Kemenperin Fokus Kembangkan Industri Kakao

Senin, 15/10/2012

NERACA

Jakarta – Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun mengungkapkan industri kakao dapat menopang pertumbuhan industri nasional sebesar 8,5% di 2014. "Untuk mencapai target pertumbuhan industri 8,5 % pada tahun 2014, Pemerintah akan tingkatkan industri pengolahan kakao sebagai bagian dari industri berbasis sumber daya alam," kata Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun pada acara konferensi pers pencanangan Hari Kakao Indonesia di Jakarta, Jumat.

Selain itu, ujar Alex, pemerintah akan memberikan insentif fiskal seperti "tax allowance" bagi industri makanan berbasis cokelat. Sebagian besar biji kakao, menurut Alex, masih diekspor dalam bentuk biji mentah. Hal ini membuat nilai tambah produk olahan kakao banyak dinikmati negara lain.

"Pada tahun 2010, Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan bea keluar melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.011/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenai Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar. Dengan adanya kebijakan bea keluar, pasokan kakao di dalam negeri lebih terjamin," paparnya.

Pemerintah, lanjut Alex, meminta produsen kakao meningkatkan kinerja ekspor dengan membuat produk yang mempunyai nilai tambah. "Pada tahun lalu, jumlah pabrik pengolahan kakao sebanyak 16 unit usaha dan pada tahun 2015 diharapkan tumbuh menjadi 20 unit usaha. Bertambahnya pabrik kakao baru akan memengaruhi ekspor ke berbagai negara," ujarnya.

Kapasitas terpasang pabrik olahan kakao ditargetkan tumbuh dari 580.000 ton pada tahun 2011 menjadi 950.000 ton pada tahun 2015.

Sementara itu, dari data Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) volume ekspor biji kakao pasar September 2012 mengalami lonjakan 64% dibanding bulan sebelumnya Agustus 2012. Pasalnya, permintaan kakao dari pasar ekspor meningkat, yakni untuk persiapan perayaan Natal dan tahun baru. Kebetulan serapan biji kakao dari industri pengolahan dalam negeri juga menurun.

Selain itu, ekspor biji kakao pada September 2012 mencapai 21.024,56 metrik ton (MT), naik 64% dibandingkan Agustus 2012 sebesar 4.568,42 MT. Bila dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, ekspor biji kakao pada September 2012 naik 37%.

Industri Coklat

Firman Bakrie, Sekretaris Eksekutif Askindo mengatakan, industri pengolahan cokelat dalam negeri memang sedang menurunkan pembelian. Alasannya, pada kuartal I dan kuartal II tahun ini industri pengolahan kakao lokal telah banyak membeli biji kakao karena harga relatif murah. Untungnya, menurut Firman, permintaan cokelat pada akhir tahun juga meningkat.

Menurut Firman, hingga semester I-2012 harga kakao dalam negeri berada dikisaran Rp 17.000 per kg. Namun sejak September 2012, harga kakao meningkat 17,6% menjadi Rp 20.000 per kg. Dengan kenaikan harga itu, dia memperkirakan volume ekspor biji kakao sampai akhir tahun relatif stabil.

Pieter Jasman, Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) bilang, tingginya ekspor biji kakao pada September 2012 lebih karena masuknya musim panen. "Saat ini dibeberapa daerah masih musim panen," katanya.

Apalagi, berdasar perhitungan AIKI, produksi biji kakao dalam negeri melebihi kebutuhan industri. Tahun ini produksi kakao dalam negeri diproyeksi mencapai 500.000 ton, sementara kebutuhan untuk industri pengolahan sebanyak 400.000 ton. Tidak hanya eskpor biji kakao yang naik, ekspor kakao olahan juga mengalami peningkatan.

Data Kementerian Perdagangan (Kemdag) menunjukkan, volume ekspor kakao olahan pada Januari-Juli 2012 mencapai 121.000 ton, naik 37,5% dibandingkan periode sama 2011 sebesar 88.000 ton. Volume ekspor akan semakin besar lagi karena adanya ekspansi pasar sejumlah perusahaan pengolahan kakao, seperti PT Bumitangerang Mesindotama. Perusahaan ini berniat melakukan eskpansi bisnis ke Serbia untuk bisa mengekspor kakao bubuk. "Tahun depan kita harapkan dapat dilakukan," kata Piter.