Proteksionisme Hambat Kinerja Ekspor

Selasa, 16/10/2012

NERACA

Jakarta - Poros ekonomi global kini telah dalam pergeseran yang signifikan. Di tahun 1990-an, Negara-negara maju yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat 60% sumbangannya terhadap perekonomian dunia. Namun, dalam dua dekade terakhir, hal itu telah berbalik. Dan pada tahun 2030, negara-negara yang tengah bangkit itu diperkirakan akan menyumbang 60% ekonomi dunia.

Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO) Pascal Lamy mengatakan, seiring dengan semakin tumbuhnya pasar domestik masing-masing negara Asia, perdagangan sesama negara Asia dapat menutup penurunan ekspor akibat melemahnya permintaan pasar global. Kuncinya, menurut dia, adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin hambatan perdagangan antar negara.

Lamy mengakui dewasa ini ada kecenderungan meningkatnya proteksionisme di berbagai negara. “Ini dapat dipahami. Di tengah krisis, masih banyak negara yang berpikir untuk melindungi kesempatan kerja di dalam negeri, mereka harus memproteksi ekonomi mereka. Tapi ini jelas telah terbukti salah. Perdagangan antar negara harus semakin terbuka," terangnya pada pertemuan pers World Export Development Forum 2012, Senin (15/10).

Lamy mengatakan dewasa ini hambatan perdagangan berupa tarif lebih tinggi di negara-negara sedang berkembang ketimbang di negara maju. "Jadi kami di WTO berharap agar negara-negara sedang berkembang mengurangi hambatan tarif tersebut," katanya. Perdagangan menjadi faktor kunci dalam memulihkan pertumbuhan di tengah terjadinya perlambatan ekonomi global.

Asia, menurut Lamy, akan menjadi mesin pertumbuhan yang besar bila hambatan perdagangan dapat dikurangi. "Asia merupakan mesin pertumbuhan yang sangat besar. Coba bayangkan, sebagian besar negara-negara emerging berada di Asia. Ada China, India dan Indonesia. Selain itu, negara-negara Asia umumnya sudah saling berdagang satu sama lain, sehingga Asia akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia," jelasnya.

Perdagangan Meningkat

Lamy mengatakan, perdagangan di Asia tidak lama lagi akan setara dengan perdagangan di Eropa dan sudah jelas lebih besar bila dibandingkan dengan perdagangan di Amerika Selatan dan Afrika. Terkait meningkatnya proteksionisme, serta penurunan volume perdagangan global tahun depan, Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan mengatakan, akan semakin sulit untuk mendobrak benteng proteksionis di negara mana pun, apabila pertumbuhan ekonomi tidak mengalami kemajuan.

“Apalagi di negara-negara maju, termasuk di Eropa Barat dan Amerika itu sangat menentukan. Kalau terjadi pemulihan mereka lebih mudah melihat dan menyikapi secara proaktif dan positif untuk konsesi yang diberikan,” jelasnya. Gia menjelaskan, semakin mudah negara-negara maju melakukan perubahan postur dan pola pikir, akan memungkin bisa dianggap agak membatasi.

Tapi, ada juga negara-negara berkembang yang membangun tembok the great barriers. Dia berpendapat, bahwa tembok itu bisa dirubuhkan kalau mereka lebih mengerti dan mengetahui aspirasi dari negara seperti kita. “Karena ada unsur perbedaan persepsi dan interpretasi mengenai kebijakan kita. Kalau kita sederhana, kita hanya ingin naik di rantai nilai ini. Makanya kita mau menganjurkan supaya investasi di dalam negeri lebih meningkat dan terjadi bukan hanya transfer modal tapi juga transfer teknologi,” pungkas Gita.