Filsafat Bimbing Pengusaha ke Bisnis yang Sukses

Sabtu, 27/10/2012

NERACA

Kemampuan berkreasi dalam menjawab kebutuhan bisnis hanya akan timbul melalui proses pemikiran yang mendalam, dan kemampuan itu hanya dimiliki oleh seorang pengkaji studi filsafat. Secara umum, filsafat tidak dianggap sebagai sebuah disiplin ilmu yang praktis. Kebanyakan dari orang tua mahasiswa yang anaknya memilih mempelajari filsafat berulang kali menerima keraguan dari masyarakat mengenai prospek masa depan seorang lulusan filsafat dalam dunia kerja. Di Negara maju yang tingkat penyebaran entrepreneurshipnya sudah pesat pun, masih banyak anak muda yang harus menyerah pada kenyataan dan menjadi lebih pragmatis dengan meninggalkan impian mereka dalam mempelajari filsafat dan beralih ke bidang hukum, pemerintahan, keuangan, penerbitan atau medis sebagai sandaran hidup. Namun, tetap saja tak banyak yang memilih entrepreneurship sebagai salah satu alternatifnya. Salah satu paradigma yang berkembang dewasa ini, orang cenderung menganggap bahwa filsafat tidak memiliki peluang yang menjanjikan dalam bisnis. Hal ini dibantah oleh cendekiawan muslim yang ahli di bidang filsafat Islam, Dr. Haidar Bagir. Justru menurut dia, kebanyakan pebisnis handal dunia merupakan seseorang yang menyukai ilmu filsafat. Unsur penting yang harus dimiliki oleh seseorang untuk menghadapi dunia bisnis adalah memiliki kemampuan analisa yang kuat, dimana keberhasilan bisnis sangat erat kaitannya dengan tingkat kreativitas. Kemampuan berkreasi untuk dapat memprediksikan kebutuhan-kubutuhan pasar yang akan datang ini hanya akan timbul melalui proses pemikiran yang mendalam, dan semua itu menurut Haidar biasanya dimiliki oleh seorang pengkaji studi filsafat. Sebab, katanya, ilmu filsafat mengajarkan kemampuan untuk membaca realitas secara mendalam. Hasilnya, mereka yang menyukai filsafat akan memiliki kemampuan analisa yang kuat. Dan itu merupakan unsur penting untuk menghadapi dunia bisnis. Banyak karya-karya yang bisa untuk dijadikan inspirasi bahwa dengan filsafat seseorang bisa menjadi pengusaha sukses. Dalam sebuah buku berjudulIf Aristotle Ran General Motor3 karangan Tom Morris. Buku ini mendemonstrasikan betapa kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno Aristoteles bisa membimbing seorang pengusaha kepada kesuksesan bisnis. Lebih jauh dari itu, dua penulis lain, Gay Hendricks dan Kate Ludeman, dalam buku-keduanya yang berjudulThe Corporate Mystic menyebutkan bahwa di antara 11 karakter pengusaha dan eksekutif sukses di AS adalah spiritualitas dan pengetahuan diri. Spiritualitas, seperti yang akan dibahas dalam judul berikut, adalah juga ciri filsafat, khu­susnya filsafat Islam. Sebelum ini, kita pun telah banyak disuguhi oleh penerapan pikiran-pikiran filosofis, seperti Taoisme, Buddhisme termasuk Zen, bahkan “filsafat perang” Sun Tzu dalam meraih kesuksesan dalam bisnis. Sudah lama juga kita tahu bahwa banyak pengusaha dan eksekutif sukses adalah para penikmat karya sastra dan novel-novel serius. Mereka mengaku telah banyak menimba pelajaran-pelajaran berharga yang membimbing mereka dalam menjalankan kepemimpinan bisnis mereka dari karya-karya sedemikian. Melihat banyak fakta bahwa filsafat dapat mencetak pengusaha-pengusaha sukses yang tidak sedikit jumlahnya, maka jangan ada ketakutan bagi mahasiwa filsafat tidak akan mendapatkan kerja. Jadi Filsafat! Kenapa tidak?