BNI Catatkan Kredit Non Migas Capai Rp 2,12 Triliun

Selasa, 16/10/2012

NERACA

Jakarta – PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan kredit pertambangan non-migas naik 42%, dari Rp1,74 triliun pada akhir 2011 menjadi Rp2,12 di akhir semester I 2012. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (15/10).

Direktur Utama Gatot M Suwondo mengatakan, pertumbuhan itu terjadi karena layanan perbankan yang diberikan BNI kepada sektor pertambangan, baik migas dan non-migas, merupakan salah satu sektor unggulan yang diprioritaskan, “Bagi BNI pertambangan merupakan salah satu dari delapan sektor unggulan yang diprediksi akan berkembang dalam 5 tahun ke depan dan menjadi fokus ekspansi bisnis BNI,”katanya.

Oleh karena itu, secara umum kredit pertambangan BNI masih didominasi oleh pertambangan di sektor migas. Selama 2011 lalu, kredit BNI di sektor minyak, gas, dan pertambangan tumbuh signifikan sebesar 68% menjadi Rp11,9 triliun. Saat ini, BNI memberikan kredit kedelapan sektor diantaranya pertanian, komunikasi, kelistrikan, perdagangan, minyak, gas dan pertambangan, konstruksi dan industri permesinan, industri makanan dan minuman dan kimia serta pupuk.

Kata Gatot, kredit perbankan pada sektor pertambangan non-migas tumbuh dari Rp15,2 triliun di tahun 2009 menjadi Rp50,4 triliun pada pertengahan tahun 2012. Pertumbuhan tersebut mencapai rata-rata sekitar 50% per tahun atau jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan total kredit perbankan yang rata-rata berkisar 25% per tahun.

Pertumbuhan yang signifikan tersebut, didukung pula oleh rasio non performing loan (NPL) sektor pertambangan non-migas yang menurun dari 4,4% di tahun 2009 menjadi 0,9% pada pertengahan tahun 2012. Dari data industri, Indonesia merupakan pengekspor batu bara terbesar ke dua dunia setelah Australia. Lebih dari 78% produksi batubara nasional di eskpor ke luar negeri terutama ke China (18,7%), Jepang (15,0%), India (14,5%) dan Korea Selatan (14,4%). (bani)