Pasar Mobil Bekas Tak Terpengaruh Program Kendaraan Murah

Senin, 15/10/2012

NERACA

Jakarta - Potensi pasar mobil bekas diyakini masih cerah meskipun terjadinya penurunan harga jual beberapa model akibat munculnya produk mobil hijau dengan harga terjangkau melalu proyek pemerintah low cost and green car (LCGC).

Sugianto Sunaryo, Direktur Utama PT Bursa Mobil Gading, mengungkapkan animo para pemilik showroom mobil bekas masih tinggi dengan ditandainya pembukaan Bursa Mobil Gading di kawasan Kelapa Gading yang melibatkan hingga 109 pengusaha mobil bekas.

“Kami melihat pasar mobil bekas masih menyimpan potensi yang baik. Hal ini terlihat dari animo para pengusaha yang juga berasal dari luar kota hingga luar pulau Jawa untuk bergabung di sini dan juga dari masyarakat,” ujarnya, Minggu (14/10).

Di Bursa Mobil Kelapa Gading ini yang memiliki luas hingga 3,5 hektare, lanjutnya, akan memberikan pelayanan penjualan mobil baru, bekas, mobil impor hingga beragam aksesoris untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Namun hal berbeda diungkapkan oleh Dadan, tenaga penjualan mobil bekas PT. Murni Bangun Kencana, Klender, Jakarta Timur. Ia memaparkan penjualan mobil bekas di Jakarta pada pada Agustus 2012 mengalami penurunan dengan kisaran 50-70% dibandingkan tahun lalu. "Tahun ini penjualan kami benar-benar anjlok, jauh berbeda dengan tahun kemarin," kata Dadan.

Dia mengungkapkan pada tahun 2011 penjualan mobil bekas di Showroomnya bisa mencapai 30 unit per bulan. Namun, tahun ini rata-rata hanya 11 unit per bulan. Menurut Dadan, penurunan tersebut akibat penjual mobil baru banyak memberikan diskon yang besar.

Pengaruh Diskon

Sementara itu, Mohamad Nasir, staf penjualan PT. Kitra Nusantara, di kawasan yang sama, mengatakan penurunan penjualan mobil bekas dipicu oleh banyaknya penjual mobil baru dengan diskon yang besar serta pemberian uang muka yang kecil. "Showroom mobil sekarang banyak, dimana-mana, dan itu cukup berpengaruh bagi kami," ujarnya.

Selain itu, bagi Nasir berkurangnya pembeli mobil bekas dipengaruhi oleh penurunan perekonomian masyarakat di daerah."Kalau pendapatan masyarakat semakin besar, maka pembelian juga ikut meningkat, nah sekarang kita turun artinya ekonomi masyarakat juga lagi turun," katanya.

Sebagian besar konsumen mobil bekas, kata dia berasal dari daerah di luar Jakarta. Dia mengaku sampai Agustus 2012 ini mengalami penurunan penjualan hingga 70%. Ia berharap pemerintah meningkatkan pendapatan masyarakat baik di pusat maupun daerah.

Ditempat berbeda, Herjanto Kosasih, Senior Marketing Manager WTC Mangga Dua-perusahaan pengelola mal mobil bekas di Jakarta Utara mengungkapkan Indonesia International Motor Show 2012 (IIMS) yang berlangsung 20-30 September memberikan berkah para penjual mobil baru. Namun, ini berbanding terbalik dengan penjualan mobil bekas di Jakarta.

Lebih jauh lagi Herjanto mengatakan, meski IIMS hanya berlangsung 11 hari, penjualan mobil bekas turun hingga 10%. Euforia IIMS memang sangat dirasakan. Bahkan sebelum IIMS dimulai orang yang ingin membeli mobil bekas pilih menunggu. Mereka antusias dengan mobil-mobil terbaru.

Konsumen Indonesia sangat unik. Ini karena masyarakat lebih menyukai mobil baru yang mengarah pada gaya dan mode. Dampak IIMS, kata Herjanto, terlihat jelas beberapa jenis mobil bekas penjualannya menurun, tentunya yang model yang terbarunya muncul di IIMS. “Salah satunya Honda CR-V, masyarakat menunda membeli mobil SUV itu. Mereka memilih menunggu All New Honda CR-V di pameran,” kata Herjanto. Meski demikian, Herjanto mengaku tetap optimistis penjualan mobil bekas akan tetap tumbuh, seiring dengan pertumbuhan pasar otomotif nasional.

Sebelumnya, Tarsus Group, perusahaan jasa pameran mobil bekas asal Inggris memprediksi Indonesia akan menjadi pemasok mobil bekas dunia pada lima tahun mendatang. Ini tak lain karena tingginya penjualan mobil yang disokong oleh pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat tajam. "Indonesia akan memiliki pasar mobil bekas sangat besar," kata Group Managing Director Tarsus, Dauglas Emslie di Jakarta.