deflasi, inflasinya tidak terlalu besar, nol koma nol nol sekian," ujarnya.

Yang memberikan tekanan inflasi pada bulan ini, tambah Rusman, adalah harga emas dan perhiasan yang menunjukkan tren harga yang masih tinggi. "Dalam rekaman kita, bahan pokok hampir gak ada, pemerintah juga tidak bikin suatu kebijakan yang membuat kenaikan harga, kalaupun naik itu fluktuatif biasa saja. Hanya saja emas perhiasan karena harga cukup tggi, harga dunianya di atas harga biologis, di atas 1500 dolar, mahal, jadi jangan beli emas dulu," imbuhnya.

BPS sebelumnya mencatat pada Maret 2011 terjadi deflasi 0,32% disebabkan karena penurunan harga bahan pokok seperti cabai dan beras. Inflasi kumulatif Januari-Maret 2011 adalah 0,7%, sementara inflasi yoy di Maret mencapai 6,65%.

Ditempat terpisah, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution juga memproyeksikan terjadinya deflasi di April 2011 ini. Harga bahan makanan yang stabil mendorong deflasi April 2011 bisa mencapai 0,25%. "Ya April 2011 kemungkinan deflasi. Year on year-nya turun jadi 6,3-6,4%.

Malah Darmin berani memperkirakan kemungkinan deflasinya itu berkisar 0,15% sampai 0,25%. “Ya, Deflasinya itu sekitar 0,15%-0,25% penurunannya," tegasnya.

Menurutnya, faktor yang mempengaruhi inflasi adalah volatile food yang harganya turun."Tetapi yang perlu diperhatikan itu di mana yang di luar kendali itu harga emas perhiasan. Tetapi itu hubungannya dengan moneter internasional," tutupnya. **cahyo

Related posts