Perusahaan Jepang Ancam Hentikan Investasi US$ 30 Juta

Serikat Pekerja Lakukan Intimidasi

Rabu, 17/10/2012

NERACA

Jakarta – Ketua umum Himpunan Alat Berat Indonesia (Hinabi), Pratjojo Dewo, mengungkapkan maraknya intimidasi dilakukan serikat pekerja dengan menyekap karyawan dan pemilik perusahaan di kawasan industri Bekasi membuat investor alat berat asal Jepang akan menghentikan investasi senilai US$30 juta.

“Sejak 4 bulan yang lalu, isu – isu mengenai outsourcing sering merugikan perusahaan. Pasalnya, serikat pekerja mengintimidasi karyawan dan pemilik pabrik di kawasan industri Bekasi untuk mengangkat para karyawannya,” kata Pratjojo di Jakarta, Selasa (16/10).

Lebih jauh lagi Prajoto memaparkan sampai dengan saat ini, serikat pekerja telah melakukan tindakan sweeping terhadap 120 perusahaan di Bekasi. “Tindakan tersebut dilakukan oleh serikat pekerja di luar perusahaan yang disweeping,” paparnya.

Imbas dari aksi Serikat pekerja, lanjut Dewo, investor asal Jepang mengurunkan niatnya untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “2 Perusahaan asal Jepang disektor alat berat tidak jadi berinvestasi akibat tidak ada jaminan keamanan dan tenaga kerja di wilayah Bekasi. Hal ini membuat industri alat berat mengalami kerugian sekitar US$30 juta,” ujarnya.

Dewo menambahkan, jika masalah ini terus dibiarkan, maka investor tidak akan melirik Indonesia sebagai negara tujuan investasi. “Pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan peningkatan yang bagus, namun tindakan serikat pekerja membuat investasi di kawasan industri semakin menurun dan investor lebih memilih negara lain untuk menanamkan modalnya,” tandasnya.

Pengaruhi Investasi

Di tempat yang sama, Ketua forum Investor, Dedy Harsoyo mengungkapkan, tindakan sejumlah oknum pekerja ini akan mempengaruhi investasi, maraknya demo akhir-akhir ini tidak otomatis membuat investor hengkang. Namun sudah ada beberapa investor yang menunda dan berpikir dua kali untuk berinvestasi di Indonesia.

Untuk kasus Indonesia sendiri masih sedikit terlihat adanya kasus relokasi atau turunnya investasi asing. Karena, terbukti investasi asing ke Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Klaim pengusaha tentang seringnya demo buruh membuat investor takut atau relokasi ke negara asing, bertentangan dengan data yang dirilis BKPM yang menyatakan Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan favorit FDI (Foreign Direct Investment) di kawasan Asia, yang dibuktikan dengan peningkatan volume FDI setiap tahun.

Dari berbagai studi yang dilakukan, faktor pendorong investasi asing memilih sebuah negara untuk investasi, biasanya dimulai dari (1) ketersediaan infrastruktur, termasuk energi (2) peraturan investasi dan perpajakan, (3) faktor keamanan, (4) ketersediaan bahan baku, (5) kecepatan pengembalian modal (ROI), (6) faktor ketenagakerjaan.

Sementara itu, Menteri Perindustrian MS Hidayat meminta agar selalu mengedepankan dialog dan tidak mengambil jalan pintas untuk berdemonstrasi. Demo itu katanya tidak menyelesaikan masalah. “Masalah outsourcing bisa diselesaikan dengan jalan perundingan tripatrit (unsur pemerintah, buruh, pengusaha),” kata Hidayat.

Yang jelas, kata dia, masalah yang dihadapi buruh sebaiknya dibicarakan dalam meja perundingan. Jangan berdemo. Demo itu menambah masalah. “Serahkan melalui perundingan tripartit. Tidak melalui demo yang ujung-ujungnya tidak menyelesaikan masalah. Tetapi menambah masalah,” kata Hidayat.

Saat buruh berdemo, itu merugikan semua pihak. Ya buruhnya, pengusahanya dan bahkan masyarakat pada umumnya. “Di lapangan bisa menimbulkan kekacauan dan menghambat proses produksi. Padahal di seluruh dunia, buruh melakukan demo itu sah-sah saja. Tapi jangan sampai menghambat produksi. Kalau menghambat, mereka (buruh) kehilangan pekerjaan. Kita saling membutuhkan. Dan saya yakin bisa diselesaikan,” tuturnya.

Dia mengatakan, akan mendiskusikan mengenai isu-isu ketenagakerjaan, bahkan Hidayat menyebut akan berbicara serius terkait isu outsourcing. Karenanya ia meminta kisruh outsourcing diselesaikan di tripartit. Bukan cara-cara yang tidak produktif alias berdemo.