Indonesia Lirik Perdagangan Afrika Bernilai US$35 Miliar

NERACA

Jakarta - Potensi perdagangan sub-Sahara Afrika telah menunjukkan bahwa wilayah tersebut bisa meningkatkan GDP (Gross Domestic Product) tahunan sebesar US$15 miliar. Sedangkan senilai US$20 miliar dapat ditambahkan ke ekonomi sub-Sahara Afrika setiap tahun dengan meningkatkan infrastruktur transportasi, sehingga mendapatkan jalur perdagangan ke pelabuhan. Sehingga Sub-Sahara Afrika bisa meraup US$35 miliar per tahun dari investasi fasilitasi perdagangan dan infrastruktur.

Melihat bagaimana sub-Sahara Afrika bisa mencapai keberlanjutan yang lebih besar dalam pendapatan ekspor dengan meningkatkan ekspor ke pasar pertumbuhan di Asia dan Afrika, dan pada saat yang sama mengintegrasikan lebih dalam nilai-rantai, meningkat pangsa barang setengah jadi dan barang jadi.

“Angka besarnya GDP dunia kurang lebih US$70 triliun, dengan volume atau perdagangan dunia US$31 triliun. Kalau volume perdagangan yang terkait dengan negara Selatan-Selatan yang terdiri dari 120an negara kurang lebih US$8,5 triliun. Saya percaya pertumbuhan ini akan dobel digit ke depan, potensinya sangat besar,” ujar Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan pada acara World Export Development Forum 2012 di Jakarta, Senin (15/10).

Oleh karena itu, perlu mengidentifikasi pilihan strategis dan kebijakan untuk sub-Sahara Afrika untuk memaksimalkan terkait dengan perdagangan pertumbuhan mereka sampai tahun 2025. Gita berpendapat bahwa hal ini dapat dicapai dengan memasuki pasar pertumbuhan di Asia dan Afrika melalui investasi dalam perdagangan yang berhubungan dengan infrastruktur dan fasilitasi perdagangan di Afrika itu sendiri.

Sebagai reorientasi ekspor dari sub-Sahara Afrika jauh dari stagnasi ekonomi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) menuju Asia telah dimulai, analisa International Trade Center menunjukkan bahwa perdagangan antara Afrika Barat dan Asia akan tumbuh sebesar 14% setiap tahun dalam dekade berikutnya, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan perdagangan diperkirakan global yang terjadi saat ini. Bagaimana pun, pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan ekspor komoditas, bukan nilai tambah barang.

Sementara di perdagangan intra-regional Afrika, barang olahan terdiri dari 46% dari ekspor non-migas, hanya sedikit 5% dari ekspor non-migas dari sub-Sahara Afrika ke Asia merupakan barang yang melalui proses. Untuk meningkatkan ekspor produk olahan ke Asia, negara-negara Afrika perlu menarik investasi Asia di sektor manufaktur. "Ini adalah tantangan utama benua yang dihadapi," ujar Direktur Eksekutif ITC Patricia Francis.

Patricia mengatakan, terjadi peningkatan ekspor barang olahan ke Eropa dan di Afrika. Tapi untuk sementara pasar Afrika tumbuh dengan kuat, mereka di Eropa stagnan. Untuk meningkatkan pangsa nilai tambah produk ke Asia, negara-negara Afrika harus berbuat lebih banyak untuk menarik dan diversifikasi investasi dan tidak hanya di industri pertambangan, tetapi dalam manufaktur juga.

Related posts