Solusi Krisis Berkepanjangan

Filsafat Islam

Sabtu, 27/10/2012

Evolusi ilmu pengetahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang menuntut untuk berpikir holistik, sistemik, dan reflektif dalam memahami realitas dan memecahkan problem-problem besar yang diakibatkannya. Untuk itulah filsafat Islam ada.

NERACA

Carut marutnya dunia pendidikan Indonesia telah memporak-porandakan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Paradigma pendidikan Indonesia saat ini cenderung fragmentaris dan pragmatis, sehingga hanya melahirkan generasi yang bercara pandang sesaat.

Akibatnya, pendidikan yang seharusnya berperan untuk memberikan solusi sebagai jawaban atas segala permasalahan yang ada, hanya menjadi ajang bagi menjamurnya budaya koruptif, manipulatif, dan komersialis.

Padahal, dalam menjalankan fungsinya, pandidikan bukan hanyatransfer of knowledgetetapi jugatransfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi penolong bagi umat manusia. Tidak hanya di bidang pendidikan, berbagai bidang lain kehidupan manusia, entah itu ekonomi, politik, sosial, apalagi keagamaan pun disuguhi dengan persoalan-persoalan yang tak kunjung henti.

Lantas apa penyebab atau akar masalah dari semua krisis ini? Kapan semua krisis ini akan berakhir? Dan bagaimana kita menyelesaikan semua persoalan yang ada?

Dalam rangka menjawab permasalahan krisis yang tidak berkesudahan dan sangat kompleks tersebut, diperlukanlah pembelajaran filsafat Islam untuk menggali suatu paradigma holistik dan menemukan metodologi pendidikan kritis ala filsafat Islam.

Dalam hal ini, filsafat Islam sesungguhnya sudah memiliki berbagai rumusan yang apabila dipelajari dan dikontekstualisasikan, dapat memberikan solusi dari berbagai persoalan yang ada.

Para penekun kebijaksanaan yang pernah lahir dalam sejarah, seperti Ibnu Sina, al Ghazali, al Farabi, Ibnu Khaldun dan lain sebagainya, adalah sosok-sosok yang berhasil menyelesaikan berbagai krisis pada saat mereka hidup.

Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran ilmu yang sifatnya relatif.

Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang biasa diamati hanya sebagian kecil saja. Diibaratkan mengamati gunung es, kita hanya mampu melihat yang di atas permukaaan laut saja.

Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai ke dasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan perenungan yang kritis.

Ketua Dewan Penyantun Sekolah Tinggi Filsafat Indonesia (STFI) Sadra, Prof. Dr. KH Umar Shihab mengatakan bahwa filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Filsafat tidak saja mempelajari teori, tapi juga sistematika ilmu pengetahuan. Dengan mempelajari filsafat, manusia dapat mengetahui hal-hal yang tidak diketahui sebelumnya.

Mengutip pendapat Ibnu Miskawih seorang filsuf Muslim abad ke-10 Masehi, Umar Shihab mengatakan bahwa mempelajari filsafat adalah sesuatu yang wajib mutlak. Sebab orang yang tidak mempelajari filsafat dapat terjerumus kepada dunia yang bersifat materialistis.

”Al Qur’an juga tegas meminta umat Islam untuk belajar dan mengajar,” katanya.

Filsafat Islam dapat memberikan kontribusi penting dengan menawarkan pandangan dunia yang utuh, holistik, dan penuh makna kepada manusia modern, baik dalam kajian etika, kosmologi, epistemologi, metafisika, dan psikologi yang merupa­kan manifestasi nilai tauhid.

Dalam sifat-sifatnya yang seperti inilah diharapkan manusia dapat memperoleh kembali pegangan hidup, yang pada saat yang sama, manusia dapat memuaskan tuntutan-intelektualnya.

Dalam Filsafat Islam, sumber ilmu tidak hanya diakui melalui pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi rasional dan pengalaman mistik. Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai sumber-sumber ilmu yang sah.

Filsafat Islam juga tidak hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode Burhani, untuk meneliti entitas-entitas yang bersifat abstrak.

Irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan menyaksikan secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa dianalisa lewat akal, dan terakhir Bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks suci, seperti al-Qur’an dan Hadits.

Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui keabsahan observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumber-sumber yang sah dan penting bagi ilmu.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Filsafat Islam adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hakekat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya filsafat Islam itu adalah filsafat yang berorientasi kepada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.