Klaim Oversubcribed, Lippo Kembali Terbitkan Obligasi US$ 100 Juta

Tingginya permintaan pasar obligasi memberikan berkah bagi PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed). Oleh karena itu, perseroan menambah nilai obligasi senior yang bakal diterbitkan sebesar US$100 juta dengan jangka waktu 7 tahun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (16/10). Disebutkan, penerbitan obligasi ini merupakan penambahan terhadap obligasi US$150 juta yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh LPKR yang jatuh tempo 2019, sehingga menjadi US$250 juta.

Obligasi ini diterbitkan pada harga 105,25, dengan yield 5,879%. Jumlah pesanan atas obligasi ini mencapai US$840 juta atau oversubscribed 8,4 kali. Untuk aksi korporasi ini, perseroan telah menunjuk Deutsche Bank bertindak sebagai Sole Global Coordinator dan Bookrunner, sementara Bank of America Merryl Lynch, Credit Suisse dan Citi bertindak sebagai Joint Bookrunners.

Obligasi baru yang jatuh tempo 2019 ini mendapat peringkat B1 dari Moody’s, BB- stable dari S&P dan BB- stable dari Fitch. Sebanyak 87% dari obligasi ini dialokasikan bagi para investor dari Asia dan sisanya dialokasikan bagi para investor Eropa. Asset Managers mendapat alokasi 80%, private banks 9%, dan banks 11%.

Sreenivasan Iyer, Head of Deutsche Bank Capital Markets and Treasurey Solutions untuk Asia Tenggara mengatakan dengan yield sebesar 5,879%, untuk obligasi 7 tahun bagi penerbit obligasi Indonesia merefleksikan kualitas dan track record dari penerbit obligasi tersebut dan profil investasi Indonesia yang makin menarik. “Kesuksesan penerbitan obligasi LPKR dengan pricing yang agresif ini, menunjukkan keyakinan pasar akan strategi, bisnis, prospek pertumbuhan dan manajemen Perseroan,"kata Presiden Direktur LPKR Ketut Budi Wijaya.

Rencananya, dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan digunakan perseroan untuk melanjutkan ekspansi pengembangan rumah sakit, mal ritel dan untuk keperluan Perseroan lainnya. Rasio Net Debt to Equity LPKR untuk 2012 diestimasikan mencapai 30%.

S&P menyatakan peningkatan hutang LPKR tidak akan mengubah profil risiko keuangan LPKR. S&P berharap rasio lease-adjusted Debt to EBITDA membaik menjadi kurang dari 4,5 kali pada akhir 2013, didukung oleh penjualan properti yang kuat, meningkatnya kontribusi dari rumah sakit-rumah sakit baru dan penjualan aset-aset kepada kedua REITs yang tercatat di Bursa Efek Singapura. (bani)

BERITA TERKAIT

Gelar TTI Business Forum - Krista-Hippindo Promosikan Investasi ke Ratusan Investor

Krista Exhibitions bersama Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) kembali menyelenggarakan Trade, Tourism & Invesment Business Forum (TTI) 2020. Forum…

Esta Multi Usaha Bidik IPO Rp 31,25 Miliar

Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Esta Multi Usaha Tbk akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebanyak 250 juta…

Perdagangan Saham Nipress Disuspensi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau suspen perdagangan efek pada PT Nipress Tbk (NIPS) sejak sesi I…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Peran Teknologi Mampu Pangkas Disparitas Pendidikan

Pesatnya pertumbuhan teknologi digital mempunyai nilai plus dan minus. Namun hal tersebut bagaimana kita menyikapinya. Begitu juga dengan dunia pendidikan,…

Hadir di Muslim Fashion Festival - BNI Syariah Tebar Beragam Promo Menarik

BNI Syariah menawarkan beberapa promo menarik dalam acara Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2020. MUFFEST 2020 diselenggarakan di Cendrawasih Room dan…

Geliatkan Transaksi Pasar ETF - BEI Berikan Insentif Hapus Biaya Transaksi

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan pasar exchange traded fund (ETF), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah melakukan pembangunan infrastruktur,…