Garuda dan Lion Siap Kuasai Low Cost Carrier

Pasca AirAsia Batalkan Akuisisi Batavia

Senin, 15/10/2012

NERACA

Jakarta – Keputusan Air Asia membatalkan akuisisi Batavia Air memberikan angin segar bagi pesaingnya, karena masih terbuka lebar untuk peluang mengakuisisi Batavia Air dan termasuk menguasai pangsa pasar bisnis penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Tadjuddin Noer Said mengatakan, apabila AirAsia telah mengumumkan akuisisi maka apabila terdapat pembatalan harus disertai juga dengan pengumuman yang serupa. “Alasan pembatalan akuisisi harus dijelaskan kepada publik dikarenakan proses akuisisi Batavia Air oleh AirAsia sudah menjadi informasi public,”katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, isu ini telah menciptakan citra buruk bagi AirAsia dan mitranya PT Fersindo Nusaperkasa karena waktu akan akuisisi sudah gembar-gembor duluan, tetapi kemudian tiba-tiba tidak jadi akuisisi dan dengan itikad baiknya maka harus dipublikasikan kepada publik apabila terdapat pembatalan.

Tadjuddin menuturkan, pembatalan ini bisa terjadi karena sebuah perusahaan pasti punya pertimbangan khusus. Sebelumnya KPPU telah mengindikasikan adanya kejanggalan dalam proses akuisisi Batavia Air oleh AirAsia. Dalam aturan persaingan usaha, laporan akuisisi seharusnya sudah dilaporkan AirAsia kepada KPPU dalam waktu satu bulan setelah pengumuman akuisisi.”Laporan akuisisi AirAsia itu tidak kunjung sampai di meja saya, meskipun pengumuman akuisisi Batavia Air oleh AirAsia sudah terjadi sejak tiga bulan yang lalu,” ungkapnya.

Klaim Kuasai Pasar

Asal tahu saja, ambisi AirAsia mencaplok saham Batavia Air senilai US$ 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar bakal mendominasi pasar penerbangan berbiaya murah. Terlebih perseroan mengklaim bisa menggeser pemain utamanya seperti Garuda Indonesia dan Lion Air.

CEO AirAsia Berhard Tony Fernandes pernah bilang, akuisisi Batavia Air karena punya potensi sinergi sangat luar biasa dan akan berdampak positif pada Grup AirAsia, khususnya Indonesia AirAsia, “Saya percaya sinergi ini akan menghadirkan penerbangan hemat berkualitas kelas dunia bagi masyarakat Indonesia,”ujarnya.

Fernandes menjelaskan, akuisisi Batavia Air merupakan kesempatan fantastis bagi AirAsia untuk mempercepat rencana ekspansi maskapai di Indonesia, salah satu pasar penerbangan yang paling menarik di Asia. Hal ini juga menegaskan optimisme AirAsia atas potensi pertumbuhan bisnis penerbangan di Indonesia.

Sebelumnya, pesaingnya PT Lion Mentari Airlines, Indonesia mengumumkan, akan meluncurkan maskapai penerbangan bertarif murah baru bersama perusahaan Malaysia NADI, yang akan menantang maskapai bertarif murah Malaysia, AirAsia.

Maskapai baru Malindo Airways akan memulai penerbangan regional pada Mei tahun depan dengan armada penerbangan 12 pesawat Boeing 737, kata maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia, yang beroperasi sebagai Lion Air, dan National Aerospace and Defense Industries (NADI) Malaysia.

Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana mengatakan, perusahaan sedang menghitung peningkatan perjalanan di wilayah Asia Pasifik yang diperkirakan memiliki 2,2 miliar penumpang pada 2030 dan membutuhkan 11.450 pesawat baru untuk memenuhi permintaan.

NADI, yang mengkhususkan diri dalam jasa pemeliharaan, perbaikan dan overhaul, akan memiliki 51% saham dari perusahaan patungan. Lion Air akan memasok armada, berbasis di Bandara Internasional Kuala Lumpur, “Kami memberikan harga yang terjangkau tetapi dengan layanan yang lebih baik, “ungkapnya.

Sedangkan PT Garuda Indonesia Tbk mengaku siap mengambil pasar penerbangan biaya murah melalui anak usahanya Citilink. Direktur Utama Citilink Arif Wibowo mengatakan, pihaknya mengaku tidak takut dalam bersaing karena pasar punya segmen sendiri. Perseroan juga tetap optimis mampu bersaing, karena pasar di Indonesia masih belum mengenal dengan baik mengenai bentuk business LCC yang modern. Disamping itu, hal yang membedakan Citilink dengan low cost Airlines lainny adalah Citilink merupakan anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk yang sudah memiliki reputasi dan standar yang baik.

Bahkan guna menyiasati persaingan ketat tersebut, pihaknya akan menambah penerbangan regional pada tahun depan, "Tahun 2012 kita fokus memperkuat domestik, SIUP kita ada 70 penerbangan domestik, 16 rute regional dari Kemenhub. Tahun depan kita sudah masuk regional," ungkapnya.

Sementara untuk penerbangan regional, maskapai ini hanya membidik penerbangan yang mempunyai durasi terbang tidak lebih dari 3 jam. Hal tersebut dilakukan karena untuk menghemat atau efisien khas penerbangan dengan tarif murah. (mohar/bani)