Krisis Ekonomi Global Hantui Nilai Transaksi Obligasi

Senin, 15/10/2012

NERACA

Jakarta - Ketidakpastian yang terjadi pada perekonomian global ternyata juga perdampak pada transaksi perdagangan obligasi tahun ini. Pasalnya, nilai transaksi perdagangan pada obligasi tercatat mengalami penurunan sekitar 3,18%, atau dari Rp1.300 triliun di tahun 2011 menjadi Rp1.259 triliun di tahun 2012. Padahal sampai dengan saat ini diketahui pemerintah sangat bergairah untuk melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN).

Pengamat obligasi PT Lembaga Penilai Harga Efek, Fakhrul Aufa mengatakan, selain faktor ketidakpastian pada perekonomian global, juga dimungkinkan adanya peralihan kepada instrumen investasi lain yang dinilai lebih menguntungkan. “Kondisi yang sedang volatile membuat investor cukup menahan diri. Saat ini kebanyakan dari investor juga sudah kembali masuk ke pasar saham, melihat indeks yang juga bergerak naik,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Meskipun demikian, lanjut Fakhrul permintaan terhadap obligasi dengan seri-seri bertenor panjang masih cukup banyak diminati oleh investor. Dia menilai, untuk obligasi pemerintah melalui SUN masih mencatatkan permintaan yang cukup baik.

Hal itu karena para investor lebih melihat kepada fundamental perekonomian Indonesia yang saat ini dinilai cukup bagus. “Untuk demand tidak ada masalah, namun karena yang ditransaksikan tidak begitu besar sehingga berpengaruh pada total nilai transaksinya,” tandasnya.

Sementara untuk obligasi korporasi, menurut dia juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan SUN karena imbal hasil yang ditawarkan lebih tinggi. Namun, kata Fakhrul obligasi korporasi untuk di pasar sekunder agak sulit ditransaksikan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pengamat obligasi PT BNI Securities, Josua Pardede. Dia mengatakan, penurunan yang terjadi pada nilai transaksi obligasi merupakan dampak eksternal yang terjadi di Eropa, Amerika, dan juga beberapa negara lainnya. “Melihat dari jumlah yang dimenangkan oleh pemerintah pada lelang SUN sepanjang 2012 tidak sebesar jumlah yang dimenangkan pemerintah tahun lalu.” jelasnya.

Menurut Josua, untuk obligasi seri acuan FR0058 sebagai seri acuan tenor panjang atau patokan merupakan seri yang paling likuid karena paling sering ditransaksikan tahun ini. Seri tenor panjang lainnya, kata dia adalah seri FR0065 juga dinilai akan menggantikan seri acuan FR0058 yang cukup banyak diminati tahun ini.

Josua menilai, saat ini investor lebih memilih untuk bermain di instrumen investasi yang aman dan memiliki return yang cukup menguntungkan, seperti emas. Pasalnya, harga emas saat ini cukup tinggi, bahkan di akhir tahun 2012 diperkirakan bisa mencapai Rp600.000 per gram.

Josua optimistis pasar obligasi di kuartal IV akan lebih baik dan lebih banyak ditransaksikan karena tampaknya di akhir tahun akan terjadi banyak surplus. “Suku bunga acuan yang masih dipertahankan oleh Bank Indonesia sebesar 5,75% menjadi nilai yang cukup kompetitif dibandingkan negara lainnya, dan hal itu sangat memungkinkan terjadinya peningkatan pada instrumen investasi,” paparnya.

Dari data PT Bursa Efek Indonesia, total nilai transaksi obligasi pemerintah sepanjang 2012 yang mengalami penurunan sebesar 3,18% juga terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang turun sebesar 5,26% atau dari Rp7,13 triliun di tahun 2011 menjadi Rp6,76 triliun. (lia)