Antisipasi Guncangan Ekonomi Global

Selasa, 16/10/2012

Hasil pertemuan menteri keuangan di IMF dan Bank Dunia di Tokyo pada akhir pekan lalu, ternyata menyikapi dua hal penting. Pertama, optimisme Eropa saat ini memiliki infrastruktur kebijakan yang mampu mengatasi guncangannya. Kedua, perpecahan pendapat antara IMF dan Jerman mengenai penting atau tidaknya bailout dikucurkan oleh sejumlah negara terhadap Yunani.

Negara maju seperti Swiss, dan Jepang saat ini bersiaga seiring penguatan mata uang mereka. Sementara pimpinan Bank Sentral Korea Selatan mengimbau untuk terus menambah stimulus. Sementara Rusia dan Brazil menyerukan agar negara-negara kaya segera memperbaiki kondisi perekonomian mereka.

Tidak hanya itu. Perekonomian global sekarang menghadapi guncangan utama jilid tiga atas pertumbuhan dalam lima tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah perekonomian emerging market, mulai dari China hingga Brazil, terlihat mulai melambat. Apalagi jika diramalkan China akan mengumumkan pertumbuhan ekonominya yang diprediksi tumbuh 7,4% pada kuartal lalu. Jika itu terjadi, angka itu menjadi pertumbuhan paling lambat dalam tiga tahun terakhir.

Perlambatan ekonomi China tentu akan memukul perekonomian negara kaya yang saat ini sudah melemah kekuatannya. Penurunan sekitar 1% atas pertumbuhan ekonomi China, menurut Bank Dunia, menyebabkan penurunan harga komoditas sebesar 1,5 poin. Kondisi ini mengancam negara yang kaya komoditas seperti Kanada. Di sisi lain, 80% produk dari negara ini diimpor dari Jepang, Korsel, dan Taiwan. Sementara itu, Jerman juga menderita akibat perlambatan permintaan dari capital goods mereka.

Patut diketahui, kekuatan negara maju setelah tiga tahun pasca negara-negara industri memimpin dunia keluar dari resesi subprime mortgage semakin menipis. Kondisi itu semakin memburuk akibat krisis utang Eropa. Salah satu buktinya dapat dilihat dari prediksi pertumbuhan Dana Moneter Internasional (IMF) yang hanya mencatatkan pertumbuhan rata-rata 5,8% dalam lima tahun hingga 2016 mendatang. Angka tersebut lebih rendah 2% dari periode posisi lima tahun sebelum krisis 2009.

Lantas bagaimana dampaknya terhadap Indonesia. Menurut Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle, negeri ini memiliki tantangan untuk bisa menjaga pertumbuhan ekonomi hingga saat ini, apalagi di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

"Kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat, tetapi masih terdapat risiko penurunan yang cukup besar terhadap perkiraan ekonomi dunia,"ujarnya Jakarta, Senin (15/10).

Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia akan tumbuh 6,1% pada akhir 2012 dan sedikit meningkat menjadi 6,3% di 2013. Namun, Indonesia jelas tidak akan luput dari pengaruh perlemahan dunia internasional. Ini akibat risiko berlanjutnya ketidakpastian di zona Eropa, kemungkinan terjadinya kontraksi fiskal di AS, dan risiko pelambatan lebih lanjut di sejumlah mitra perdagangan utama Indonesia, terutama China.

Karena itu, Indonesia harus meningkatkan kesiagaan menghadapi krisis jangka pendek. Selain itu, perlu meningkatkan fokus, khususnya terhadap upaya struktural jangka panjang yang bertujuan mendorong pertumbuhan, seperti memperkuat investasi pada infrastruktur baru, keterampilan dan pendidikan, serta memperkuat perlindungan sosial. Kualitas belanja pemerintah, baik alokasi maupun efisiensinya juga perlu ditingkatkan. Semoga!