Saatnya Reksa Dana Jadi Pilihan Investasi Utama

Minat Investor Masih Rendah

Selasa, 16/10/2012

NERACA

Jakarta - Peningkatan produk reksa dana di tengah melesatnya kelas menengah Indonesia menjadi andalan bagi para manajer investasi, termasuk Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI). Meski hanya mencatatkan jumlah investor reksa dana yang tergolong masih sangat kecil, yaitu baru sekitar 161 ribu, industri reksa dana diperkirakan akan terus tumbuh.

Pasalnya, bukan reksa dana bukan sekadar instrumen investasi, melainkan bisa meng-cover kebutuhan masyarakat di masa mendatang. Karena itu, pihak APRDI bersikukuh untuk menjadikan reksa dana tidak lagi menjadi alternatif investasi. “Kami ingin keluarga Indonesia mulai menjadikan reksa dana sebagai pilihan utama berinvestasi, bukan lagi sebuah alternatif untuk berinvestasi,” jelas Wakil Ketua APRDI, Denny R. Taher di Jakarta (15/10).

APRDI optimistis target dana kelolaan reksadana akhir tahun ini bisa mencapai Rp180 triliun karena menurut Denny, kinerja reksadana saham, khususnya konsumer dan perbankan saat ini cukup baik. Selain itu, sejumlah perusahaan manager investasi juga berencana menerbitkan produk baru.

Sebut saja, PT Danareksa Investment Management yang berencana akan menerbitkan kembali empat produk baru setelah baru saja menerbitkan dua produk reksa dana, yaitu Danareksa Mawar Rotasi Sektor (MARS, reksa dana saham), dan Danareksa Melati Pendapatan Utama (fixed income/pendapatan tetap). Keempat reksa dana tersebut terdiri dari jenis terproteksi sebanhyak tiga produk dan satu produk sekuritisasi (EBA-efek beragun aset).

Selain Danareksa Investment Management, PT Bahana Investment Management saat ini juga sedang menggodok untuk meluncurkan produk reksa dana baru, yaitu dua produk equity fund, untuk mid dan small cap. Saat ini tercatat, perseroan diperkirakan mengelola sekitar 51 reksa dana yang terdiri dari reksa dana saham, terproteksi, campuran, pendapatan tetap, indeks, dan pasar uang.

Ramai Produk Baru

Selain banyaknya varian dari produk reksa dana, lanjut Denny untuk membeli reksa dana dapat dilakukan melalui perbankan ataupun secara langsung melalui perusahaan manajer investasi, dan sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp100-250 ribu untuk setiap pembelian. Imbal hasil investasi di reksa dana dinilai jauh lebih menarik daripada produk-produk investasi lain termasuk simpanan deposito di perbankan.

Optimistis APRDI tampak dari jumlah dana kelolaan yang tidak sebanding dengan simpanan masyarakat di perbankan yang mencapai Rp 2.984 triliun per Agustus 2012. Sementara hingga April 2012 total rekening nasabah perbankan sebanyak 101.531.209 rekening.

Padahal jika dibanding negara lain, persentase dana kelolaan reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sangat rendah. Di tahun 2011, persentasenya hanya 2,2% dari total PDB Indonesia senilai Rp 7.427 triliun. Sementara di tahun 2010, di Malaysia persentasenya sudah sekitar 49%, Thailand 20% ataupun Filipina yang sudah 19,5%.

Kecilnya jumlah investor reksa dana ini sangat ironis ditengah melesatnya kelas menengah Indonesia. Dimana, berdasarkan survey Bank Dunia tahun 2010, populasi kelas menengah dengan pengeluaran US$ 2 hingga US$ 20 dollar per hari mencapai sekitar 134 juta. “Salah satu ciri kelas menengah adalah kebutuhan terhadap investasi makin tinggi. Makanya, agak ironis juga jika investor reksa dana masih kecil seperti sekarang. Karena itu, kami juga terus melakukan sosialisasi. Antara lain menggelar pekan reksa dana nasional pada 18 21 Oktober di Atrium Laguna, Central Park,” papar Denny.

Karena itu, melalui Pekan Reksa Dana Nasional yang diselenggarakan APRDI (18-21 Oktober) di Atrium Laguna, Mall Central Park, pihaknya berharap masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai reksa dana termasuk mengelola resikonya sehingga memiliki potensi keuntungan yang optimal sekaligus meningkatkan pertumbuhan reksa dana. (lia)