Implikasi Krisis Spanyol di Bursa

Senin, 15/10/2012

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Krisis utang Spanyol yang kini meluas menjadi krisis multidimensi itu menempatkan negara itu pada posisi dilematik. Di satu sisi, untuk mengantisipasi ancaman defisit anggaran lebih dari 60 miliar euro (sekitar US$78 miliar) atau 6,3% dari pendapatan domestik bruto (PDB) 2013 Spanyol perlu bailout (dana talangan) Mekanisme Stabilitas Eropa (EMS). Bank Sentral Eropa (ECB) telah berkomitmen memborong surat utang negara (SUN) penerima bailout. Meski total kebutuhan dana bagi Spanyol saat ini mencapai 207,173 miliar euro ditambah 59,3 miliar euro dana rekapitalisasi bank-bank bermasalah, tetapi perkiraan dana talangan bagi Spanyol yang disetujui parlemen Jerman hanya 100 miliar euro (US$129 miliar).

Di sisi lain, permohonan bailout itu memiliki konsekuensi persyaratan pengetatan anggaran (austerity program). Kendati hingga kini pemerintah Spanyol belum memberi kepastian pengajuan bailout, tetapi pada 29 Sept. PM Mariano Rajoy sudah mengumumkan kebijakan pengetatan anggaran 2013 yang menghemat sekitar 13 miliar euro (Rp 160,1 triliun) dengan memangkas gaji di sektor publik, pengeluaran kesehatan, layanan sosial, dan pendidikan. Kebijakan itu menyulut kemarahan rakyat dengan melakukan aksi protes anti penghematan melalui unjuk rasa besar-besaran turun ke jalan di Madrid yang berujung pada bentrok antara rakyat dan polisi. Intinya, dengan kebijakan itu pemerintah Spanyol menghadapi tekanan politik luar biasa dari pihak oposisi dan rakyat Spanyol.

Pada mulanya keraguan pemerintah Spanyol meminta bailout ke ECB itu menebar kecemasan ke semua bursa dunia yang cenderung melemah di pekan terakhir ini. Akan tetapi keberanian PM Mariano Rajoy dalam merealisasikan austerity program sebagai syarat utama permohonan bailout yang penuh tantangan tersebut ternyata mendapat apresiasi pasar sebagai sentimen positif. Implikasinya, hampir semua indeks bursa saham di dunia meskipun berfluktuasi namun cenderung bergerak naik selama dua pekan pertama Oktober 2012.

Akhir pekan lalu (12/10) hampir semua bursa terkemuka dunia serentak bergerak naik mengabaikan pemangkasan peringkat kredit Spanyol oleh Standard & Poor`s (S&P) dari BBB+ menjadi BBB-. Indeks acuan FTSE 100 perusahaan terkemuka di London naik 0,92%; indeks Dax 30 Frankfurt +1,06%; indeks CAC Paris +1,42%; Dow Jones Industrial Average +0,19%; S&P 500 +0,42%; Nasdaq +0,26%. Kejutan lainnya, Indeks IBEX 35 di Madrid sendiri naik 0,87%.

Pada waktu yang sama (12/10), Hang Seng Hong Kong +0,65%; KOSPI Korea Selatan +0,01%; Straits Times Singapura +0,46%; S&P/ASX 200 Australia +0,07%; dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri meskipun relatif stagnan selama 4 hari pertama akhirnya pada 12/10 mengalami kenaikan sebesar 26.42 poin (0,62%) dari 4284.967 (11/10) menembus rekor tertinggi kedua sebesar 4.311,391 atau naik tipis 0,08 poin dari rekor tertinggi sebelumnya (5/10) di level 4.311,314.