Membudidayakan Tanaman Obat dan Kelestarian Alam

Sabtu, 20/10/2012

Meski Indonesia memiliki sedikitnya 940 jenis tanaman obat namun minat masyarakat membudidayakannya masih dirasa lemah. Saatnya memetik manfaat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

NERACA

Hutan tropis beserta keanekaragaman hayati merupakan sumber daya alam Indonesia yang tak ternilai harganya. Saat ini sekitar 9.600 spesies diketahui berkhasiat obat, namun baru sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku pada industri obat tradisional.

Terlebih kawasan hutan Indonesia memiliki 30.000 jenis tumbuhan dari 40.000 jenis tumbuhan yang ada di dunia. Dari seluruh tanaman obat di Asia, 90 persen di antaranya tumbuh di Indonesia. Dan sedikitnya 10.000 industri obat tradisional dan puluhan industri jamu berskala besar membutuhkan pasokan bahan baku tanaman. Namun, kegiatan budidaya belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

Dalam rangka mendukung pengembangan agroindustri tanaman obat Indonesia, Ditjen POM telah menetapkan 13 komoditi unggulan tumbuhan obat yaitu; temulawak, jati belanda, sambiloto, mengkudu, pegagan, daun ungu, sanrego, pasak bumi, daun jinten, kencur, pala, jambu mete dan tempuyung.

Dengan pertimbangan bahwa komoditi tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi, mempunyai peluang pasar dan potensi produksi yang tinggi serta berpeluang dalam pengembangan teknologi. Peluang pengembangan obat tradisional Indonesia masih terbuka lebar karena permintaan pasar yang terus meningkat seiring dengan laju pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi dan menyadari mahalnya obat sintetik saat ini.

Potensi tumbuhan obat asli Indonesia dapat terlihat dari kontribusinya pada produksi obat dunia. Sebagai contoh dari 45 macam obat penting yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang berasal dari tumbuhan obat tropika, 14 spesies di antaranya berasal dari Indonesia di antaranya tapak dara penghasil senyawa vinblastin yang berkhasiat sebagai obat anti kanker dan pule pandak penghasil senyawa reserpin yang berkhasiat sebagai obat hipertensi.

Obat bahan alami atau biofarmaka Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis, obat herbal terstandar yaitu obat tradisional yang sudah melewati tahap uji pra klinis dengan hewan uji, dan fitofarmaka, yaitu obat tradisional yang sudah melewati uji praklinis dan klinis yang diterapkan pada manusia.

Mendorong Pembudidayaan

Sejalan dengan perkembangan industri jamu, obat herbal fitofarmaka dan kosmetika tradisional, juga mendorong berkembangnya budidaya tanaman obat di Indonesia.

Selama ini upaya penyediaan bahan baku untuk industri obat tradisional sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di alam liar sehingga beberapa jenis mulai langka, atau dibudidayakan dalam skala kecil di lingkungan sekitar rumah dengan kuantitas dan kualitas yang kurang memadai.

Oleh karena itu perlu dikembangkan aspek budidaya yang sesuai dengan standar bahan baku obat tradisional agar tanaman obat Indonesia yang sangat kaya jenisnya ini bisa berkembang dan sejajar dengan tanaman obat tradisional negara lain yang sudah lebih dahulu go internasional seperti Cina dan Korea.

Pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah yang umumnya dikelilingi pagar, bila dimanfaatkan secara maksimal dapat berperan sebagai pemberi keindahan dan keasrian, sekaligus apotik hidup dan warung hidup yang memudahkan kita memperoleh obat alami dan bumbu dapur yang masih segar.

Pemanfaatan tanah pekarangan dapat dilakukan dengan budidaya sistem vertikultur, potisasi, tabulapot, serta diverifikasi tanaman pangan. Baik sebagai apotik Hidup misalnya jahe, lengkuas, kunyit, kumis kucing, daun dewa, seledri, lidah buaya dan lain sebagainya.

Atau yang disebut warung hidup, yaitu tumbuhan pada lahan sempit ataupun luas dengan aneka tumbuhan yang berguna untuk pelengkap sayuran, bumbu atau buah buahan. Tanaman ini bisa ditanam di pekarangan langsung, bisa juga ditanam dalam pot daur ulang, seperti kaleng biskuit yang besar atau bekas ember cat, yang penting bisa membuat tanaman nyaman.