Jelang Akhir Tahun, Penerbitan Obligasi Capai Rp 49 triliun

NERACA

Jakarta – Jelang akhir tahun, perusahaan yang bakal menerbitkan obligasi semakin ramai dan hingga 12 Oktober, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penerbitan obligasi telah mencapai Rp 49,01 triliun dan US$ 20 juta dari 38 emiten.

Informasi tersebut didapatkan dari data BEI akhir pekan kemarin. Sebelumnya, ada PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menerbitkan obligasi I PNM tahun 2012 senilai Rp500 miliar berjangka waktu lima tahun. Obligasi tersebut mendapatkan rating idA dari PT Pefindo. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Dengan pencatatan itu, maka total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 197 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp173,50 triliun dan US$100 juta diterbitkan oleh 94 emiten. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 94 seri dengan nilai nominal Rp829,50 triliun dan empat Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp1,15 triliun.

Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ronald A.Kasim pernah bilang, penerbitan obligasi dapat mencapai Rp50 triliun-Rp60 triliun pada 2012. Pihaknya masih memiliki mandat dalam pipeline untuk penerbitan obligasi ada 23 perusahaan dengan nilai Rp24,9 triliun. Mandat penerbitan obligasi tersebut ada juga yang diterima pada 2011.

Selain itu, dampak krisis ekonomi Eropa dinilai hanya berdampak 1-2 bulan terhadap pasar obligasi. Adapun sektor pertambangan memang dinilai paling terpengaruh karena situasi global. "Tahun ini baru satu saja yaitu sektor pertambangan batu bara yang menunda penerbitan obligasi karena pasar was was," ujar Ronald.

Obligasi BII Rp 3 Triliun

Ronald memperkirakan, kemungkinan penerbitan obligasi pada 2013 minimal sama dengan tahun 2012. Asal tahu saja, industri keuangan perbankan juga meramaikan penerbitan obligasi akhir tahun ini, sebut saja PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I Bank BII tahap II tahun 2012 senilai Rp2 triliun dan obligasi subordinasi berkelanjutan I Bank BII tahap II tahun 2012 senilai Rp1 triliun.

Dijelaskan, obligasi berkelanjutan I Bank BII tahap II 2012 terdiri dari dua seri. Pertama, seri A bertenor 3 tahun dengan tingkat bunga tetap sebesar 7,06% per tahun dan nilai yang ditawarkan sebesar Rp980 miliar. Kedua, seri B bertenor 5 tahun dengan tingkat bunga tetap sebesar 8% dan nilai yang ditawarkan sebesar Rp1,02 triliun.

Sementara itu, obligasi subordinasi diterbitkan tanpa warkat bertenor 7 tahun dengan tingkat bunga tetap sebesar 9,25% per tahun. Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi berkelanjutan dan obligasi subordinasi tahap II akan digunakan untuk meningkatkn aset produktif dalam rangka pengembangan usaha perseroan, terutama dalam bentuk kredit.

Obligasi berkelanjutan BII telah memperoleh peringkat AA+ dari Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) dan AAA dari Fitch Ratings Indonesia. Sementara itu, obligasi subordinasi sama-sama memperoleh peringkat AA dari Pefindo maupun Fitch Ratings Indonesia.

BII menunjuk PT Bahana Securities, PT HSBC Securities, PT Indo Premier Securities, dan PT Kim Eng Securities sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi dan obligasi subordinasi BII. Masa penawaran umum obligasi tahap kedua ini adalah 24-25 Oktober 2012. (bani)

BERITA TERKAIT

PT Astra Modern Land Akan Luncurkan Township Asya - Investasi Bernilai Rp20 Triliun

PT Astra Modern Land Akan Luncurkan Township Asya Investasi Bernilai Rp20 Triliun NERACA Jakarta - PT Astra Modern Land akan…

PT Astra Modern Land Akan Luncurkan Township Asya - Investasi Bernilai Rp20 Triliun

PT Astra Modern Land Akan Luncurkan Township Asya Investasi Bernilai Rp20 Triliun NERACA Jakarta - PT Astra Modern Land akan…

Penjualan Ekspor SMGR Capai 1,38 Juta Ton

NERACA Jakarta – Hingga kuartal tiga 2017, penjualan ekspor PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatat pertumbuhan yang tinggi. Dalam siaran…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Bidik Lebih Banyak Investor Asing - BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

Bursa Berjangka Belum Optimal - Indonesia Defisit 2.500 Tenaga Pialang

NERACA Palembang – Mendorong Indonesia menjadi tuan di rumah sendiri dalam acuan harga komoditas dunia dan mensejahterakan para petani, merupakan…

Produksi TBS Milik Austindo Tumbuh 8%

NERACA Jakarta – Mulai pulihnya harga komoditas dunia, memberikan dampak berarti terhadap bisnis PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT). Pasalnya,…