Mendag Apresiasi Akses Ekspor Buah Manggis ke Australia

Senin, 15/10/2012

NERACA

Jakarta - Beberapa isu perdagangan yang menjadi perhatian antara Indonesia dengan Australia, dalam rangka upaya menyelesaikan isu-isu perdagangan tersebut, Indonesia dan Australia akan mengoptimalkan forum-forum bilateral.

Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan menyampaikan, apresiasinya atas perkembangan akses buah manggis Indonesia ke pasar Australia. Indonesia mengharapkan hal yang sama dapat dilakukan terhadap produk buah tropis Indonesia lainnya, terutama mangga dan salak.

Selain itu, pembahasan mengenai kebijakan pelarangan kayu ilegal (Illegal Logging Prohibition Bill) dan kebijakan kemasan polos tembakau (Tobacco Plain Packaging Bill) akan berdampak negatif terhadap Indonesia. Gita berharap, pembahasan rancangan undang-undang tersebut dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Australia.

“Untuk Tobacco Plain Packaging Bill, kita menegaskan keikutsertaan Indonesia sebagai pihak ketiga bersama 23 negara lainnya dalam proses konsultasi di WTO antara Ukraina dan Australia. Sementara itu, terkait Illegal Logging Prohibition Bill, pesan kita sangat jelas yakni agar SVLK yang kita terapkan dan akan segera diakui oleh Uni Eropa juga dipertimbangkan oleh Pemerintah Australia sehingga importir produk berbasis kayu Indonesia di Australia tidak selalu harus melalui proses ‘due dilligence’ yang ketat,” tegas Gita melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Minggu (14/10).

Namun sebaliknya, Menteri Perdagangan Australia Craig Emerson menyampaikan, perhatiannya terhadap peraturan impor produk holtikultura di Indonesia, divestasi pelarangan ekspor bahan mentah produk tambang, dan iklim perdagangan dan investasi di Indonesia. Kedua menteri sepakat untuk menyelesaikan berbagai isu perdagangan tersebut melalui berbagai jalur komunikasi yang tersedia.

Pada pertemuan tingkat menteri Indonesia-Australia ke-10 di Canberra, akhir pekan kemarin. delegasi Australia menyampaikan beberapa hal yang menjadi perhatian mereka, salah satunya adalah isu produk sapi, dimana 10.050 ekor sapi masih tertahan di wilayah karantina Lampung dan Tangerang. Pihak Australia mengharapkan masalah ini dapat segera diselesaikan.

Terkait dengan perkembangan perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), perwakilan Business Partnership Group (BPG) Indonesia-Australia menyampaikan dukungannya atas perundingan tersebut yang didasarkan pada studi pelingkupan yang sedang dilakukan.

”Kita sepakat dengan laporan sementara BPG bahwa CEPA yang kita rundingkan dengan Australia seyogyanya bukan sekadar sebuah FTA dalam pengertian konvensional, tetapi lebih sebagai platform kemitraan yang lebih dalam dan luas bagi kedua negara untuk bermitra sebagai dua ekonomi terbesar di kawasan ini,” jelas Gita.

Ekspor Meningkat

Ekspor Indonesia ke Australia selama kurun waktu 2006-2010 meningkat 8,47%. Ada tiga produk ekspor yang mengalami kenaikan cukup tinggi di tahun 2010, yaitu emas (termasuk plat emas dengan platinum) sebesar 27,40%, piranti penerima sinyal untuk televisi 52,21%, dan kayu 17%. Australia saat ini merupakan negara tujuan ekspor ke-15 besar bagi Indonesia.

Sementara itu, impor Indonesia dari Australia selama 2006-2010 juga meningkat 7,98%. Tiga produk impor yang juga meningkat signifikan pada 2010 adalah gandum dan meslin sebesar 20,29%, live bovine animals 41,93%, dan cotton, not corded or combed 9,99%. Australia adalah negara pengimpor ke-8 terbesar bagi Indonesia.

Di bidang investasi, Australia berpartisipasi di sekitar 14 proyek di Indonesia dengan arus investasi sebesar sekitar US$196,4 miliar pada semester pertama tahun 2010. Sebagian besar investor Australia berminat pada sektor pertambangan, konstruksi dan pendidikan.